Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 14 Mei 2026
Hilang 17 Tahun, Pria Dikira Sudah Meninggal oleh Keluarga
BERITABALI.COM, NTB.
Hanam (50 tahun), pria asal Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang kesasar ke Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) rupanya sudah hilang sejak 17 tahun lalu. Hanam diduga hilang dalam kondisi gangguan jiwa.
Saat hilang, keluarga Hanam pun sudah mencoba mencarinya ke mana-mana, namun tak ketemu. Bahkan dianggap sudah meninggal dunia.
"Menurut cerita keluarganya (Hanam) dari 2005 dia meninggalkan Lombok Timur dan yang bersangkutan ada sedikit gangguan jiwa," kata Kapolresta Kendari Kombes Pol Muhammad Eka Faturahman, Kamis (5/5) dikutip detikcom.
Eka mengungkapkan, polisi menggali informasi mengenai Hanam menggunakan bahasa Sasak, Lombok. Sebab, Hanam lebih lancar diajak berkomunikasi menggunakan bahasa daerahnya.
"Kebetulan saya bisa bahasa Sasak, karena pernah tugas di Lombok. Saya coba pancing untuk mengingat kembali," bebernya.
Dia pun sedikit demi sedikit mendapatkan informasi mengenai Hanam. Hingga akhirnya, polisi mengetahui identitas dan asal kampung halamannya lalu segera mengonfirmasi dengan pihak keluarga dan perangkat daerah di Lombok Timur.
"Tadi saya komunikasi dengan pak Camat Montong Gading (Lombok Timur) dan keluarganya, mereka hafal betul dengan Pak Hanam dengan ciri fisiknya (membenarkan)," ujarnya.
Eka menuturkan, Hanam diketahui meninggalkan rumah dalam kondisi trauma berat.
"Keluarga sudah berusaha mencari sampai menyerah dan menganggap Hanam sudah meninggal dunia," bebernya.
Walaupun dalam kondisi gangguan kejiwaan, Eka mengungkapkan Hanam diketahuinya tidak pernah melakukan tindak kekerasan ataupun mengamuk. Hanam juga dikenal sebagai sosok yang rajin.
"Hanam tidak pernah melakukan kekerasan atau mengamuk, dia juga terkenal rajin bekerja," sebutnya.
Diberitakan sebelumnya, Hanam tengah berada di Pelabuhan Wawonii Kendari. Dia sudah lima hari berada di pelabuhan dan mengaku ingin pulang jika sudah punya uang.
"Mau pulang tapi kumpul uang dulu, kerja-kerja di sini (pelabuhan Wawonii)," kata Hanam.
Hanam mengaku sudah berada di Pelabuhan Wawonii Kendari sebelum Lebaran Idul Fitri. Namun ia tidak begitu ingat persis waktunya.
"Iya sebelum Lebaran (datang ke pelabuhan sini)," ujar dia.
Seingatnya, ia sempat naik Kapal Feri dari Pelabuhan NTB menuju Pelabuhan Sumbawa NTT. Setelah itu, ia naik sebuah mobil lalu diturunkan di depan Pelabuhan Wawonii Kendari.
"Naik Feri dari Kayangan (Pelabuhan NTB) ke Tano (Pelabuhan Sumbawa NTT), terus naik mobil diturunkan di depan pelabuhan Wawonii Kendari," ujarnya.
Hanam mengaku tidak membawa identitas diri selama perjalanan sampai ke Kendari. Ia hanya membawa tas dan beberapa lembar pakaian saat tiba di pelabuhan tersebut.
"Ada baju sama tas di sana," ucap dia.
Hanam saat ini tengah berada di Pelabuhan Wawonii dan mengaku ingin pulang jika sudah punya uang. Dia tak begitu banyak bicara dan mengaku tidak mengetahui persis mengapa dirinya bisa tiba-tiba berada di Kendari.
"Dari Montong Betok Lombok (asal daerahnya)," kata Hanam saat ditanya alamat kampung halamannya.
Hanam mengaku tidak membawa identitas diri selama perjalanan sampai ke Kendari. Ia hanya membawa tas dan beberapa lembar pakaian saat tiba di pelabuhan tersebut. Sejak berada di Kendari, Hanam bekerja apapun yang bisa menghasilkan uang.
Sementara itu, salah satu pedagang di Pelabuhan Wawonii, Rahmatia menuturkan kedatangan Hanam di tempat tersebut tidak begitu jelas. Informasi yang didapatkan, Hanam turun di depan gerbang pelabuhan Wawonii Kendari usai diturunkan sopir mobil.
"Dia bilang ke sini naik mobil, turun di depan pelabuhan," ujar dia.
Rahmatia mengungkapkan Hanam terbilang sulit diajak berkomunikasi. Kerapkali ia menggunakan bahasa yang tidak dipahami olehnya dan warga pelabuhan. Sehingga, warga tidak bisa menggali identitasnya lebih jauh.
"Masalahnya dia juga tidak punya KTP jadi susah kita mau tahu identitasnya. Coba ada, bisa kita tahu asal pastinya. Dia hanya bilang kalau dari Terara saat ditanya Basarnas kemarin," kata Rahmatia.
Pedagang lainnya, Burhanuddin menuturkan, selama berada di pelabuhan Hanam merupakan pria yang rajin. Hanam menghabiskan hari-harinya dengan membersihkan halaman pelabuhan dan membantu para pedagang. Imbalannya, Hanam kerap diberi makan dan uang.
"Selama ada di pelabuhan dia suka bantu pedagang di sini, bersih-bersih, menyapu sampai menyiram," beber Burhanudin.
Para pedagang setempat pun disebutnya cukup senang dengan keberadaan Hanam. Burhanudin menuturkan Hanam kerapkali menyebut hendak pulang, namun tak memiliki ongkos untuk pulang.
"Katanya masih kumpul-kumpul uang dulu untuk pulang," sebutnya.
Reporter: bbn/lom
Berita Terpopuler
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1259 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 977 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 805 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 735 Kali
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik