Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 20 September 2026
Pakar Rusia: Rezim Putin di Ambang Tamat
BERITABALI.COM, DUNIA.
Seorang pakar studi politik Rusia menilai pemerintahan Presiden Vladimir Putin di negara itu "mulai berakhir" di tengah invasi Kremlin ke Ukraina.
Baca juga:
AS-China Terancam Perang Gegara Ini
Pakar tersebut, Iver Neumann, menilai kemungkinan berakhirnya pemerintahan Putin ini tak lepas dari dampak invasi Rusia ke Ukraina. Imbas invasi itu, Rusia diterpa berbagai macam sanksi ekonomi, membuat ekonomi Kremlin jatuh.
Tak hanya sanksi, banyaknya perusahaan yang menarik diri dari Rusia dan penolakan penerimaan ekspor Rusia dari berbagai negara juga dapat membawa dampak negatif bagi ekonomi negara itu.
"Putin mengatakan 'Barat bakal mendapatkan ekonomi mereka dan kita [Rusia] memiliki tekad, dan dengan tekad itu kita bisa bertahan.' Namun, dunia tak bekerja seperti itu. Maka dari itu, saya berpikir ini merupakan awal dari berakhirnya rezim Putin," ujar Neumann dalam wawancara bersama Radio Free Europe.
"Jadi, sejak Putin menjabat pada 22 tahun lalu, sangat sedikit, yang terjadi kepada ekonomi. Dan saya merasa terkejut seorang Marxis terlatih seperti Putin tidak menyadari bahwa faktor material adalah esensinya," lanjutnya.
Namun, Neumann menuturkan masih sulit memprediksi kapan rezim itu bakal hancur, pun apa yang terjadi setelah kehancuran itu.
"Rezimnya telah melakukan pekerjaan yang teliti untuk mengusir pemikiran dan pekerja liberal yang terorganisasi di Rusia. Buruk untuk negara, baik untuk rezim Putin," tutur Neumann, dikutip dari Newsweek.
Putin sendiri meluncurkan invasi ke Ukraina sejak Februari lalu. Setelah sempat gagal menguasai ibu kota Ukraina, Kyiv, Rusia mengubah strategi dan berfokus pada 'pembebasan' wilayah Donbas.
Di tengah invasi tersebut, Rusia diterpa berbagai macam sanksi ekonomi. Setengah dari simpanan Bank Sentral Rusia dibekukan, Rusia juga diputus dari sistem pembayaran internasional SWIFT.
Tak hanya itu, lebih dari 1.000 perusahaan Barat minggat dari Rusia. Rusia juga tak bisa mendapatkan ekspor teknologi, teknisi penerbangan, elektronik, dan barang-barang mewah dari Uni Eropa.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Sopir Truk di Muncan Karangasem Dibakar Hidup-hidup, Diduga Soal Setoran
Dibaca: 7849 Kali
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5635 Kali
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3532 Kali
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2388 Kali
ABOUT BALI
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan