Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Mapag Toya, Bentuk Ungkapan Syukur Kepada Penguasa Air

Ritual Pertanian Masyarakat Bali (1)

Jumat, 28 September 2018, 06:00 WITA Follow
Beritabali.com

istimewa

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Beritabali.com, Denpasar. Mapag Toya merupakan salah satu ritual pertanian masyarakat Hindu di Bali. Mapag Toya merupakan bentuk ungkapan syukur kepada penguasa air (Tuhan). Ritual ini juga bermakna memohon ijin agar diberikan air yang melimpah untuk kesuburan tanaman pertanian.

[pilihan-redaksi]
Dalam sebuah artikel ilmiah berjudul “Makna simbolik bahasa ritual pertanian  masyarakat Bali” yang ditulis oleh Ni Wayan Sartini dari Universitas Airlangga dan dipublikasikan dalam Jurnal Kajian Bali Volume 07, Nomor 02, tahun 2017 disebutkan mapag  atau mendak memiliki arti   ‘menjemput’. Sedangkan kata toya berarti ‘air’. Jadi mapag toya  memiliki makna ‘menjemput air’.

Upacara  ini  merupakan  bagian  dari  ritual    pertanian  sebagai symbol menjemput  air  di  sumber  air  sebagai  sumber  kehidupan agar tanaman padi dapat tumbuh subur tanpa kekeringan. Upacara ini biasanya dilakukan di Pura Panghulun Subak (Subak Hulu).

Dalam mantra yang diucapkan yang mengiringi ritual,  disebutkan Bhatara Gangga   sebagai  dewi  atau bhatari   yang  bersemayam  di  Sungai Gangga. Dalam agama Hindu Sungai Gangga adalah sungai suci sebagai  sumber  air  yang  dapat  mengalirkan  air  kesegala  penjuru termasuk sawah-sawah.

[pilihan-redaksi2]
Peneliti dari Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar yang terdiri dari I Made Krisna Dinata, I Nyoman Sueca, dan Ni Nyoman Mariani dalam sebuah artikel ilmiah berjudul “Nilai Pendidikan Agama Hindu Dalam Upacara Ngusaba Padi di Pura Subak Uma Utu, Desa Adat Babahan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan” yang dipublikasikan dalam Jurnal Penelitian Agama Hindu, Volume 2, Nomor 1 tahun 2018 menyebutkan Ritual Mapag Toya menggunakan sarana banten yaitu banten pakelem yang menggunakan bebek selem atau ayam selem dan setelah itu dilanjutakan dengan melakukan persembahyangan bersama pemangku.

Maksud dan tujuan dari pada ritual ini adalah untuk menginformasikan dan sebagai pertanda kepada krama Subak bahwa sawah yang ada di areal subak sudah mulai dialiri air. Ritual ini memberikan sebuah pesan bahwa sawah yang ada di areal Subak telah dialiri air sebagai bahan atau kebutuhan sawah untuk melakukan penanaman padi di sawah.[bbn/Jurnal Kajian Bali- Jurnal Penelitian Agama Hindu/mul]

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/mul



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami