Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 16 Mei 2026
Swiss Bakal Sanksi Ekonomi China Jika Invasi Taiwan
BERITABALI.COM, DUNIA.
State Secretariat for Economic Affairs (SECO) selaku badan Pemerintah Swiss yang menerapkan sanksi ekonomi, tidak ragu-ragu untuk mengadopsi aturan milik Uni Eropa kepada China. Sanksi tersebut akan diberlakukan oleh Swiss apabila China terbukti menginvasi Taiwan.
Baca juga:
Banjir Besar di Kentucky AS, 25 Orang Tewas
"Saya sangat percaya bahwa kami akan mengadopsi sanksi semacam itu," ungkap Direktur SECO Marie-Gabrielle Ineichen Fleisch kepada Neue Zürcher Zeitung, seperti diberitakan oleh Reuters, Sabtu (30/7).
Komentar dari Ineichen-Fleisch ini hadir setelah China dilaporkan meningkatkan aktivitas militer di sekitar perairan Taiwan. Saat proses latihan berlangsung, wilayah perairan tersebut akan diblokade atau tidak bisa dimasuki oleh siapapun.
Terkait hal itu, Pemerintah Taiwan mengatakan bahwa 23 juta rakyat Taiwan berhak menentukan sendiri nasib dan masa depan mereka. Meski menginginkan perdamaian, mereka akan membela dirinya sendiri jika nantinya diserang.
Sanksi ekonomi yang diberlakukan terhadap China tentu akan menelan berbagai konsekuensi. Menurut Ineichen-Fleisch, konsekuensi tersebut mengharuskan banyak pihak, terutama negara netral, untuk lebih berhati-hati dalam menerapkan kebijakan serupa.
Karena baginya, konsekuensi ekonomi yang akan terjadi memiliki dampak lebih besar, bahkan jika dibandingkan dengan sanksi ekonomi yang telah dijatuhkan kepada Rusia.
"Namun, sanksi dalam kasus China akan menjadi lebih drastis (daripada sanksi terhadap Rusia) karena hubungan ekonomi yang jauh lebih penting," tutur Ineichen-Fleisch.
"Oleh karena itu, mungkin akan ada diskusi yang lebih besar di Uni Eropa, Amerika Serikat, serta di Swiss jika dibandingkan dengan yang terjadi dengan Rusia," imbuhnya.
"Namun saya berharap itu tidak akan pernah terjadi," lanjut Ineichen-Fleisch.
Sebelumnya, Swiss memberlakukan sanksi ekonomi sesuai aturan Uni Eropa terhadap individu dan perusahaan dari Rusia, sebagai buntut invasi dan serangan Rusia ke Ukraina pada Februari lalu.
Dilansir melalui laporan Reuters, Swiss telah membekukan aset keuangan Rusia senilai 6.7 miliar Swiss francs atau setara dengan Rp104,24 triliun (1 swiss francs = Rp15,5 ribu) hingga hari ini. Menurut Ineichen-Fleisch, nilai tersebut tidak akan banyak berubah.
"Di SECO, kami belum menemukan indikasi bahwa masih banyak aset milik orang terkena sanksi yang belum ditemukan," cetusnya.
Sementara itu, hubungan yang terjadi antara China dan Taiwan mulai memanas setelah wacana kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taiwan. Sejumlah sumber Pemerintah China bahkan mengklaim Beijing sudah mempersiapkan berbagai langkah, termasuk opsi militer, merespons lawatan Pelosi ke Taiwan jika benar-benar terjadi.
Dalam sambungan telepon dengan Presiden Joe Biden pada Kamis (28/7), Presiden China Xi Jinping melayangkan ultimatum kepada AS agar 'tak bermain dengan api' soal Taiwan.
Pelosi sendiri menolak mengonfirmasi kunjungannya ke Taiwan secara publik, tetapi telah mengundang sejumlah politikus untuk menemaninya.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1421 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 1079 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 921 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 815 Kali
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik