Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 17 Mei 2026
Ramai Berita Ferdy Sambo, Bagaimana Beri Penjelasan ke Anak?
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Berita kasus pembunuhan polisi Brigadir J seolah-olah memborbardir di media massa. Bukan tidak mungkin ditonton atau didengar oleh anak-anak yang kerap kali mengumbar kata-kata pembunuhan, penembakan, perzinaan.
Agar tidak membawa dampak buruk bagi kejiwaan anak, lantas bagaimana seharusnya memberi penjelasan dan batasan terkait hal itu?
Psikolog yang juga dosen Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha, Efnie Indrianie mengatakan penting bagi orangtua untuk memberi prolog atau menginformasikan terlebih dahulu kepada anak hal yang sedang ramai diberitakan.
"Kadang-kadang kita enggak bisa membatasi, bisa saja tanpa sengaja seorang anak terpapar berita dimanapun dengan berita apapun," kata Efnie.
"Maka yang perlu diperhatikan bagi orangtua adalah ketika ada sesuatu yang happening banget, maka perlu untuk menginformasikan terlebih dahulu ke anak," pesan Efnie, Jumat, 12 Agustus 2022.
Pemberian informasi ini teramat penting bagi anak berusia di atas tujuh tahun yang sudah bisa membaca. Lewat informasi yang lebih dahulu diberikan orangtua anak jadi bisa membentuk konsep berpikir bahwa 'Oh itu suatu kejahatan ya, hal kriminal yang tidak boleh diikuti.'
Sementara itu, bagi anak di bawah tujuh tahun, Efnie mengatakan tidak ada salahnya memberi tahu tentang kejadian yang sedang diberitakan di banyak media itu sehingga anak bisa memiliki batasan konsep.
"Kalau di bahwa tujuh tahun kan sudah bisa dengar. Jadi, enggak ada salahnya kasih prolog ke mereka. 'Nanti kalau dengar ada berita ada pak polisi nembak, hati-hati ya, enggak perlu Dedek dengar lebih lanjut. Itu sesuatu yang tidak perlu didengarkan lagi. Nanti bisa takut, seram dan mimpi buruk lho'," contohnya.
Berita terus menerus mengenai pembunuhan, penembakan, dan pemberitaan kriminalitas bisa terekam dalam memori anak. Jika tidak diberi batasan konsep, hal tersebut bisa menginspirasi anak anak.
"Tidak hanya bisa menginspirasi tapi juga mengotori sistem informasi anak," kata Efnie.
"Memori terkait kriminalitas, kekerasan dan sesuatu yang mengguncang emosi itu bisa terkunci di amigdala otak. Amigadala adalah bagian otak yang berkaitan dengan proses emosional. Sehingga bila tidak diberi batasan konsep hal itu bisa membuat kotor memori jangka panjang untuk seorang anak.
"Memori yang terisi itu kan harusnya hal-hal yang baik ya atau memori bersih. Misalnya menonton berita sosok anak yang inspiratif, " pesan Efnie.
Maka dari itu berikan pemahaman kepada anak mengenai apa yang terjadi dengan bahasa mereka. Lalu, ingatkan bahwa hal tersebut perlu disikapi dengan berhati-hati dan bukan untuk ditiru. (sumber: liputan6.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 1488 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 1120 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 965 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 858 Kali
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik