Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Rabu, 28 Oktober 2026
Sanggar Seni Catur Muka Swara, Menggali Insan Bersuara Emas
Selasa, 28 Agustus 2018,
17:25 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com,Denpasar. Meramu insan yang gemar akan dunia tarik suara bukanlah hal asing bagi Sanggar Seni Catur Muka Swara, “Kami selalu mencari bibit-bibit unggul didunia tarik suara melalui proses seleksi,” jelas I Komang Astita selalu pemimpin Sanggar Seni Catur Muka Swara.
[pilihan-redaksi]
Bukan suatu hal yang asing lagi bahwa Sanggar Seni Catur Muka Swara senantiasa membentuk bibit unggul dalam dunia tarik suara Bali. Hal tersebut dibuktikan melalui penampilan anak didik sanggar pada gelar Bali Mandara Mahalango 5 yang berlangusung di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya, Denpasar, Senin malam (27/8).
Bukan suatu hal yang asing lagi bahwa Sanggar Seni Catur Muka Swara senantiasa membentuk bibit unggul dalam dunia tarik suara Bali. Hal tersebut dibuktikan melalui penampilan anak didik sanggar pada gelar Bali Mandara Mahalango 5 yang berlangusung di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya, Denpasar, Senin malam (27/8).
“Sanggar ini sudah ada sejak tahun 2013, awalnya dimiliki oleh Kota Denpasar untuk mencari anak-anak yang berminat sungguh-sungguh dalam mennyanyi,” tutur Astita.
Para penyanyi maupun musisi yang tergabung dalam sanggar adalah anak-anak pilihan dengan mengambil langkah seleksi sebelumnya. “Misalnya itu seperti Deva (salah satu anggota Sanggar Seni Catur Muka Swara-red) dia dari kecil ikut seleksi sampai kuliah seperti saat ini pun dia tetap gabung,” tambah Astita.
Malam itu, instrumen yang menjadi persembahan pertama adalah Uma Sadina yang digarap oleh I Komang Astita pada tahun 1980. Garapan tersebut ditampilkan oleh Catur Muka Swara bersama Deva, Dena Ersafira, Mahalini Raharja, Meiska Adinda, Cening Wijaya, Angling, Saly, Diva, dan Wimas.
Tak hanya instrument dengan nuansa tradisional, para penyanyi pun turut mebawakan beberapa lagu kekinian, salah satunya yang dibawakan oleh Meiska Adinda, Mahalini Raharja, dan Dena Ersafira dengan lagu bertajuk All I Ask dari Adele. Lagu sendu ini pun sukses membawa penonton ke dalam haru birunya kisah friend zone yang memelit anak muda.
Setelah dibawa pada lagu kekinian, sebagai pamungkas lagu-lagu Bali pun bermunculan. Seperti Jempiring Putih sebagai lagu maskot Kota Denpasar, Ni Diah Tantri, dan Tat Twam Asi. Ketiga lagu tersebut kembali dibawakan oleh trio Meiska, Mahalini, dan Dena dengan suara merdunya kembali membalut penonton dalam suasana lagu. Ditambah dengan alunan musik yang apik semakin membuat lagu yang dibawakan kian sempurna.
Menurut I Made Bandem (pengamat seni dalam Bali Mandara Mahalango 5-red) ada keharmonisan dalam garapan dari Sanggar Seni Catur Muka Swara. “Music barat dan tradisional lagu yang diaransemen bagus saling mengisi,” jelas Bandem. Namun, Bandem pun tetap memberi masukan bahwa pada garapan Astita yang bertajuk Uma Sadina sejatinya lebih cocok hanya dengan gamelan Bali saja. “Lebih cocok dengan gamelan Bali saja, tapi karena ini suatu eksperiman itu tidak boleh dilarang,” kritik Bandem.
[pilihan-redaksi2]
Sementara itu I Wayan Dibia, pengamat seni yang juga kurator Bali Mandara Mahalango 5 mengatakan potensi anak-anak yang tergabung Sanggar Seni Catur Muka Swara cukup besar. “Anak-anak ini pemain musik yang cukup terlatih. Cukup rapi mereka bermainnya,” tutur Dibia. Hanya saja, menurut Dibia, soal pemilihan materi lagu tertentu (lagu barat –red) dan kostum (kostum Bali-red) dipakai yang terasa agak menghambat mereka berakting.
Sementara itu I Wayan Dibia, pengamat seni yang juga kurator Bali Mandara Mahalango 5 mengatakan potensi anak-anak yang tergabung Sanggar Seni Catur Muka Swara cukup besar. “Anak-anak ini pemain musik yang cukup terlatih. Cukup rapi mereka bermainnya,” tutur Dibia. Hanya saja, menurut Dibia, soal pemilihan materi lagu tertentu (lagu barat –red) dan kostum (kostum Bali-red) dipakai yang terasa agak menghambat mereka berakting.
“Sehingga agak sulit memberikan tenaga di dalam pertunjukkan. Karena kalau terlalu dibuka, kostumnya tidak menunjang. Kalau nggak , lagunya sendiri menuntut untuk itu,” ujar Dibia. (bbn/rls/rob)
Berita Denpasar Terbaru
Berita Premium
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
01
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5937 Kali
02
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4653 Kali
03
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2621 Kali
04
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2278 Kali
05
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2221 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Kamis, 8 Oktober 2026
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Sabtu, 3 Oktober 2026
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Sabtu, 26 September 2026
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan
Senin, 21 September 2026
Menelusuri Jejak Arsitektur Taman Soekasada Ujung
Senin, 21 September 2026