Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
Trending:
- Jumat, 8 Mei 2026
I Made Monog: Penari Calonarang Harus Mampu Lolos dari Cobaan Gaib
Minggu, 21 Oktober 2018,
08:45 WITA
Follow
IKUTI BERITABALI.COM DI
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Beritabali.com,Denpasar. Sebutlah seniman Bali yang dikenal memiliki ketabahan sekaligus keberanian, maka nama I Made Monog akan masuk salah satu diantaranya. Di tengah kekejaman aksi kolonial Belanda maupun Jepang laki-laki asal Banjar Kedaton, Denpasar ini tetap mampu meloloskan dirinya sebagai seniman.
[pilihan-redaksi]
Tidak tanggung-tanggung berkat keuletannya, selain menguasai tari baris dan arja Monog juga diakui sebagai seniman Calonarang yang berani. Ketika pemerintahan kolonial bercokol di tanah Bali bisa dibayangkan kehidupan dihadang berbagai kesulitan, bahkan ketakutan. Karenanya, untuk merabut ‘jatah’ sebagai penari seseorang harus beradu kiat dan siasat agar mampu lolos dari batasan-batasan yang dibuat pemerintah kolonial. Namun, Monog kecil (berusia 10 tahun) tidak peduli dengan penderitaan kala itu. Ia tetap bersikukuh dengan tekadnya, memuaskan kehidupan dengan melakoni seni.
Tidak tanggung-tanggung berkat keuletannya, selain menguasai tari baris dan arja Monog juga diakui sebagai seniman Calonarang yang berani. Ketika pemerintahan kolonial bercokol di tanah Bali bisa dibayangkan kehidupan dihadang berbagai kesulitan, bahkan ketakutan. Karenanya, untuk merabut ‘jatah’ sebagai penari seseorang harus beradu kiat dan siasat agar mampu lolos dari batasan-batasan yang dibuat pemerintah kolonial. Namun, Monog kecil (berusia 10 tahun) tidak peduli dengan penderitaan kala itu. Ia tetap bersikukuh dengan tekadnya, memuaskan kehidupan dengan melakoni seni.
Maka, Ia pun mulai belajar menari baris pada Guru Sriada di Banjar Gemeh, Denpasar. Tak puas belajar dari satu guru, ia pun belajar pada Pekak Kredek (ayah mantan Ketua STSI Denpasar, Prof Dr I Made Bandem) dan Made Kengguh asal Singapadu, Gianyar. Sebelum menempa diri pada empu seni tari yang dikenal polos dan tidak pelit berbagi ilmu ini, Monog telah melapisi dirinya dengan penguasaan tari kecak saat ia bergabung dengan Sekaa Janger Banjar Kedaton.
Menjadi pragina baginya tiada lain sebagai panggilan nurani yang dilandasi konsep ngayah (pengabdian). Memang, sebagai manusia biasa Monog tidak munafik dengan pahala kesenimanannya yang berupa materi. Jika laris atau sering dicari orang untuk keperluan pementasan, kata dia, sudah tentu akan banyak mendatangkan sekaya (penghasilan) untuk keperluan sandang dan pangan.
Visi seniman sebagai utamaning lungguh menjadikan Monog tak cepat puas lantas mandeg setelah menguasai satu jenis tari. Ia terus belajar dan belajar. Setelah belajar baris dan penasar, ia pun menekuni pementasan Calonarang yang tergolong sacral dan angker. Ini sebuah pilihan yang terbilang langka, karena seorang penari Calonarang tak cukup Cuma mengandalkan kepiawaian menari secara fisikal, tapi juga ketangguhan batin.
[oilihan-redaksi2]
Dalam bahasa sehar-hari di Bali, seorang penari Calonarang harus mampu lolos dari kepintonan, cobaan gaib. Lebih-lebih bila penari Calonarang tadi memilih peran sebagai pengrancab (patik sakti yang membunuh raja ilmu hitam) ataupun Rangda (raja ilmu hitam), sebagaimana sering dilakoni Monog.
Dalam bahasa sehar-hari di Bali, seorang penari Calonarang harus mampu lolos dari kepintonan, cobaan gaib. Lebih-lebih bila penari Calonarang tadi memilih peran sebagai pengrancab (patik sakti yang membunuh raja ilmu hitam) ataupun Rangda (raja ilmu hitam), sebagaimana sering dilakoni Monog.
Kearifan hidup demikian pula ditularkannya kepada puluhan muridnya yang tersebar mulai dari Banjar Kedaton, Tanjungbungkak, hingga Tanjung Benoa, termasuk di beberapa daerah lain di Bali. Dan, kini, di tengah-tengah kondisi fisiknya yang terus melemah, Monog hanya bisa berpesan kepada generasi penerus penekun kesenian Bali agar tetap berkesenian dengan dasar bakti. (bbn/rls/rob)
Berita Premium
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
01
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 778 Kali
02
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 687 Kali
03
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 509 Kali
04
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 485 Kali
05
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Selasa, 5 Mei 2026
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Senin, 30 Maret 2026
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Kamis, 26 Maret 2026
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang
Kamis, 12 Februari 2026