Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




GM Biro Perjalanan Wisata Tanam Singkong Hingga Jual Mobil

Sabtu, 21 Agustus 2021, 14:05 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/liputan6.com/General Manager Pacto Ltd Freddy Rompas.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, NASIONAL.

Selama pandemi Covid-19 yang telah berlangsung selama 1,5 tahun, sejumlah Biro Perjalanan Wisata (BPW) yang tergabung dalam Indonesia Ibound Travel Operators Association (IINTOA) mengungkap kondisi yang mereka alami.

Berbagai cara mereka lakukan untuk bertahan hidup di tengah pandemi. Oleh karena itu, mereka membutuhkan dukungan dari pemerintah.

"Sebanyak 90 karyawan kami rumahkan yang di Bali, kami tidak PHK. Mereka masih berstatus sebagai karyawan dan kami masih memberikan gaji yang sangat minim kepada mereka, tapi hanya di bawah lima persen," ungkap General Manager Pacto Ltd Freddy Rompas dalam webinar IINTOA yang berlangsung secara daring, Jumat (20/8/2021) dikutip dari Liputan6.com.

Dengan kondisi tersebut, Freddy mengungkapkan sangat membutuhkan bantuan pemerintah untuk kembali memulai usahanya. Hal senada diungkapkan Ricky Setiawanto dari Panorama Destination.

Bagi dia, dana hibah sangat diperlukan untuk memulai kembali bisnisnya sebagai modal awal. Hal itu karena selama 1,5 tahun, pihaknya hampir tak melakukan kegiatan karena tidak adanya pergerakan manusia.

"Apalagi sekarang, adanya PPKM dengan aturan-aturannya yang ketat. Kebijakan tersebut sangat menyulitkan untuk memulai kembali bisnisnya," ujar Ricky.

Selain merumahkan karyawannya, cara lain yang dilakukan biro perjalan wisata yang lain bertani. Hal tersebut diungkapkan Chairman IINTOA, Paul Edmundus Talo.

"Saya punya tanah sedikit, saya tanam jagung, singkong. Dalam beberapa hari daun singkong, saya jadikan sayur. Minggu depan saya juga akan panen pisang untuk yang ketiga," ungkap Paul.

Untuk bertahan hidup, Paul akan menjual mobilnya yang ketiga. Sebelumnya, ia sudah menjual dua mobil miliknya untuk kebutuhan yang lebih besar.

"Saya juga ada rencana untuk menjual. Jadi, kondisinya seperti itu, ini real. Karena saya tidak punya sawah dan kebutuhan yang lain, mau jual bubur tidak bisa. Saya mau coba berjualan sayur, tapi akhirnya rencana itu akan dilaksanakan oleh anak saya," ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Ricky Setiawanto dari Panorama Destination juga berharap pihak pemerintah, terutama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) memberi perhatian kepada biro perjalanan wisata. Hal tersebut terlepas dari mereka anggota IINTOA atau pun bukan.

"Kami pun (biro perjalanan wisata) punya andil yang cukup tinggi dalam mencari wisatawan dulu sempat menjadi primadona. Sektor pariwisata itu hampir melewati devisa yang diterima devisa dari sektor migas. Ini mungkin bisa menjadi renungan dan ungkapan bahwa sudah waktunya pemerintah untuk merestarting pariwisata," tutur Ricky.

Selama ini, lanjut Ricky banyak sekali wacana yang diberikan oleh pemerintah maupun skema-skema berupa bantuan yang diharapkan bisa membantu bangkitnya pariwisata. "Namun, sampai hari ini belum ada tanda-tanda yang signifikan, terutama terhadap sektor pariwisata yang paling terdampak," tegasnya.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/net



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami