Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Bali Jadi Tempat Wisata Seks Favorit Bagi Kaum Phedofilia

Rabu, 7 Maret 2018, 15:45 WITA Follow
Beritabali.com

Beritabali.com/mul

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Beritabali.com, Denpasar. Bali kini telah menjadi tempat wisata seks favorit bagi kaum phedofilia. Buktinya cukup banyak yang datang ke Bali hanya untuk melakukan wisata seks dan menjadikan anak-anak sebagai korban. Hal tersebut diungkapkan Ketua Lembaga Bantuan Hukum Anak Srikandi Bali, Siti Sapurah, SH dalam keteranganya pada diskusi tentang Kasus-Kasus Kekerasan Seksual di Bali yang digelar di Renon-Denpasar pada Rabu (7/3).

[pilihan-redaksi]
Bukti yang menunjukkan Bali sebagai surga bagi para phedofil juga dapat dilihat dari kasus-kasus yang ada selama ini, seperti yang terjadi di Karangasem dan Serangan. Dimana belasan anak-anak disodomi oleh warga negara asing yang datang ke Bali dengan alasan berwisata. “Waktu 2010 seorang phedofil sampai berani menulis di websitenya  dia, bahwa Bali adalah surga bagi phedofilia , menyakitkan sekali kan?” ujar Siti Sapurah yang lebih sering dipanggil Ipung.

Menurut  Siti Sapurah, terdapat beberapa alasan yang menyebabkan para phedofil menjadi Bali sebagai tempat wisata seks. Alasan tersebut diantaranya karena masyarakat Bali yang ramah, penegakan hukum yang tidak maksimal, aparat penegak hukum yang tidak terlalu peduli dengan korban dan sikap masyarakat yang tidak peduli dengan anak orang.

Belum lagi para agen wisata para phedofil yang ada di Bali sangat melindungi para phedofil. “ini harusnya ada pemeriksaan yang intensif dari pemerintah terhadap agen-agen ini, banyak orang asing sampai berulang kali datang ke Bali dan tidak tahu apa pekerjaannya” tegas Siti Sapurah.

Para phedofil selama ini sangat nyaman dan leluasa dalam melakukan aksinya di Bali. Apalagi banyak villa yang kini berdiri hingga ke pelosok kampung. Padahal banyak warga negara asing yang mengajak anak-anak keluar masuk villa dan justru tidak ada pengecekan. “Selama ini masyarakat cenderung diam, anak dikasi uang dolar kita senang, dikasi sepeda kita senang, sedangkan apa tujuannya kita tidak tahu” papar Siti Sapurah.

Siti Sapurah mengaku sangat menyayangkan karena kasus-kasus seperti ini tidak mendapatkan perhatian dari pelaku pariwisata. “Harusnya dilihat, benerkah warga negara asing tersebut datang untuk pariwisata atau justru untuk wisata seks” jelas Siti Sapurah.

Kasubdit 4 Ditreskrimum Polda Bali Sang Ayu Putu Alit Saparini berharap masyarakat, khususnya orang tua agar tidak membiarkan anak dengan bebas pergi dengan orang asing. Apalagi sekarang banyak warga asing yang suka masuk ke desa-desa dengan alasan berwisata. “Orang asing itu tidak semua beritikad baik, tetapi ada juga yang datang untuk mencari korban anak-anak” papar Saparini.

[pilihan-redaksi2]
Saparini menegaskan selama ini kasus pengungkapan kekerasan terhadap anak dan kasus-kasus anak yang menjadi korban phedofil sangat sulit untuk diungkap karena ada beberapa tantangan. Tantangan tersebut diantaranya adanya keengganan dari korban untuk melapor, keengganan untuk menjadi saksi, kurangnya pemahaman masyarakat bahwa apa yang dilakukan pelaku melanggar hukum dan korban cenderung tidak kooperatif dalam memberikan keterangan.

Saparini mengungkapkan bahwa dalam 3 tahun terakhir kasus kekerasan anak yang melibatkan orang asing mengalami penurunan. Penurunan terjadi karena adanya aturan dari beberapa negara salah satunya Australia yang mewajibkan warganya yang terlibat kasus phedofilia harus melaporkan diri jika hendak berwisata. Begitu juga untuk yang terlibat dalam kasus phedofilia berat terdapat kebijakan dari pemerintah Australia berupa pencabutan paspor. “Bisa juga ada yang lolos, karena mereka bisa masuk ke Bali bukan dari Australia tetapi melalui negara lain” tegas Saparini.

Saparini mengingatkan yang perlu diwaspadai adalah perubahan cara yang dilakukan oleh para pelaku yaitu dengan menggunakan media sosial. Mengingat besar kemungkinan para pelaku tersebut akan menyamar dan membuat identitas palsu sebagai anak-anak. Dengan identitas palsu tersebut para pelaku akan merayu dan meminta anak-anak mengirimkan foto-foto diri yang mengarah pada foto porno. [bbn/mul]

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/mul



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami