Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 29 Oktober 2026
Soal Oknum Sulinggih "Berkasus", Ngurah Harta: Ini Tanda Zaman Kaliyuga
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Pengamat spiritual sekaligus sesepuh perguruan Sandhi Murthi, Ngurah Harta menanggapi polemik akhir-akhir ini tentang oknum Sulinggih atau pemuka agama Hindu yang dikaitkan dengan kasus pelecehan seksual.
Menurutnya hal ini merupakan simbol dari Kaliyuga, dalam tutur orang tua dulu dimana kala orang berlomba-lomba ingin menjadi Sulinggih itu adalah simbol Kaliyuga sudah di ambang pintu. Dan, kata dia, semua pihak harus evaluasi diri atau Mulat Sarira.
Ia menyarankan agar Sulinggih membenahi diri dan jangan hanya ingin diakui oleh masyarakat bahwa sudah suci dengan didiksa menjadi sulinggih. Menurutnya, perilaku yang harus dibenahi dengan tingkah laku positif, bukan simbol yang dijalankan.
"Kalau simbol dijalankan tapi perilakunya seperti raksasa, itu artinya apa?," katanya, Selasa (9/3/2021).
Sulinggih Zaman Raja
Sekarang, lanjutnya, Sulinggih tidak seangker pada zaman dulu ketika dirinya masih anak-anak. Sekarang, kata dia, Sulinggih perilakunya hanya action saja untuk tujuan tertentu yang tidak bisa didapatkan ketika sebelum menjadi Sulinggih.
Masyarakat kita cepat sekali kagum melihat kegagahan yang dipoles tanpa dasar perilaku yang benar, sehingga banyak mengklaim diri menjadi sesuatu yang dikhayalkan karena mendengar cerita dan melihat perlakukan masyarakat terhadap sulinggih yang sangat dihormati sekali.
Berbeda dengan dulu, dimana menurut penuturannya, waktu zaman kerajaan orang yang akan mediksa menjadi sulinggih harus menghadap raja dan sembahyang di tempat persembahyangan Raja. Kalau sudah direstui oleh raja, beliau memerintahkan desa asal dari calon sulinggih untuk membuat panitia pediksan Sulinggih. Sehingga Sulinggih itu sisyanya adalah warga desa tempatnya didiksa dengan sepengetahuan raja.
"Sekarang di zaman republik ini posisi raja itu ada pada Parisadha, yang duduk di Parisadha harus memahami tata kelola tradisional dengan pemahaman adat istiadat dan budaya yang baik tentang diksa pariksa siapa guru waktu calon sulinggih dan siapa guru diksanya dan panitia dari desa adatnya juga harus jelas," tegasnya sembari menambahkan sehingga ada yang mempertanggungjawabkan perilaku calon sulinggih saat sudah menjadi Sulinggih.
Reporter: bbn/rob
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5968 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4664 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2649 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2302 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2232 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan