Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 29 April 2026
Mapag Toya, Bentuk Ungkapan Syukur Kepada Penguasa Air
Ritual Pertanian Masyarakat Bali (1)
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Mapag Toya merupakan salah satu ritual pertanian masyarakat Hindu di Bali. Mapag Toya merupakan bentuk ungkapan syukur kepada penguasa air (Tuhan). Ritual ini juga bermakna memohon ijin agar diberikan air yang melimpah untuk kesuburan tanaman pertanian.
[pilihan-redaksi]
Dalam sebuah artikel ilmiah berjudul “Makna simbolik bahasa ritual pertanian masyarakat Bali” yang ditulis oleh Ni Wayan Sartini dari Universitas Airlangga dan dipublikasikan dalam Jurnal Kajian Bali Volume 07, Nomor 02, tahun 2017 disebutkan mapag atau mendak memiliki arti ‘menjemput’. Sedangkan kata toya berarti ‘air’. Jadi mapag toya memiliki makna ‘menjemput air’.
Upacara ini merupakan bagian dari ritual pertanian sebagai symbol menjemput air di sumber air sebagai sumber kehidupan agar tanaman padi dapat tumbuh subur tanpa kekeringan. Upacara ini biasanya dilakukan di Pura Panghulun Subak (Subak Hulu).
Dalam mantra yang diucapkan yang mengiringi ritual, disebutkan Bhatara Gangga sebagai dewi atau bhatari yang bersemayam di Sungai Gangga. Dalam agama Hindu Sungai Gangga adalah sungai suci sebagai sumber air yang dapat mengalirkan air kesegala penjuru termasuk sawah-sawah.
[pilihan-redaksi2]
Peneliti dari Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar yang terdiri dari I Made Krisna Dinata, I Nyoman Sueca, dan Ni Nyoman Mariani dalam sebuah artikel ilmiah berjudul “Nilai Pendidikan Agama Hindu Dalam Upacara Ngusaba Padi di Pura Subak Uma Utu, Desa Adat Babahan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan” yang dipublikasikan dalam Jurnal Penelitian Agama Hindu, Volume 2, Nomor 1 tahun 2018 menyebutkan Ritual Mapag Toya menggunakan sarana banten yaitu banten pakelem yang menggunakan bebek selem atau ayam selem dan setelah itu dilanjutakan dengan melakukan persembahyangan bersama pemangku.
Maksud dan tujuan dari pada ritual ini adalah untuk menginformasikan dan sebagai pertanda kepada krama Subak bahwa sawah yang ada di areal subak sudah mulai dialiri air. Ritual ini memberikan sebuah pesan bahwa sawah yang ada di areal Subak telah dialiri air sebagai bahan atau kebutuhan sawah untuk melakukan penanaman padi di sawah.[bbn/Jurnal Kajian Bali- Jurnal Penelitian Agama Hindu/mul]
Reporter: bbn/mul
Berita Terpopuler
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3811 Kali
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1757 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang