Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 28 Oktober 2026
Tradisi Male, Bukti Toleransi Umat Muslim dan Hindu di Jembrana
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Beritabali.com, Jembrana. Tradisi male menjadi bukti toleransi yang kuat antara umat Muslim dan Hindu di Kabupaten Jembaran. Male adalah telur yang direbus dengan tidak mengupas (menghilangkan kulit luar) yang dirangkai sedemikian rupa dalam berbagai bentuk yang memiliki nilai estetika dan filosofi keagamaan yang tinggi.
[pilihan-redaksi]
Bentuk male ada yang berupa pajegan atau bentuk lainnya dengan menusukkan puluhan telur rebus ke batang pohon pisang yang dihiasi kertas warna warni, ada juga yang menyerupai kapal-kapalan, pepohonan (bonsai), dan binatang unta. Rangkaian atau bentuk telur ini, oleh masyarakat Muslim Jembrana disebut dengan male. Male juga biasanya dijadikan bingkisan (berkat) bagi umat maupun undangan yang hadir.
Demikian terungkap dalam artikel ilmiah yang berjudul “Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal (Studi di Jembrana Bali)” yang dipublikasin dalam Jurnal Pendidikan Islam, Volume 08 Nomor 01, Tahun 2019. Artikel ditulis oleh Saihu yang merupakan Dosen Pascasarjana Institut PTIQ Jakarta.
Saihu menuliskan bahwa tradisi male berasal dari tradisi umat Islam di Jembrana. Sekalipun tradisi male merupakan tradisi yang berasal dari Islam, namun dalam pelaksanaannya selalu melibatkan umat Hindu. Perbedaan agama tidak menjadi penghalang dalam pelaksanaan tradisi ini, karena memang umat Islam di Jembrana sangat terbuka terhadap keanekaragaman.
[pilihan-redaksi]
Ritual ini dimulai dengan berkeliling kampung sambil membawa telur yang telah dibentuk dengan berbagai corak atau sesuai dengan selera yang diinginkan pembuatnya. Male yang di-arak mengelilingi kampung ini dikawal oleh pasukan khusus dengan menggunakan pakaian adat Bali yang di sebut pager uyung (pakaian kaum kesatria adat yang diwakili oleh beberapa orang dari umat Islam maupun Hindu).
Dalam perjalanannya mengelilingi kampung, male yang di-arak diringi dengan pembacaan asrakal, yaitu membaca solawat serta puji-pujian kepada Nabi Muhammad S.A.W. sambil menabuh rebana atau marawis. Setelah selesai mengelilingi kampung, kemudian seluruh male atau telur yang telah dihiasi tersebut, dikumpulkan di dalam masjid sambil diiringi bacaan solawat. Selanjutnya pembacaan doa menjadi acara penutup sebelum telur-telur dibagikan kepada masyarakat yang hadir di sana.[bbn/ Jurnal Pendidikan Islam/mul]
Reporter: bbn/mul
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5933 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4649 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2617 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2272 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2218 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan