Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 28 April 2026
Tradisi Male, Bukti Toleransi Umat Muslim dan Hindu di Jembrana
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Beritabali.com, Jembrana. Tradisi male menjadi bukti toleransi yang kuat antara umat Muslim dan Hindu di Kabupaten Jembaran. Male adalah telur yang direbus dengan tidak mengupas (menghilangkan kulit luar) yang dirangkai sedemikian rupa dalam berbagai bentuk yang memiliki nilai estetika dan filosofi keagamaan yang tinggi.
[pilihan-redaksi]
Bentuk male ada yang berupa pajegan atau bentuk lainnya dengan menusukkan puluhan telur rebus ke batang pohon pisang yang dihiasi kertas warna warni, ada juga yang menyerupai kapal-kapalan, pepohonan (bonsai), dan binatang unta. Rangkaian atau bentuk telur ini, oleh masyarakat Muslim Jembrana disebut dengan male. Male juga biasanya dijadikan bingkisan (berkat) bagi umat maupun undangan yang hadir.
Demikian terungkap dalam artikel ilmiah yang berjudul “Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal (Studi di Jembrana Bali)” yang dipublikasin dalam Jurnal Pendidikan Islam, Volume 08 Nomor 01, Tahun 2019. Artikel ditulis oleh Saihu yang merupakan Dosen Pascasarjana Institut PTIQ Jakarta.
Saihu menuliskan bahwa tradisi male berasal dari tradisi umat Islam di Jembrana. Sekalipun tradisi male merupakan tradisi yang berasal dari Islam, namun dalam pelaksanaannya selalu melibatkan umat Hindu. Perbedaan agama tidak menjadi penghalang dalam pelaksanaan tradisi ini, karena memang umat Islam di Jembrana sangat terbuka terhadap keanekaragaman.
[pilihan-redaksi]
Ritual ini dimulai dengan berkeliling kampung sambil membawa telur yang telah dibentuk dengan berbagai corak atau sesuai dengan selera yang diinginkan pembuatnya. Male yang di-arak mengelilingi kampung ini dikawal oleh pasukan khusus dengan menggunakan pakaian adat Bali yang di sebut pager uyung (pakaian kaum kesatria adat yang diwakili oleh beberapa orang dari umat Islam maupun Hindu).
Dalam perjalanannya mengelilingi kampung, male yang di-arak diringi dengan pembacaan asrakal, yaitu membaca solawat serta puji-pujian kepada Nabi Muhammad S.A.W. sambil menabuh rebana atau marawis. Setelah selesai mengelilingi kampung, kemudian seluruh male atau telur yang telah dihiasi tersebut, dikumpulkan di dalam masjid sambil diiringi bacaan solawat. Selanjutnya pembacaan doa menjadi acara penutup sebelum telur-telur dibagikan kepada masyarakat yang hadir di sana.[bbn/ Jurnal Pendidikan Islam/mul]
Reporter: bbn/mul
Berita Terpopuler
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3775 Kali
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1716 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang