Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 15 Oktober 2026
Ritual Adat Empas Menanga di Bayan Lombok Utara
BERITABALI.COM, NTB.
Bayan adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Lombok Utara yang memiliki kekayaan budaya, adat dan tradisi yang beragam. Salah satunya, Ritual Adat Empas Menanga.
Selain Maulid Adat yang biasa ramai disaksikan masyarakat luas, tradisi unik lain yang belum banyak diketahui orang adalah Ritual Adat Empas Menanga.
Di awal musim penghujan tahun ini, Perayaan Ritual Adat Empas Menanga kembali digelar oleh Pemerintah Desa bersama para pemuka adat dan masyarakat adat setempat.
Ritual adat ini dipusatkan di Menanga Mual, Dusun Akar Akar Utara pada hari Rabu, 8 Desember 2021 lalu.
Ritual Adat Empas Menanga ini salah satu prosesi adat yang diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian sejarah bagi masyarakat adat di Desa Akar Akar Kecamatan Bayan.
Ritual Adat Empas Menanga ini sendiri merupakan sebuah wujud rasa syukur yang ditunjukkan oleh masyarakat adat di Desa Akar Akar kepada Sang Pencipta Tuhan yang Maha Esa atas anugerah hujan.
Hujan yang diturunkan oleh Sang Pencipta ini sebagai tanda telah dimulainya para petani untuk bercocok tanam, seraya berharap akan mendapatkan hasil panen yang melimpah-ruah.
Selain untuk mendekatkan diri dengan Sang Pencipta, Ritual Adat Empas Menanga ini juga adalah sebagai bentuk kepedulian masyarakat adat di Desa Akar Akar untuk senantiasa menjaga hubungan dengan alam. Sehingga dengan begitu, masyarakat akan dijauhkan dari bala atau musibah bencana alam yang sewaktu-waktu bisa saja terjadi.
Melalui perayaan Adat Empas Menanga yang dirayakan rutin setiap tahunnya ini, masyarakat dapat menjalin kembali tali silaturahim antarmasyarakat dusun maupun dengan masyarakat di desa tetangga.
Hubungan sosial masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari tetap hangat dan terjaga dengan baik.
Memahami filosofi dan makna yang terkandung dalam ritual adat tersebut, Danny Karter selaku Wakil Bupati yang yang diundang hadir dan dia yang terlahir dari Tanah Adat Bayan.
Ritual Adat Empas Menanga yang dirayakan oleh masyarakat adat Desa Akar-Akar ini hendaknya diresapi dalam hati, kemudian diaplikasikan dalam bentuk tindakan.
Tindakan itu baik dalam menjaga hubungan dengan Tuhan, sesama manusia dan yang tidak kalah pentingnya, yaitu menjaga hubungan dengan alam.
"Kadang-kadang kita ini lupa, bahwa hidup ini adalah hubungan sebab akibat, bagaimana kita menjaga alam tentu alam akan menjaga kita semua," tutur Danny.
Sebagai generasi penerus, Danny berpesan kepada masyarakat adat Desa Akar-Akar, agar senantiasa menjaga kekayaannya tradisi adat yang telah diwariskan oleh nenek moyang mereka terdahulu.
Hal itu penting dilakukan, mengingat nilai-nilai yang terkandung di setiap prosesi ritual yang laksanakan sangatlah dalam dan tidak ternilai harganya.
Pada momen yang baik itu Kepala Desa Akar Akar, Akarman sangat berharap kepada pemerintah daerah agar Ritual Adat Empas Menanga tersebut tidak hanya menjadi gawe pemerintah desa, tetapi juga menjadi gawe tahunan pemerintah daerah dengan mencantumkan di Kalender Event Kebudayaan.
"Kami melihat di Kalender Tahunan Pemda ada Mandi Safar, sementara Mandi Safar ini ada di tiap kabupaten, di Kabupaten Bima juga ada, di Lombok Timur juga ada," tutur Akarman.
"Tetapi kalau Ritual Empas Menanga ini saya pikir hanya ada di Desa Akar-Akar. Saya pikir ini lebih unik kalau kita masukkan di Kalender Tahunan Kabupaten Lombok Utara dalam rangka promosi budaya maupun pariwisata," imbuh Akarman lagi.
Dengan diempas-nya atau dikurasnya isi Muara Mual sebagai simbol panen raya masyarakat adat tersebut, Akarman berharap, masyarakat di Desa Akar Akar dapat dijauhkan dari segala penyakit, musibah dan keburukan lainnya, serta para petani mendapatkan hasil panen yang melimpah.
Acara ritual melestarikan alam dan lingkungan ini dengan harapan sumber mata air dan sungai tetap dapat dipelihara dengan baik. Melalui kegiatan rutin yang dilakukan ini diharapkan selalu memegang teguh prinsip mempolong dan merenten (gotong royong). Sehingga setiap permasalahan baik adat ataupun tidak akan dapat diselesaikan dengan baik.
Reporter: bbn/lom
Berita Terpopuler
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4371 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2043 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 1911 Kali
Rem Blong, Truk Bermuatan Batu Terjun ke Jurang di Sidemen
Dibaca: 1575 Kali
Sidak Cafe di Payangan, Polisi dan BNN Gianyar Tes Urine 21 Orang
Dibaca: 1412 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan