Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 5 Juli 2026
Bagaimana Nasib Terra Luna Usai Timbulkan Kerugian 876 T
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Para pendukung proyek cryptocurrency Terra bakal kembali menghidupkan aset kripto dengan blockchain dan token LUNA baru. Adapun para pendiri juga telah mencari langkah untuk proyek yang beberapa waktu yang lalu mengalami kejatuhan itu.
Diketahui runtuhnya proyek Terra menyebabkan kerugian gabungan sekitar US$ 60 miliar (Rp 876 triliun) antara stablecoin (UST) dan LUNA. Awal bulan ini, UST anjlok di bawah patokan USD 1, yang memicu aksi jual mata uang kripto.
Seperti banyak stablecoin, UST dipatok pada rasio 1 banding 1 dengan dolar. Adapun untuk mencetak satu UST baru perlu menghancurkan satu LUNA.
Struktur itu memungkinkan peluang arbitrase yang merupakan kunci untuk mempertahankan pasak. Di mana pengguna selalu dapat menukar satu LUNA untuk UST dan sebaliknya dengan harga USD 1, terlepas dari harga pasar kedua token pada saat itu.
"Apa yang dilakukan ekosistem LUNA adalah mereka memiliki kebijakan moneter yang sangat agresif dan optimis yang cukup berhasil ketika pasar berjalan dengan sangat baik. Namun mereka memiliki kebijakan moneter yang lemah ketika kita menghadapi 'pasar sedang turun'," kata investor Web3 Stuti Pandey, dikutip CNBC Internasional, Minggu (29/5/2022).
Sementara mitra pengelola Hartmann Capital Felix Hartmann mengatakan bahwa proyek tersebut belum dipastikan dapat membangun kembali kepercayaan para investor.
"Ini juga akan membutuhkan banyak usaha keras dari para pendiri LUNA karena mereka tidak akan lagi memiliki kapitalisasi pasar miliaran dolar yang dimiliki sebelumnya. Mereka kemungkinan akan mulai dari dasar lagi," tambahnya.
Belum lagi, saat ini stablecoin tengah menjadi perhatian utama dari para regulator. Hal ini karena kurangnya transparansi dalam perdagangan stablecoin serta ketergantungan pelaku pasar pada mereka untuk memungkinkan perdagangan di protokol crypto lainnya.
Veteran industri kripto dan profesor di Columbia Business School Omid Malekan menegaskan bahwa stablecoin sebagai ide sudah mati.
"Ada yang lain di luar sana yang tidak sebesar UST, dan mereka semua dalam kondisi gagal untuk mempertahankan pasak saat ini. Kegagalan itu telah membuat stablecoin lain yang lebih konservatif tampak sangat menarik. Tetapi pertanyaan terbuka sekarang adalah tanggapan regulasi seperti apa yang didapat seluruh industri," pungkas dia. (Sumber: CNBC Indonesia)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3542 Kali
Risiko terhadap Momentum Digital Indonesia
Dibaca: 1126 Kali
Peserta JKN Tembus 282,7 Juta, BPJS Kesehatan Catat Kinerja Positif
Dibaca: 530 Kali
CBR Tabrak Truk di Sibetan, Pemotor Tewas di Tempat
Dibaca: 503 Kali
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun