Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Ebatan Seselaman Sebagai Bentuk Sajian Kuliner Bermakna Toleransi di Bali

Minggu, 24 Juni 2018, 14:55 WITA Follow
Beritabali.com

Beritabali.com/Cantrang-ers

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Beritabali.com, Denpasar. Berbicara toleransi di Bali bentuknya tidak hanya prilaku dan perkataan, tetapi juga sajian makanan yang bernama ebatan seselaman. Ebatan seselaman merupakan sajian lauk pauk yang dibuat dari daging cincang, dimana dagingnya tidak menggunakan daging babi. Sebagai pengganti daging babi menggunakan daging ayam, bebek, ataupun kambing. Bentuk sajian makananya juga tidak hanya lawar tetapi juga sate.

[pilihan-redaksi]
“Seselaman berasal dari kata Selam dan mendapatkan akhiran an. Yang artinya kira-kira seperti yang dibuat, digunakan, dimakan oleh umat Islam. Ebatan seselaman itu untuk tamu selam atau yang dijamu makan berbeda keyakinan, juga untuk Semeton Bali yang tidak makan daging babi alias tan keni” kata Dosen Sastra Bali dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana I Gde Nala Antara saat dikonfirmasi di Denpasar pada Minggu (24/6).

Menurut Nala Antara, ebatan seselaman biasa disajikan pada jamuan makan  atau magibung saat ada hajatan. Ebatan seselaman ini diperkirakan ada setelah Islam masuk Bali, khususnya di wilayah Karangasem yang tetap lestari hingga kini. Ebatan seselaman tidak hanya untuk disajikan bagi tamu yang berbeda keyakinan tetapi juga tidak jarang dalam pembuatannya juga melibatkan umat yang berbeda keyakinan tersebut.

Nala Antara yang juga kini menjabat sebagai Direktur BASAbali WIKI membenarkan bahwa ebatan seselaman sangat erat kaitannya dengan upaya masyarakat Bali untuk membangun toleransi dengan umat beragama lain melalui sajian makanan. Apalagi maksud penyediaan ebatan seselaman memang untuk dihidangkan untuk tamu atau saudara yang berbeda keyakinan. Namun dalam perkembangannya kini ebatan seselaman telah berkembang menjadi sebuah bisnis kuliner.

Chef The Kayon Resort Ubud Edi Karditha mengakui bahwa ebatan seselaman sangat potensial untuk dikembangkan sebagai sebuah bisnis kuliner di Bali. Salah satunya sajian lawar ataupun sate dengan daging bebek ataupun kambing. Apalagi selama ini sajian lawar utamanya sangat identik dengan penggunaan daging babi.

“Cuma dari segi kalkulasi harga bisa sedikit lebih mahal, apalagi kalau disajikan di hotel, karena kalau di hotel pastinya harus menggunakan bahan utama yang bagus atau pilihan untuk disajikan ke tamu, karena setiap hidangan yang disajikan ke tamu menjadi jembatan menjaga nama baik dari hotel tersebut” jelas Edi.

Edi menuturkan bisnis lawar bebek ataupun kambing bisa jadi menjadi terobosan kreasi baru di dunia kuliner. Apalagi dalam lawar ditambahkan merica hijau yang masih segar, maka harga akan sebanding dengan rasa.

Edi menambahkan penyajian ebatan seselaman dapat menjadi salah satu jalan dalam membangun tolerasi yang lebih erat di Bali. Pada sisi lain juga dapat menjadi jalan untuk memperkenalkan bahwa tidak semua sajian makanan di Bali haram karena mengandung dading babi.

“Tidak semuanya haram daqn pastikan harus ada rasa saling percaya pada pengolahnya. Misalkan kalau kita bikin acara menyajikan lawar kambing, dari pihak yang tidak suka babi harus percaya bahwa itu tidak ada unsur babinya, dan pihak penyaji bisa memberikan garansi kalau hidangan tersebut tidak ada unsur babinya,” ungkap Edi.

Salah Satu umat Muslim yang sudah lama tinggal di Bali Kicuk Bahariawan mengakui sudah beberapa kali mencoba sajian lawar kambing di daerah Nusa Dua. Ia telah berulangkali menikmati sajian lawar kambing bersama rekan kerjanya. Walaupun pada awalnya sedikit ragu tetapi kegemarannya mencoba kuliner baru membuat dirinya tertantang mencoba mencicipi lawar kambing.

“Lawar di benak saya dahulu itu ada darahnya atau lawar merah, itu yang membuat saya tidak terlalu suka. Kalau untuk mencoba karena memang saya suka mencoba makanan baru. Awal mencoba karena ada makanan pendamping. Kemarin di Nusa Dua, lawar kambing dan sate kambing. Namun pemikiran orang biasanya lawar itu babi”ucap pria lulusan Fisika Universitas Udayana tersebut.

Kicuk mengungkapkan toleransi di Bali menjadi sangat lengkap dengan hadirnya sajian kuliner Bali yang menggunakan bahan daging selain Babi. Mengingat selama ini toleransi di Bali sangat dikenal karena tindakan dan perkataan orang Bali yang mencerminkan toleransi tinggi. Belum lagi Bali telah berkembang menjadi tempat bertemunya orang dari berbagai belahan dunia.

“Di Bali penduduk pendatang dari berbagai wilayah di Indonesia. Hub-nya ada di Bali, dari NTT, dari Jawa dan Sumatera dating ke Bali. Terlihat dari banyak wadah perkumpulan masyarakat di Bali, seperti Banyuwangi, Manggarai, Jakarta, Solo dan lain-lain” beber pria kelahiran Surabaya, 19 Mei 1980.

[pilihan-redaksi2]
Kicuk menegaskan dengan munculnya sajian kuliner Bali yang tidak menggunakan daging babi, tidak saja membuat klaim haram pada sajian seperti lawar menjadi pudar tetapi juga semakin membuat kuliner Bali makin dikenal. Harus diakui juga cukup banyak kuliner Bali yang sudah dikenal di dunia internasional.

“Karena pilihan makanan sudah banyak sekali, makanan Bali juga sudah banyak go internasional. Sambal matah, pia legong, pie susu, ayam betutu, tipat santok rujak kuah pindang hingga mujair nyat-nyat” ungkap pria yang punya hobi traveling.

Sedangkan pemerhati budaya Bali Made Nurbawa menyampaikan ebatan seselaman pada dasarnya merupakan mebat atau membuat sajian lauk pauk seperti saudara Muslim. Filosofinya sama dengan mengolah daging atau ngelawar tetapi tidak menggunakan daging babi. Ebatan seselaman menjadi bermakna toleransi karena toleransi menurut Bali adalah Tat Twam Asi.

“Tidak hanya manusia dengan manusia , tetapi juga dengan binatang dan tumbuhan. Mengolah atau memotong hewan dan tanaman dengan benar saat mebat juga termasuk penghormatan. Jadi toleransi adalah bentuk penghormatan terhadap semua mahluk,” tegas pria satu putri tersebut.

Nurbawa yang merupakan mantan Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Bali menegaskan masyarakat Bali pada dasarnya sudah sejak dahulu telah menerapkan hidup bertoleransi.Dimana konsep toleransi yang dijalakan orang Bali berdasarkan petunjuk dewata atau wahyu. Toleransi terjadi karena adanya pengetahuan dan kesadaran bahwa semua mahluk adalah ciptaan Tuhan.

“Cara menghormati tumbuhan justru dengan memanfaatkannya. Memotong tidak berarti menyakiti, tetapi justru menyupat yakni meningkatkan derajat karma mahluk hidup sesuai tingkatannya. Jika ini dikupas tuntas maka budaya Bali dengan sarana upakara merupakan hokum penciptaan,” tegas pria yang akrab di panggil Deknur. [bbn/mul]

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/mul



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami