Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 16 Mei 2026
3 Hewan Yang Tidak Memiliki Alat Pencernaan
BERITABALI.COM, DUNIA.
Sedikitnya ada tiga hewan yang tidak memiliki alat pencernaan. Kendati demikian, mereka bisa hidup sampai ratusan tahun. Kebanyakan spesies hewan yang tidak memiliki sistem pencernaan ini adalah jenis cacing.
Namun ada juga spesies lain yang memiliki sistem pencernaan yang tidak lengkap.
Berikut tiga hewan yang tidak memiliki alat pencernaan seperti dilansir national geographic :
1. Platypus
Platypus memang dikenal dengan hewan yang unik. Dia seperti bebek yang sama sama bertelur namun juga seperti mamalia yang menyusui anaknya.
Hal unik lainnya dari platipus adalah kerongkongannya yang langsung terhubung ke usus tanpa mempunyai lambung. Dengan kata lain platipus tidak memiliki perut.
Penyebab hewan ini tidak memiliki perut menurut peneliti adalah dari nenek moyangnya yang beralih makanan sehingga membuat enzim pepsinogen yang berfungsi sebagai proses pencernaan protein dalam makanan. Seiring berjalannya waktu tubuh hewan ini membangun mutasi baru dan melemahkan zat yang sudah tidak berfungsi.
Hal ini ternyata tidak hanya terjadi pada platypus. Ada beberapa hewan yang mengalami ini juga, diantaranya seperti lungfish dan chimera.
2. Cacing Pita
Cacing yang suka berada di dalam usus manusia ini termasuk ke dalam kelas cestoda. Tidak hanya berada di manusia, jenis cacing ini juga memiliki inang di hewan lain seperti kucing, anjing dan sapi.
Cacing ini tidak memiliki mulut, sementara itu tubuhnya bersegmen dan menyatu dengan kepala. Cacing ini juga bersifat hermafrodit dimana sistem syaraf menyatu dengan sistem ekskresi.
Mengerikannya, cacing ini bisa mencapai panjang 25 meter dan hidup selama 30 tahun. Karena itu manusia harus waspada akan serangan cacing ini karena dapat menimbulkan penyakit.
3.Cacing Paracetanula
Meskipun tidak memiliki mulut dan usus, cacing ini bisa bertahan hidup selama 500 tahun. Cacing ini hidup di dasar laut dengan iklim sedang.
Karena tidak memiliki mulut dan usus dan anus untuk mengeluarkan kotoran, cacing ini ternyata mendapatkan makanan melalui bakteri yang ada di dalam tubuhnya. Cacing pipih ini bersimbiosis dengan bakteri yang ada di dalamnya.
Bakteri Reigeria ini hidup di dalam organ khusus bernama troposom dan mengisi rongga tubuh utama cacing. Bakteri inilah yang membuat tubuh cacing berwarna putih dan bagian lain yang tidak terisi bakteri berwarna transparan.
Cacing paracetanula bertahan hidup dari bakteri yang melakukan proses kemosintetik atau perubahan energi. Proses inilah yang nantinya memberi makan cacing.(sumber: sindonews.com)
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1422 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 1080 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 922 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 817 Kali
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik