Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 6 Agustus 2026
Rusia Tuduh NATO Biang Kerok Eskalasi Risiko Perang Nuklir
BERITABALI.COM, DUNIA.
Rusia menganggap Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) jadi biang kerok eskalasi risiko perang nuklir di dunia. Russia Today melaporkan Kremlin menilai pengerahan senjata nuklir Amerika Serikat di negara-negara anggota NATO non-nuklir bertentangan dengan perjanjian non-proliferasi nuklir (NPT).
Baca juga:
Korsel Dongkol Dituduh Sebar Covid ke Korut
Langkah AS dan NATO itu pun disebut menaikkan risiko konflik dan menghambat upaya bersama soal pelucutan senjata nuklir.
"NATO Secara terbuka mendeklarasikan sebagai aliansi nuklir. Di sana kini ada senjata nuklir AS di teritori sekutu mereka yang tidak memiliki kekuatan nuklir," demikian pernyataan delegasi Rusia di Konferensi Proliferasi Nuklir PBB di New York, Igor Vishnevetsky.
Vishnevetsky kemudian menilai NATO dan AS telah melanggar NPT Pasal 2 dan 2 tentang negara anggota NATO non-nuklir yang ambil bagian dalam pengujian penggunaan senjata atom.
"[Tindakan itu] tak hanya melanggengkan dampak buruk keamanan di Eropa dan internasional, tapi juga meningkatkan konflik nuklir dan memutus upaya pelucutan nuklir di lapangan," kata Vishnevetsky.
Rusia kemudian mendesak AS menarik dan menyingkirkan senjata nuklir maupun fasilitasnya di teritori negara-negara di Eropa.
Misi nuklir bersama NATO juga diminta Kremlin segera dihentikan. Masih dalam laporan Russia Today, Kremlin mengklaim Angkatan Udara AS saat ini memiliki 150 bom nuklir di Italia, Jerman, Turki, Belgia, dan Belanda.
Delegasi Rusia juga menyinggung rencana pembentukan aliansi Australia-Inggris-AS (AUKUS) membangun kapal perang nuklir di Negeri Kanguru. Rencana ini dianggap bisa menjadi awal lomba senjata di Asia-Pasifik.
Permintaan penarikan nuklir dari negara-negara anggota NATO non-nuklir merupakan satu dari sejumlah poin proposal yang pernah disampaikan Kremlin ke AS dan NATO pada Desember 2021.
Namun, Kremlin menyebutkan bahwa AS dan sekutunya sama sekali tak membahas permintaan Rusia itu dalam surat tanggapan yang mereka kirim pada Januari.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 3387 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1310 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 921 Kali
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 843 Kali
Pedagang Sayur Dikeroyok Sekelompok Pemuda di Denpasar
Dibaca: 682 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun