Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 6 Agustus 2026
Ramai Berita Ferdy Sambo, Bagaimana Beri Penjelasan ke Anak?
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Berita kasus pembunuhan polisi Brigadir J seolah-olah memborbardir di media massa. Bukan tidak mungkin ditonton atau didengar oleh anak-anak yang kerap kali mengumbar kata-kata pembunuhan, penembakan, perzinaan.
Agar tidak membawa dampak buruk bagi kejiwaan anak, lantas bagaimana seharusnya memberi penjelasan dan batasan terkait hal itu?
Psikolog yang juga dosen Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha, Efnie Indrianie mengatakan penting bagi orangtua untuk memberi prolog atau menginformasikan terlebih dahulu kepada anak hal yang sedang ramai diberitakan.
"Kadang-kadang kita enggak bisa membatasi, bisa saja tanpa sengaja seorang anak terpapar berita dimanapun dengan berita apapun," kata Efnie.
"Maka yang perlu diperhatikan bagi orangtua adalah ketika ada sesuatu yang happening banget, maka perlu untuk menginformasikan terlebih dahulu ke anak," pesan Efnie, Jumat, 12 Agustus 2022.
Pemberian informasi ini teramat penting bagi anak berusia di atas tujuh tahun yang sudah bisa membaca. Lewat informasi yang lebih dahulu diberikan orangtua anak jadi bisa membentuk konsep berpikir bahwa 'Oh itu suatu kejahatan ya, hal kriminal yang tidak boleh diikuti.'
Sementara itu, bagi anak di bawah tujuh tahun, Efnie mengatakan tidak ada salahnya memberi tahu tentang kejadian yang sedang diberitakan di banyak media itu sehingga anak bisa memiliki batasan konsep.
"Kalau di bahwa tujuh tahun kan sudah bisa dengar. Jadi, enggak ada salahnya kasih prolog ke mereka. 'Nanti kalau dengar ada berita ada pak polisi nembak, hati-hati ya, enggak perlu Dedek dengar lebih lanjut. Itu sesuatu yang tidak perlu didengarkan lagi. Nanti bisa takut, seram dan mimpi buruk lho'," contohnya.
Berita terus menerus mengenai pembunuhan, penembakan, dan pemberitaan kriminalitas bisa terekam dalam memori anak. Jika tidak diberi batasan konsep, hal tersebut bisa menginspirasi anak anak.
"Tidak hanya bisa menginspirasi tapi juga mengotori sistem informasi anak," kata Efnie.
"Memori terkait kriminalitas, kekerasan dan sesuatu yang mengguncang emosi itu bisa terkunci di amigdala otak. Amigadala adalah bagian otak yang berkaitan dengan proses emosional. Sehingga bila tidak diberi batasan konsep hal itu bisa membuat kotor memori jangka panjang untuk seorang anak.
"Memori yang terisi itu kan harusnya hal-hal yang baik ya atau memori bersih. Misalnya menonton berita sosok anak yang inspiratif, " pesan Efnie.
Maka dari itu berikan pemahaman kepada anak mengenai apa yang terjadi dengan bahasa mereka. Lalu, ingatkan bahwa hal tersebut perlu disikapi dengan berhati-hati dan bukan untuk ditiru. (sumber: liputan6.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 3550 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1324 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 923 Kali
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 847 Kali
Pedagang Sayur Dikeroyok Sekelompok Pemuda di Denpasar
Dibaca: 691 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun