Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 1 Juli 2026
Tekanan Darah Tinggi Usai Melahirkan Berisiko Kena Hipertensi Kronis
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Penelitian menunjukkan bahwa perempuan yang mengembangkan tekanan darah tinggi selama kehamilan dan usai melahirkan mengalami peningkatan risiko hipertensi kronis.
Hal ini dinyatakan dalam penelitian yang dipresentasikan pada pertemuan tahunan Society for Maternal-Fetal Medicine (SMFM) oleh peneliti dari University of Pittsburgh.
Melansir dari Medical Xpress, tekanan darah yang terus meningkat dari waktu ke waktu dikenal sebagai hipertensi kronis di mana telah dikaitkan dengan penyakit jantung yang merupakan penyebab utama kematian di Amerika Serikat.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa tekanan darah tinggi yang terus-menerus juga dapat meningkatkan risiko stroke dan kematian secara keseluruhan.
Hanya sekitar 1 dari 4 orang dewasa dengan hipertensi kronis yang kondisinya terkendali.
Studi tersebut mengamati 368 perempuan yang memiliki tekanan darah normal selama kehamilan dan mengikuti mereka selama enam hingga 18 bulan setelah melahirkan.
Hasil menemukan bahwa pada kunjungan postpartum (usai melahirkan) pertama mereka, hampir setengah dari perempuan atau 49,5 persen (182 orang) telah mengembangkan tekanan darah tinggi.
"Dengan memanfaatkan data dari program pemantauan jarak jauh hipertensi pascapersalinan, kami dapat menemukan bahwa tekanan darah wanita dalam enam minggu pertama setelah melahirkan tampaknya menjadi indikator penting apakah dia cenderung mengembangkan hipertensi kronis enam hingga 18 bulan kemudian," kata salah satu penulis utama Eesha Dave, MD, seorang dokter residen di bidang kebidanan dan ginekologi di UPMC Magee-Womens Hospital di Pittsburgh.(sumber: suara.com)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun