Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 20 September 2026
Mapag Toya, Bentuk Ungkapan Syukur Kepada Penguasa Air
Ritual Pertanian Masyarakat Bali (1)
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com, Denpasar. Mapag Toya merupakan salah satu ritual pertanian masyarakat Hindu di Bali. Mapag Toya merupakan bentuk ungkapan syukur kepada penguasa air (Tuhan). Ritual ini juga bermakna memohon ijin agar diberikan air yang melimpah untuk kesuburan tanaman pertanian.
[pilihan-redaksi]
Dalam sebuah artikel ilmiah berjudul “Makna simbolik bahasa ritual pertanian masyarakat Bali” yang ditulis oleh Ni Wayan Sartini dari Universitas Airlangga dan dipublikasikan dalam Jurnal Kajian Bali Volume 07, Nomor 02, tahun 2017 disebutkan mapag atau mendak memiliki arti ‘menjemput’. Sedangkan kata toya berarti ‘air’. Jadi mapag toya memiliki makna ‘menjemput air’.
Upacara ini merupakan bagian dari ritual pertanian sebagai symbol menjemput air di sumber air sebagai sumber kehidupan agar tanaman padi dapat tumbuh subur tanpa kekeringan. Upacara ini biasanya dilakukan di Pura Panghulun Subak (Subak Hulu).
Dalam mantra yang diucapkan yang mengiringi ritual, disebutkan Bhatara Gangga sebagai dewi atau bhatari yang bersemayam di Sungai Gangga. Dalam agama Hindu Sungai Gangga adalah sungai suci sebagai sumber air yang dapat mengalirkan air kesegala penjuru termasuk sawah-sawah.
[pilihan-redaksi2]
Peneliti dari Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar yang terdiri dari I Made Krisna Dinata, I Nyoman Sueca, dan Ni Nyoman Mariani dalam sebuah artikel ilmiah berjudul “Nilai Pendidikan Agama Hindu Dalam Upacara Ngusaba Padi di Pura Subak Uma Utu, Desa Adat Babahan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan” yang dipublikasikan dalam Jurnal Penelitian Agama Hindu, Volume 2, Nomor 1 tahun 2018 menyebutkan Ritual Mapag Toya menggunakan sarana banten yaitu banten pakelem yang menggunakan bebek selem atau ayam selem dan setelah itu dilanjutakan dengan melakukan persembahyangan bersama pemangku.
Maksud dan tujuan dari pada ritual ini adalah untuk menginformasikan dan sebagai pertanda kepada krama Subak bahwa sawah yang ada di areal subak sudah mulai dialiri air. Ritual ini memberikan sebuah pesan bahwa sawah yang ada di areal Subak telah dialiri air sebagai bahan atau kebutuhan sawah untuk melakukan penanaman padi di sawah.[bbn/Jurnal Kajian Bali- Jurnal Penelitian Agama Hindu/mul]
Reporter: bbn/mul
Berita Terpopuler
Sopir Truk di Muncan Karangasem Dibakar Hidup-hidup, Diduga Soal Setoran
Dibaca: 8012 Kali
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5650 Kali
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3544 Kali
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2391 Kali
ABOUT BALI
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan