Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 14 Agustus 2026
Sosok Almarhum Umbu Landu Paranggi di Mata Putri Suastini Koster
BERITABALI.COM, BADUNG.
Kepergian penyair senior Umbu Landu Paranggi Bali ternyata memberi kenangan tersendiri pada Putri Suastini Koster.
Menurutnya di balik kepolosan dan konsistensi beliau di dunia sastra, beliau tidak hanya berlaku sebagai guru sastra tetapi ‘guru alam’ bagi semua,
Hal itu disampaikan Dirinya di sela prosesi penghormatan inkulturasi antara liturgi Kristiani dan ritual Kurukudu dalam tradisi Sumba di Taman Makam Kristiani Mumbul, Jalan Bypass Ngurah Rai, Nusa Dua, Badung, Senin (12/4) siang.
“Namun, bukan berarti kami sedih, hanya saja kami merasa secara fisik (kini, red) kami tidak bisa berdekatan. Secara fisik kehilangan namun kami juga bersyukur bahwa Bapak Umbu kini telah pergi untuk meraih kebahagiaan,” jelasnya.
Jasa-jasa sosok yang sering disebut mahaguru para penyair di Indonesia tersebut bagi perkembangan dunia sastra di Bali, meskipun Pulau Dewata bukan merupakan tanah kelahirannya.
“Bayangkan beliau yang lahir dari darah biru, keluarga bangsawan di tanah Sumba, nyatanya berperan besar dalam tatanan tingkah laku hidup yang baik di Bali, Jawa, Sumatera dan lainnya. Itu yang membuat kita semakin bangga dengan beliau,” ucapnya.
Sang penyair seperti satu sayap yang mengepak menempuh jalan sunyi, sementara sayap lainnya dikepak sang istri, untuk menata kehidupan keluarga.
“Keduanya, sama-sama memberikan makna pada orang-orang di sekitarnya, beliau telah menorehkan banyak pelajaran hidup kepada para muridnya yang tersebar di seluruh Tanah Air. Terus bergerak di ruang sunyi, tak kenal lelah,” ujarnya.
Berpulangnya Umbu Landu Paranggi dirinya berharap seyogyanya jadi momentum untuk kembali mengasah batin dan lelaku lewat sastra dan kata-kata.
"Bukan hanya mengagungkan diri sendiri, namun biar kita diagungkan orang lain. Bukankah sudah jalannya, ketika kita lahir, kita menangis namun orang lain berbahagia. Sedangkan saat kita meninggal kita berbahagia dan orang lain yang menangis. Yang terpenting doa kita bersama, bagi beliau yang sudah memberikan tuntunan terbaik bagi kita,” pungkasnya
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4507 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2322 Kali
Pria 28 Tahun Diduga Tewas Gantung Diri di Belakang Rumah Payangan
Dibaca: 1967 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1592 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1036 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun