Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 31 Oktober 2026
Tragis! Warga Tewas Diduga Diterkam Buaya di Sungai
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam atau BKSDA Sumatera Barat melalui Resor Agam, menduga Nasrial (50) warga Muaro Putuih, Nagari Tiku Lima Jorong, Kecamatan Tanjung Mutiara, tewas akibat diterkam buaya muara alias crocodylus porosus. Jenazah Nasrial ditemukan mengapung di Sungai Batang Masang, Jumat (12/2/2021) pagi.
"Ini berdasarkan kondisi jenazah yang ditemukan, diduga korban memang diserang buaya, karena kaki kiri dan bagian tubuh lainnya hilang," kata Kepala Resor Konservasi Sumber Daya Alam Agam, Ade Putra di Lubukbasung.
Sedangkan penyebabnya, pihaknya masih akan melakukan identifikasi di lapangan. Sungai Batang Masang sendiri memang merupakan habitat buaya muara.
Sungai itu sudah direncanakan bersama Pemerintah Kabupaten Agam sebagai Kawasan Ekosistem Essensial/KEE pada 2019.
"Sungai Batang Masang merupakan habitat buaya muara dan direncanakan sebagai KEE," ujarnya.
Ade mengimbau warga mengurangi akrivitas di sungai dan rawa agar tidak diserang buaya muara karena Januari-Juli merupakan masa kawin dan bertelurnya satwa itu.
Berdasar perilaku dan siklus hidup buaya muara, Januari sampai Juli merupakan musim kawin dan bertelurnya satwa itu. Buaya yang akan kawin dan bertelur cenderung akan mencari lokasi yang aman dari gangguan individu lainnya.
Terutama induk buaya yang sedang menunggui sarang telurnya, akan sangat agresif dan sensitif terhadap keberadaan mahkluk lain termasuk manusia.
"Seperti yang ditemukan di Nagari Tiku Lima Jorong, Kecamatan Tanjungmutiara, Senin (25/1), di mana di lokasi tersebut ditemukan sarang telur buaya yang dijaga oleh induknya," katanya.
Sedangkan di Kabupaten Pasaman Barat, pada awal tahun 2021 dilaporkan terjadi serangan satwa buaya terhadap manusia di Ujung Gading, Sasak dan terakhir di Kinali.
Meningkatnya interaksi antara manusia dan satwa buaya muara beberapa waktu belakangan disebabkan oleh beberapa hal.
BKSDA menyimpulkan beberapa faktor meningkatnya interaksi manusia dan buaya selain disebabkan karena lagi musim kawin dan bertelur. Beberapa faktor itu adalah adanya penyempitan habitat.
Hampir di seluruh lokasi terjadinya serangan buaya, kondisi alamnya sudah beralih fungsi menjadi perkebunan dan lahan budidaya lainnya.
Bahkan sepanjang pinggiran aliran sungai sampai dengan muara sudah ditanami dan akhirnya memaksa buaya untuk berada sepanjang waktu di dalam air.
"Tentunya hal ini mengakibatkan semakin seringnya tingkat perjumpaan buaya dengan manusia," tegasnya.(sumber: suara.com)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 6023 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4696 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2664 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2352 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2244 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan