Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 16 September 2026
Persaingan Tak Sehat, Arak Gula Ancam Keberlangsungan Perajin Arak Tradisional
BERITABALI.COM, KARANGASEM.
Keputusan Gubernur Bali nomor 929/03-I/HK/2022 menetapkan tanggal 29 Januari sebagai Hari Arak Bali dengan tujuan mengajak masyarakat Bali menjadikan hari tersebut sebagai hari kesadaran kolektif terhadap keberadaan, nilai dan harkat arak Bali.
Hanya saja, di balik penetapan hari arak Bali tersebut, kondisi perajin arak tradisional khususnya yang ada di Kabupaten Karangasem kini justru sedang dilanda keresahan. Pasalnya, hingga saat ini keberadaan arak gula masih menjadi momok atas keberlangsungan arak tradisional Bali.
Menurut salah satu perajin arak asal Kebung, Sidemen, Karangasem, I Kadek Kicen, belakangan ini ia mengaku cukup kesulitan untuk menjual arak hasil sulingannya, salah satu faktor penyebabnya karena persaingan harga yang tidak sehat antara arak tradisional buatannya dengan arak gula yang beredar.
"Kita kalah bersaing harga, kalau arak tradisional kalo kita beli tuak untuk bahan araknya saja Rp. 10 ribu per liter, sedangkan arak gula itu sudah jadi arak bisa dijual Rp.10 per botol, jelas kita kalah bersaing," tutur pria yang telah turun temurun mewarisi kerajinan pembuatan arak tradisional itu, Senin (23/1/2023).
Menurut Kicen, dari 80 liter tuak yang disuling hanya menghasilkan sekitar 15 liter arak dengan kadar alkohol 40 persen. Dengan harga bahan baku serta proses penyulingan hingga berhari-hari, ia mengaku cukup kesulitan untuk bersaing harga.
Sebelumnya, ia bisa menjual Rp20 ribu untuk satu botol ukuran 600 ml, namun karena persaingan harga, kini dijual dengan harga Rp15 ribu per botolnya itupun cukup susah untuk dijual dengan harga seperti itu.
Ia pun berharap ada kejelasan tentang kondisi ini, karena apabila terus berlanjut tentunya akan mengancam keberadaan pengerajin arak tradisional yang masih bertahan hingga saat ini.
"Ini sudah turun temurun kami lakukan, karena memang ini satu-satunya pencaharian kami selain berkebun, semoga ada solusinya," imbuhnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/krs
Berita Terpopuler
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5460 Kali
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3470 Kali
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2302 Kali
De Gadjah Dorong Pariwisata Toleransi sebagai Kekuatan Bali
Dibaca: 1100 Kali
ABOUT BALI
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan