Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 7 Agustus 2026
Profil Ayah Korban Bom Mobil, Ingin Ukraina Gabung Rusia
BERITABALI.COM, DUNIA.
Darya Dugina, anak filsuf Rusia, Alexander Dugin, tewas dalam serangan bom mobil dekat Moskow pada Sabtu (20/8). Dugina diduga sedang menggunakan mobil ayahnya dan kemungkinan serangan itu bukan ditujukan kepada dia.
Berdasarkan penjelasan Reuters, Minggu (21/8), Dugin (60) adalah orang yang sudah lama menganjurkan penyatuan wilayah berbahasa Rusia dan wilayah lain di kerajaan baru Rusia. Dia menginginkan Ukraina masuk ke dalam penyatuan ini.
Dalam bukunya pada 1997 'The Foundations of Geopolitics: The Geopolitical Future of Russia', Dugin sangat kritis pada pengaruh Amerika Serikat di Eurasia dan menyerukan Rusia membangun kembali otoritasnya sendiri dan menganjurkan memecah wilayah negara lain.
Buku ini masuk dalam daftar bacaaan tentara, tetapi tak ada indikasi Dugin pernah memiliki pengaruh langsung pada kebijakan luar negeri Rusia.
Pengaruh Dugin pada Presiden Rusia Vladimir Putin merupakan spekulasi. Beberapa pengamat Rusia menyatakan bahwa pengaruhnya signifikan, tetapi yang lain menyebut minim. Dugin tak punya hubungan resmi dengan Kremlin.
AS pernah menjatuhkan sanksi pada Dugin pada 2015 karena 'bertanggung jawab atas tindakan atau kebijakan yang mengancam perdamaian, keamanan, stabilitas atau kedaulatan atau integritas teritorial Ukraina'.
Kementerian Keuangan AS mengatakan Dugin mengontrol Geopolitica, situs yang jadi rujukan bagi nasionalis Rusia untuk menyebarkan disinformasi dan propaganda yang menargetkan audiens Barat.
Buku yang ditulis Dugin meninggikan ketenarannya. Pada awal 1990-an dia ikut mendirikan Partai Bolshevik Nasional (NBP) yang sangat mendukung pandangan anti-sentris dan menggunakan bendera merah dengan palut dan arit hitam di tengahnya.
Dugin meninggalkan NBP sekitar satu dekade sebelum dinyatakan sebagai 'organisasi ekstremis' pada 2007 dan dilarang beroperasi di Rusia.
Dia pernah bekerja sebagai pemimpin redaksi Tsargrad TV, saluran Kristen Ortodoks pro-Kremlin yang dimiliki pengusaha Kontantin Malofeev.
Malofeev dijatuhi sanksi oleh AS dan Uni Eropa pada 2014 atas tuduhan mendanai separatis pro-Moskow yang bertempur di Ukraina. Dia membantah tuduhan itu.
Dugin menulis pada situs Tsargrad pada Mei yang isinya mengatakan operasi militer Rusia di Ukraina butuh 'reformasi patriotik' segera.
Dia menulis bahwa 'Rusia baru, abadi benar dan mendalam' perlu didirikan untuk menarik orang-orang Ukraina.
"Ukraina dapat menjadi bagian integral dan organik dari ini. Ukraina harus memahami bahwa kami mengundang mereka untuk menciptakan kekuatan baru yang besar ini. Juga Belarusia, Kazakhs, Armenia, tetapi juga Azerbaijan, Georgia dan semua orang yang tidak hanya ada dan bersama kita, tetapi juga akan," tulis dia.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4199 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1439 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 943 Kali
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 874 Kali
Pedagang Sayur Dikeroyok Sekelompok Pemuda di Denpasar
Dibaca: 761 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun