Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 3 Agustus 2026
Gempa M 7,3 di Filipina Hancurkan Situs Bersejarah UNESCO
BERITABALI.COM, DUNIA.
Gempa Magnitudo 7,3 yang mengguncang Filipina pada Rabu (27/7) menghancurkan salah satu situs bersejarah yang terdaftar di Organisasi Pendidikan, Sains, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO). Pemandu wisata di situs bersejarah Vigan, Ilocos Sur, menunjukkan sejumlah kerusakan bangunan di sana.
Dalam foto yang dirilis CNN Filipina dalam Twitter, tampak reruntuhan tembok memenuhi jalanan kota itu. Pada gambar lain, terlihat dinding gedung di sana runtuh dan menyisakan bata merah.
Tampak pula reruntuhan seng berwarna hijau yang ditemani dengan puing tembok besar di foto tersebut. Sebagaimana ditulis UNESCO, Kota Vigan merupakan salah satu contoh terbaik dari suasana kota Spanyol pada masa kolonial yang berada di Asia.
Selain merusak beberapa bangunan, sebuah video menunjukkan sejumlah orang berupaya menyelamatkan diri saat bebatuan dan debu jatuh dari Menara Bantay Bell kala gempa. Menara itu terletak di Kota Vigan.
Baca juga:
Gempa Magnitudo 7,3 Guncang Filipina
Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina (Phivolcs) melaporkan gempa tektonik tersebut terjadi di Tayum, Provinsi Abra pada pukul 08.43 waktu setempat.
Phivolcs juga menyampaikan kemungkinan gempa susulan terjadi. Gempa ini menyebabkan kerusakan di beberapa gedung dan jalanan.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Harga Pertamax Series Turun Mulai 1 Agustus, Ini Rinciannya
Dibaca: 343 Kali
Bali Siaga Kekeringan, Buleleng-Jembrana Diprediksi Terdampak
Dibaca: 288 Kali
KPU Bali Temukan Ribuan Data Pemilih Belum Sinkron
Dibaca: 220 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun