Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Diplomasi Kaum Millenial di Era TikTokrasi

Senin, 6 Juli 2020, 13:05 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/Liputan6.com

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Pesta demokrasi pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2020 akan segera dimulai di Bali. Sebanyak 6 kabupaten/kota akan memilih punggawa terbaiknya untuk memimpin pembangunan daerah selama  5 tahun kedepan. 


[pilihan-redaksi]
Dikutip dari NusaBali.com disebutkan bahwa pilkada serentak yang semula dijadwalkan tanggal 23 September 2020 akhirnya diputuskan untuk diundur dan baru akan dilaksanakan pada 9 Desember 2020 akibat pandemi Covid-19. Keputusan ini telah disepakati Komisi II DPR RI bersama Mendagri dan KPU RI di Jakarta. 


Meskipun demikian KPU Bali sedang mengusulkan Pilkada di Bali agar dapat diundur hingga 9 Maret tahun 2021. Tujuannya agar persiapan yang dilakukan jauh lebih matang dan kesempatan untuk penyesuaian anggaran operasional akibat wabah global Covid-19.


Dalam hitungan bulan, kontestasi politik akan menyita perhatian publik untuk berpartisipasi menggunakan hak pilih mereka. Bakal pasangan calon seharusnya sudah menyiapkan strategi untuk memenangkan hati para calon pemilihnya sesuai dengan segmentasinya bahkan jauh-jauh hari sebelum hari ini. Meminjam istilah yang menyebutkan lain lubuk lain ilalang, maka dalam konteks ini mungkin analog untuk lain pemilih lain strategi. 


Sebagai wilayah yang penduduknya didominasi oleh penduduk muda maka tidak berlebihan jika para bakal calon menakar lebih untuk menargetkan peluang besar pada pemilih muda termasuk kelompok usia pemula. Berdasarkan data yang dirilis KPU Provinsi Bali pada Pemilu tahun 2019 ditetapkan jumlah Daftar Pemilih Tetap Hasil Perbaikan (DPTHP) mencapai 3.208.249 orang. 


Jumlah ini mungkin tidak jauh berbeda dari yang akan ditetapkan pada Pilkada 2020. Dikutip dari Idntimes.com menurut Ketua KPU Bali 40 persen dari total DPTHP merupakan pemilih milenial. Tidak ada alasan lagi untuk tidak merangkul generasi millennial untuk turut serta menyumbangkan suaranya pada saat pilkada nanti.


Dikutip dari setkab.go.id disebutkan bahwa Millenial generation atau generasi Y, akrab disebut generation me atau echo boomers. Secara harfiah memang tidak ada demografi khusus dalam menentukan kelompok generasi yang satu ini. Pada tahun 2016, lembaga U.S Pirg mendefinisikan Millenial sebagai orang yang lahir antara tahun 1983 dan 2000. 


Generasi millenial ini banyak menggunakan teknologi komunikasi instan, seperti : email, SMS, media sosial (facebook, twitter, instagram, TikTok) atau dengan kata lain bahwa generasi Y adalah generasi yang tumbuh pada era internet booming. Media sosial menjadi salah satu kunci untuk merebut hati para millennial pada saat pesta demokrasi nanti.


Sejalan dengan perkembangan teknologi di era revolusi industri 4.0 perkembangan media sosial kian pesat dan semakin bergeser. Media ini menjadi salah satu penghubung yang paling mudah, murah, dan meriah menjangkau semua kalangan lapisan masyarakat terutama para generasi millennial. Sebut saja TikTok atau dikenal dengan nama Douyin di China. 


Siapa sangka platform media sosial yang pertama kali dirilis pada September 2016 berhasil menjadi media sosial yang paling banyak digandrungi oleh semua orang di seluruh penjuru dunia. Aplikasi ini paling banyak diunduh di Kawasan Asia terutama India. Sepak terjang penetrasi aplikasi ini di Indonesia pun tidak terbilang mudah. 

 

Dulu media ini hanya dianggap sebagai mainan anak lebay ‘alay’ dan bahkan sempat diblokir beberapa kali tetapi sekarang justru semakin digemari oleh semua lapisan termasuk pejabat publik. Meraka berasal dari kelompok terdidik yang well-informed situasi perpolitikan yang sedang berlangsung. Bukan hanya Presiden Jokowi, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sempat tiktokan di salah satu stasiun televisi swasta.


Demam TikTok tidak lagi dapat dianggap enteng. Generasi millennial tidak lagi hanya bersenang-senang tanpa tujuan. Dikutip dari CNN Indonesia diberitakan bahwa Presiden Amerika Serikat pada Minggu, 20 Juni 2020 lalu mendapatkan reaksi yang kurang mengesankan pada acara kampanye yang diadakan oleh Bank of Oklahoma Center oleh penggemar K-Pop dan pengguna TikTok. 


Mereka berhasil menyabotase tiket namun tidak hadir di acara tersebut sehingga jumlah orang yang hadir di bawah 6,2 ribu orang atau kurang dari setengah kapasitas arena sebesar 19 ribu orang. TikTok telah bertansformasi menjadi salah satu platform penting bagi kalangan millenial untuk berdiplomasi menyuarakan aspirasi mereka secara terbuka. TikTok menjadi media penghubung yang efektif bagi generasi millennial dengan para pemangku kepentingan dan kebijakan. 


Meminjam istilah TikTokrasi, yaitu antara TikTok dan krasi yang berasal dari kratos yang berarti pemerintah. Media sosial menjadi perekat antara rakyat dan pemerintahan di masa kekinian saat ini. Penyebaran berbagai ide  dan komunikasi politik berlangsung sangat cepat dan nyaris tanpa batas.  Masa ini sebagai penanda bahwa dimana corak berdiplomasi kaum millennial sudah berbeda. Tidak lagi dengan turun ke jalan atau berdemo dengan cara anarkis tetapi cukup di rumah saja bisa juga berdiplomasi selama pandemi.


Melihat animo yang begitu tinggi pada penggunaan media sosial untuk berkampanye maka rasanya tidak berlebihan jika para bakal calon kandidat menggaris bawahi potensi ini sejak dini.  Media ini menyediakan ruang yang efektif yang mampu merangkul sekitar 40 persen dari calon target pemilih. Media sosial bukan lagi menjadi ruang foya-foya anak muda namun sekarang sudah naik kasta menjadi alat yang penting dalam kontestasi politik. 


Gaya khas diplomasi anak muda yang santai, sederhana, namun tetap kritis mulai menggeser konten-konten di media sosial. Jika di Amerika saja yang penduduk muda nya sempat dicap apatis akan sistem politiknya berhasil digerakkan cukup masif  dengan TikTok apalagi di Indonesia atau di Bali. Bisa saja terjadi mengingat antusiasme akan media sosial yang tidak kalah populernya.

 

Jadi tunggu apa lagi, mari bijak dan cerdas bermedia sosial, pikirkan hal-hal kecil dan pikirkan mulai sekarang!

 

Penulis


I Gede Heprin Prayasta
Mahasiswa Magister Ilmu Ekonomi 
Universitas Udayana

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/opn



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami