Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




BKSDA Bali Ungkap Penyebab Matinya Ribuan Burung Emprit

Jumat, 10 September 2021, 21:15 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/BKSDA Bali Ungkap Penyebab Matinya Ribuan Burung Emprit.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali merespon adanya ribuan bangkai burung emprit (pipit) yang mati di Setra Banjar Sema, Desa Pering, Blahbatuh, Gianyar pada Kamis (9/9/2021).

Kepala Seksi Wilayah 2, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali, Sulistyo Widodo mengatakan pihaknya tadi sekira pukul 09.00 WITA telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Hewan Kabupaten Gianyar dan bersama-sama memeriksa lokasi di Desa Pering, Kecamatan Blabatuh, Gianyar.

Pihaknya mendokumentasikan dan juga mengambil sampel bangkai dan kotoran burung untuk dibawa ke Laboratorium Kesehatan Hewan guna mencari tahu penyebab kejadian tersebut. Tim kemudian menguburkan seluruh bangkai burung untuk meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan.

Ia menegaskan kejadian tersebut bukan yang pertama di Bali ataupun bukan pertama di Indonesia. 

"Di Bali dalam lima tahun terakhir juga pernah ada kejadian di area Sanglah Kota Denpasar, juga di Selemadeg Kabupaten Tabanan. Juga di Sukabumi Jawa Barat bulan Juli tahun 2021," jelasnya.

Ia memaparkan beberapa penyebab alasan mengelompok burung tersebut mati yang diduga mulai dari karena burung pipit ini satwa koloni yang hidup berkelompok dalam jumlah besar. Ukuran burung yang kecil menyebabkan kecenderungan berkoloni dalam jumlah besar untuk mengurangi risiko terhadap predator, termasuk saat beristirahat pun bergerombol. 

Ia mengatakan biasanya di satu pohon yang besar bisa sampai ribuan burung. Untuk mengetahui penyebab burung-burung tersebut, mati secara mendadak, kata dia, hal ini harus dibuktikan secara proses penelitian melalui proses otopsi dari bangkai dan kotoran burungnya. 

"Namun, ada beberapa kemungkinan yang terjadi seperti burung burung tersebut memakan pakan yang terkontamisasi atau tercemar atau mengandung herbisida atau pestisida yang sifatnya toxic bagi burung. Setelah memakannya, tentu burung tidak langsung mati, karena proses toxifikasi juga memakan waktu untuk sampai tingkatan mortalitasnya," sebutnya. 

"Kemungkinan besar saat burung-burung tersebut beristirahat malam. Dan paginya bangkai burung berserakan. Jadi bukan akibat lokasinya di makam/setra," paparnya.

Selanjutnya, kemungkinan kedua adalah tertular penyakit tertentu mengingat burung pipit hidupnya berkoloni dalam jumlah besar, maka penularannya akan cepat. Sehingga angka kematiannya juga dalam jumlah besar. 

"Bisa juga akibat virus atau penyebab yang lain yang harus dibuktikan dengan analisa bangkai dan analisa kotoran burung," sebutnya.

Bisa juga, kata dia, akibat perubahan iklim drastis seperti contohnya matinya ikan Koi di kolam terbuka saat hujan pertama kali turun. Atau matinya ribuan ikan dalam keramba akibat adanya upwheeling endapan bahan kimia, atau cuaca panas dan kemudian tiba-tiba turun hujan. 

"Misalnya saja, cuaca di Bali sedang panas, pada saat burung burung beristirahat malam, tiba tiba hujan lebat turun, suhu dan kelembaban udara berubah drastis, burung kaget, stres, dan kemudian mati massal. Ingat tingkat stress pada satwa sangat potensial menjadi penyebab mortalitas massal. Atau sebab lain yang kita belum tahu," pungkasnya.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Reporter: bbn/aga



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami