Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Senin, 26 Oktober 2026
Memprihatinkan, Pencaharian Karta Andalkan "Nyebit Tiing" dan Minum Air Hujan
Minggu, 3 Juni 2018,
17:15 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, KARANGASEM.
Beritabali.com,Karangasem. Pasca diturunkannya status Gunung Agung ke Level III siaga, warga yang berada diluar radius 4 kilometer bisa bernafas lega karena bisa beraktivitas seperti biasa dirumahnya.
[pilihan-redaksi]
Kendati mereka senang bisa kembali ke rumah, justru muncul masalah baru terutama bagi warga yang sehari-hari menggantungkan hidupnya dari hasil kebun dan ternak karena sepulang dari pengungsian di Gor Swecapura Klungkung 3 bulan silam kondisi perekonomian semakin tidak jelas.
Kendati mereka senang bisa kembali ke rumah, justru muncul masalah baru terutama bagi warga yang sehari-hari menggantungkan hidupnya dari hasil kebun dan ternak karena sepulang dari pengungsian di Gor Swecapura Klungkung 3 bulan silam kondisi perekonomian semakin tidak jelas.
Seperti yang diungkapkan oleh salah satu warga, Desa Sebudi yang bermukim di wilayah Alas Kepasekan, I Wayan Karta. Dua ternak sapi yang menjadi harapan terpaksa dijual dengan harga yang sangat murah pada saat masa masa krisis Gunung Agung.
Bermaksud untuk kembali memulai berternak, namun apa daya uang dari hasil penjualan 2 ekor sapinya tersebut sudah habis dipakai saat mengungsi, meskipun tersisa, hasil penjualannya pun tidak akan cukup untuk membeli satu ekor anakan bibit sapi.
"Dulu Sapi padahal sudah ditawar Rp10 juta tapi tidak saya jual, begitu status naik warga pada ngungsi tidak ada jalan lain sapi saya jual dengan harga 2 juta," kata Karta.
Kini, untuk tetap menyambung hidup, Karta yang tinggal seorang diri di bangunan rumah 4 x 6 meter dengan dua buah ruangan sumbangan dari Kedesaan, sehari-hari mengais rupiah dengan cara "nyebit tiying" atau memecah batang bambu menjadi beberapa bagian lalu dipilah dan dibersihkan untuk dibuat menjadi bahan baku "bedeg" ( anyaman bambu).
Hasil sebitannya nanti, akan dijual ke pengepul di daerah Dusun Muntig, Selat, Karangasem dengan harga Rp.10 ribu permeter perseginya. Proses pembuatannya sendiri terbilang cukup rumit karena harus dibelah beberapa kali hingga tipis dan lentur sehingga mudah dianyam.
[pilihan-redaksi2]
Dalam sehari, Karta hanya mampu menggarap 1 batang bambu dimana untuk satu batang bambu berukuran sedang hanya bisa menghasilkan 1 meter persegi baham jadi saja atau jika dihitung dengan harga jual hanya menghasilkan Rp. 10 ribu saja.
Dalam sehari, Karta hanya mampu menggarap 1 batang bambu dimana untuk satu batang bambu berukuran sedang hanya bisa menghasilkan 1 meter persegi baham jadi saja atau jika dihitung dengan harga jual hanya menghasilkan Rp. 10 ribu saja.
Tidak hanya dibidang ekonomi, kondisi Karta juga dipersulit dengan susahnya mendapatkan air bersih. Untuk kebutuhan minum sehari hari, Karta menggunakan air hujan yang dimasak itu pun air yang didapat dari tetangganya yang punya cubangan tempat menampung air hujan.
"Sulit cari air, untuk minum pakai air hujan yang dimasak itupun minta dari tetangga, kalo bisa semoga pemerintah bisa memberikan bantuan cubang untuk menampung air," ujarnya.
Selain itu, Karta juga berharap di tengah kesulitan ini, agar pemerintah bisa memperhatikan paling tidak bisa dibantu permodalah untuk membeli bibit ternak khususnya bagi warga yang memang benar-benar membutuhkan. (bbn/igs/rob)
Berita Premium
Reporter: -
Berita Terpopuler
01
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5851 Kali
02
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4604 Kali
03
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2569 Kali
04
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2212 Kali
05
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2198 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Kamis, 8 Oktober 2026
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Sabtu, 3 Oktober 2026
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026