Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 16 Agustus 2026
Sri Mulyani Ingatkan Ekonomi Dunia dalam Bahaya
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengingatkan bahwa ekonomi dunia berada dalam keadaan bahaya. Ia mengatakan bukan hal yang berlebihan jika ada peringatan bahwa kondisi ekonomi kini berada dalam bahaya.
Hal ini disampaikannya saat pembukaan pertemuan keempat dan sekaligus pertemuan terakhir para menteri keuangan dan gubernur bank sentral (FMCBG) di Washington DC, Rabu malam (12/10).
“Bukan hal yang berlebihan jika dikatakan bahwa kondisi ekonomi dunia kini berada dalam bahaya. Kita kini menghadapi risiko yang semakin parah dan memburuk, mulai dari tingginya inflasi, melambatnya pertumbuhan ekonomi, kerawanan energi dan pangan, krisis iklim dan fragmentasi geopolitik. Perang di Ukraina memperuncing krisis ketahanan pangan global dan nutrisi, menimbulkan kerentanan harga energi, pangan, dan pupuk, membatasi kebijakan perdagangan yang dapat diambil dan menimbulkan gangguan rantai pasokan,” ujarnya.
Ditambahkannya, konsekuensi dampak pandemi COVID-19 dan perubahan iklim membuat harga pangan masih akan tetap mahal dan pasar pupuk akan tetap rentan. Sementara gabungan dampak pandemi COVID-19 dan perang di Ukraina membuat harga energi melonjak, menimbulkan keprihatinan terhadap kelangkaan energi yang akhirnya menimbulkan dampak pada banyak negara, terutama negara-negara pengimpor energi.
Tanpa menyebut nama negara mana, Sri Mulyani mengkritisi pengambilan kebijakan untuk menyelamatkan perekonomian suatu negara yang berdampak ke negara lain, seperti upaya meredam inflasi dengan menaikkan tingkat suku bunga.
Sementara, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan untuk mengatasi berbagai isu itu, forum pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara-negara G20 Rabu malam memusatkan pembicaraan pada enam agenda.
“Pertama, bagaimana mengatasi secara bersama koordinasi secara dunia diantara G20 untuk memitigasi risiko stagflasi, juga kebijakan makro ekonomi dan moneter dunia. Kedua, bagaimana mengatasi resiko luka memar pandemic pada dunia usaha. Ketiga, kerjasama pembayaran antar negara dan CBDC. Keempat, inklusi ekonomi dan keuangan. Kelima, green sustainable finance. Keenam, perpajakan,” ujar Perry Warjiyo
Dalam forum yang dihadiri hampir seluruh pemangku kebijakan ekonomi G20, antara lain Direktur Bank Dunia David Malpass, Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva, Menteri Keuangan Amerika Janet Yellen, dan lainnya itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani menegaskan bahwa seluruh ancaman yang membayangi perekonomian dunia itu tidak dapat diselesaikan sendirian, sehebat apapun suatu negara.
Lewat akun instagramnya, Sri Mulyani menggarisbawahi keyakinannya bahwa “meski penuh tantangan menjaga keberlangsungan forum G20 di tengah badai ini, saya percaya keberadaan G20 dapat menjadi pilar harapan yang membantu dunia melewati situasi pelik ini. Perbedaan yang ada di setiap negara anggota G20 justru akan memunculkan opsi terbaik bagi dunia,” pungkasnya. (sumber: voaindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4536 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2351 Kali
Pria 28 Tahun Diduga Tewas Gantung Diri di Belakang Rumah Payangan
Dibaca: 2002 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1609 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1051 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun