Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID: —


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Ketergantungan "Like" Berdampak Sulit Mengekspresikan Diri Tanpa Medsos

Sabtu, 16 Juni 2018, 15:00 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/tedi soebandi/ilustrasi

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Beritabali.com,Denpasar. Psikolog Elicia Dewianti menuturkan jika seseorang bergantung pada 'like' secara jangka panjang, bisa mengakibatkan kesulitan dalam mengekspresikan diri tanpa bantuan media sosial. Bahkan memberi efek kesepian jika jumlah like tidak cukup. 
 
[pilihan-redaksi]
Ia mengamini bahwa jumlah 'like' pada media sosial dapat memengaruhi kepercayaan diri seseorang. Karena itu, para pengguna jasa penambah 'like' tidak keberatan untuk membayar penyedia jasa sebagai bentuk dukungan untuk ekspresi dirinya sendiri. Menurutnya, seseorang dapat merasa jumlah perhatian yang diperolehnya meningkat saat media ekspresinya diberikan respon positif. Artinya, 'like' dapat memunculkan kepuasan emosional bagi pengguna media sosial.
 
Fitur like menjadi salah satu fitur yang nyaris bisa ditemui pada seluruh media sosial. Bagi sebagian besar pengguna, fitur yang sering dilambangkan dengan simbol hati atau ibu jari ini menjadi sangat penting. Bahkan, penelitian dari University of California Los Angeles menunjukkan perasaan seseorang yang mendapat notifikasi like di media sosial memiliki persamaan dengan perasaan seseorang saat mendapatkan hadiah.
 
Kebutuhan akan like di media sosial ini selanjutnya memunculkan usaha unik, yakni jasa penambah 'like'. Bentuk usaha ini menawarkan jasa untuk menambahkan 'like' pada suatu postingan sesuai permintaan pengguna jasa.
 
Draudi Sentanu, salah satu pengguna jasa penambah like, mengaku bahwa dirinya merasa lebih puas setelah postingannya memiliki jumlah 'like' yang banyak. Meski tidak merasakan dampak yang terlalu signifikan dalam kehidupan sosialnya, Draudi berencana akan tetap mengunakan jasa penambah like.
 
“Saya sangat suka posting hal yang saya suka gitu di Instagram. Puas aja kalau buatan saya itu yang suka banyak,” kata Draudi belum lama ini.
 
[pilihan-redaksi2]
Pada akun-akun media sosial yang bukan milik pribadi, jasa penambah 'like' sering digunakan untuk menunjang kegiatan promosi maupun penyebaran informasi. Misalnya akun terkait bisnis dan politik.
 
Sebetulnya media sosial, contohnya Instagram, memiliki fitur yang cukup membantu untuk mempopulerkan postingan. Fitur tagar (#) misalnya. Dengan menggunakan tagar, pengguna media sosial dapat berbagi informasi pada pengguna yang memiliki minat pencarian sama dengan lebih luas.
 
Hanny Handayani, pengguna media sosial yang tidak menggunakan jasa penambah like, mengungkapkan, pemanfaatan fitur tagar sangat mungkin menambahkan like pada postingan. Suatu postingan bisa jadi populer saat konten dari postingan tersebut memiliki kualitas yang baik. (bbn/FisipUnud/rob)
Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/rls



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami