Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 17 Mei 2026
Rusia-China Veto Rencana DK PBB Tambah Sanksi Korea Utara
BERITABALI.COM, DUNIA.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berencana untuk menerapkan lebih banyak sanksi ke Korea Utara imbas peluncuran rudal balistik terbaru negara itu. Namun, rencana tersebut di veto oleh China dan Rusia pada Kamis, (26/5).
Dewan Keamanan PBB mengadakan pemungutan suara untuk menerapkan resolusi baru usulan Amerika Serikat yang melarang ekspor tembakau dan minyak ke Korut, Kamis (26/5).
Resolusi tersebut juga berencana memasukkan kelompok peretas Lazarus ke daftar hitam. AS sendiri menuding kelompok itu berhubungan dengan Korut.
Sebanyak 13 negara anggota dewan menyetujui resolusi ini, tetapi Rusia dan China menolak. Duta Besar AS untuk PBB, Linda Thomas-Greenfield, mendeskripsikan proses pemungutan suara itu merupakan hari yang mengecewakan bagi dewan.
"Dunia berhadapan dengan bahaya yang jelas dan muncul dari DPRK (Korea Utara). Tindakan terbatas dan diam dewan tidak menghapus ataupun mengurangi ancaman. Malah, DPRK menjadi semakin berani," kata Thomas-Greenfield.
Selain itu, ia mengatakan bahwa Korut telah meluncurkan enam rudal balistik antarbenua (ICBM) pada tahun ini dan terus bersiap melangsungkan uji coba nuklir. Namun, Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia menilai sanksi tersebut tak efektif.
"Pemberian sanksi baru untuk DPRK merupakan jalan buntu. Kami telah menekankan ketidakefektifan dan ketidakmanusiawian dari memperbanyak sanksi ke Pyongyang," ujar Nebenzia seperti dikutip Reuters.
Pendapat yang serupa juga diutarakan oleh Duta Besar China untuk PBB, Zhang Jun. Menurutnya, sanksi tambahan ke Korut tak bakal menyelesaikan masalah dan berpotensi lebih banyak membawa dampak negatif dan eskalasi konfrontasi.
"Situasi di Semenanjung [Korea] telah berkembang seperti sekarang ini imbas kelabilan kebijakan AS dan kegagalan untuk menerapkan hasil dialog sebelumnya," tutur Zhang.
Sementara itu, pemilihan suara ini diadakan beberapa waktu setelah Korut meluncurkan tiga rudal. Salah satu rudal ini diduga merupakan rudal balistik terbesar negara itu.
Peluncuran ini dilakukan saat Presiden AS Joe Biden berkunjung ke Asia. Selama 16 tahun terakhir, Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat menyetujui penerapan lebih banyak sanksi ke Korut demi menekan pembiayaan program nuklir dan rudal balistik Pyongyang.
PBB terakhir kali memperketat sanksi ke Korut pada 2017. Walaupun demikian, China dan Rusia mulai menolak penerapan lebih banyak sanksi ke Korut dengan alasan kemanusiaan.
Kedua negara itu dikabarkan sempat memperlama penjatuhan sanksi ke Korut lewat aksi tertutup. Namun, veto dari China dan Rusia ini merupakan yang pertama kalinya ditunjukkan ke ruang publik dan memecah persatuan Dewan Keamanan PBB.
China sendiri juga sempat mendesak AS untuk mencabut sanksi unilateral demi kembali melangsungkan dialog dengan Pyongyang. Dialog antara Korut dan AS mandek sejak 2019 karena kegagalan pertemuan antara Pemimpin Kim Jong-un dan mantan presiden Donald Trump.
Imbas veto ini, Dewan Keamanan PBB bakal membicarakan masalah Korut dengan 193 anggota badan tersebut dalam dua pekan ke depan.(sumber: cnnindonesia.com)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1491 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 1124 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 968 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 859 Kali
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik