Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 31 Oktober 2026
Persaingan Tak Sehat, Arak Gula Ancam Keberlangsungan Perajin Arak Tradisional
BERITABALI.COM, KARANGASEM.
Keputusan Gubernur Bali nomor 929/03-I/HK/2022 menetapkan tanggal 29 Januari sebagai Hari Arak Bali dengan tujuan mengajak masyarakat Bali menjadikan hari tersebut sebagai hari kesadaran kolektif terhadap keberadaan, nilai dan harkat arak Bali.
Hanya saja, di balik penetapan hari arak Bali tersebut, kondisi perajin arak tradisional khususnya yang ada di Kabupaten Karangasem kini justru sedang dilanda keresahan. Pasalnya, hingga saat ini keberadaan arak gula masih menjadi momok atas keberlangsungan arak tradisional Bali.
Menurut salah satu perajin arak asal Kebung, Sidemen, Karangasem, I Kadek Kicen, belakangan ini ia mengaku cukup kesulitan untuk menjual arak hasil sulingannya, salah satu faktor penyebabnya karena persaingan harga yang tidak sehat antara arak tradisional buatannya dengan arak gula yang beredar.
"Kita kalah bersaing harga, kalau arak tradisional kalo kita beli tuak untuk bahan araknya saja Rp. 10 ribu per liter, sedangkan arak gula itu sudah jadi arak bisa dijual Rp.10 per botol, jelas kita kalah bersaing," tutur pria yang telah turun temurun mewarisi kerajinan pembuatan arak tradisional itu, Senin (23/1/2023).
Menurut Kicen, dari 80 liter tuak yang disuling hanya menghasilkan sekitar 15 liter arak dengan kadar alkohol 40 persen. Dengan harga bahan baku serta proses penyulingan hingga berhari-hari, ia mengaku cukup kesulitan untuk bersaing harga.
Sebelumnya, ia bisa menjual Rp20 ribu untuk satu botol ukuran 600 ml, namun karena persaingan harga, kini dijual dengan harga Rp15 ribu per botolnya itupun cukup susah untuk dijual dengan harga seperti itu.
Ia pun berharap ada kejelasan tentang kondisi ini, karena apabila terus berlanjut tentunya akan mengancam keberadaan pengerajin arak tradisional yang masih bertahan hingga saat ini.
"Ini sudah turun temurun kami lakukan, karena memang ini satu-satunya pencaharian kami selain berkebun, semoga ada solusinya," imbuhnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/krs
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 6028 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4697 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2666 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2356 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2245 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan