Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 30 Oktober 2026
Dokter Djelantik Tolak Permintaan Komandan Tameng
Sejarah Kelam G30S 1965 di Bali (20)
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Suatu pagi, di RSUP Sanglah Denpasar, segerombolan orang berpakaian hitam bersenjata klewang dan bedil masuk halaman rumah sakit Sanglah. Pegawai Rumah Sakit Umum Pemerintah Sanglah sempat dibuat gempar dengan kehadiran mereka yang kemudian diketahui merupakan para tameng atau algojo pemburu PKI.
Komandan Tameng meminta kepada Direktur RSUP Sanglah dr Anak Agung Made Djelantik untuk menyerahkan 6 pasien yang tercatat dalam daftar yang mereka buat. Keenam pasien tersebut menurut komandan tameng adalah simpatisan PKI.
Dokter Djelantik menolak permintaan komandan tameng. Jawaban dr Djelantik: "Selama para pasien masih dalam perawatan di rumah sakit, maka mereka adalah tanggung jawab saya.
Saya tidak bisa menyerahkan mereka selama mereka masih dirawat. Mereka sudah menyerahkan nasib mereka ke tangan saya sejak masuk rumah sakit. kalau mereka sudah selesai dirawat dan berada di luar lingkungan rumah sakit, maka mereka bukan tanggung jawab saya lagi."
Mendengar jawaban yang tegas, para tameng berpandangan sesaat dan kemudian berpamitan tapi masih menyisakan pertanyaan besar apa yang bakal mereka lakukan. Kabar ini kemudian menyebar di RSUP Sanglah dan membuat ke-6 orang pasien yang dicari menjadi stres. dr Djelantik kemudian memberi intruksi supaya keenam pasien tersebut diperpanjang masa perawatannya. Agar jangan keluarkan mereka walau sudah sembuh sampai kondisi politik membaik.
Rumah Sakit Umum Pemerintah Sanglah yang berkapasitas 600 orang dijejali hingga 1800 tahanan politik PKI, baik sipil maupun militer. Diantaranya Sukarlan, Komandan Depo Pendidikan (Dosik).
Tapi ketakutan pasien tak terbendung. Sebagian dari mereka melarikan diri bersama keluarganya untuk bersembunyi. Ketakutan juga dirasakan pasien lain dan petugas kesehatan tak terkecuali dr Djelantik sebagai Direktur rumah sakit yang menghalangi penangkapan pasien.
Malam hari kediaman dr Djelantik digedor beberapa orang berpakaian hitam-hitam. Mereka mengatakan akan membawa dr Djelantik karena ada komandan tameng yang sedang sakit. dr Djelantik kemudian berangkat ke tempat komandan tameng. Ternyata komandan tameng sedang menggigil demam karena malaria. Jangankan menebas kepala orang, bangun dari tempat tidur saja tidak bisa.
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 6001 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4682 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2660 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2323 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2238 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan