Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 11 Agustus 2026
Misteri! Kera Ini Hidup Sendiri Tapi Bisa Hamil
BERITABALI.COM, DUNIA.
Dua tahun lalu, dunia dihebohkan oleh seekor kera gibbon atau owa yang mendadak hamil meski tinggal sendiri di kandangnya di Kebun Raya Kujukushima, Jepang. Misteri kehamilan owa yang bernama Momo itu akhirnya terpecahkan.
Ternyata, owa betina itu dihamili oleh Ito, seekor pejantan owa lincah berusia 34 tahun yang tinggal di dekat kandang Momo. Pihak kebung binatang mengungkapkan, kesimpulan itu diambil berdasarkan serangkaian tes DNA pada sang bayi.
Hasil tes menunjukkan ayah bayi Momo adalah Ito. Pihak kebun binatang mengatakan kepada CNN bahwa Momo dan Ito berhasil kawin lewat lubang kecil di pelat baja yang terpasang di antara kandang mereka. Lubang itu berukuran sekitar sembilan milimeter.
"Ini adalah kehidupan berharga yang lahir ke dunia. Kami akan terus merawatnya dengan baik dan berharap dia akan berumur panjang dengan sehat," kata wakil Direktur Kebun Binatang, Hideki Hisano, dikutip dari CNN, Sabtu (11/2/2023).
Setelah lahir, bayi jantan Momo dan Ito itu memiliki berat sekitar 2 kilogram. Pihak kebun binatang mengatakan bayi tersebut tumbuh sehat di bawah asuhan Momo.
Asal tahu saja, Momo sebelumnya mengejutkan petugas kebun binatang Jepang karena hamil meski tinggal sendirian di kandangnya. Kehamilan Momo itu terendus petugas Kebun Binatang dan Kebun Raya Kujukushima di Nagasaki pada Februari 2021.
Owa adalah spesies kera kecil yang punya suara nyaring kala bernyanyi. Spesies kera ini bisa berayun dari cabang ke cabang dengan kecepatan hingga 35 mil per jam.
Sedikitnya ada lusinan spesies owa yang berasal dari sebagian Asia, mulai dari timur laut India hingga Cina. Owa juga ditemukan di kepulauan Kalimantan.
Populasi owa lincah ini sendiri saat ini semakin berkurang. Mereka terdaftar sebagai spesies yang terancam punah di International Union for Conservation of Nature, karena aktivitas manusia seperti penggundulan hutan, pertambangan, dan pembangunan jalan yang mengancam habitat mereka.(sumber: cnbcindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Suami Tusuk Istri dan Mertua di Penatih
Dibaca: 4466 Kali
Siswi SMP di Sidakarya Diduga Diperkosa Karyawan Ayahnya
Dibaca: 2258 Kali
Pelajar 14 Tahun Tewas Kecelakaan di Manggis Karangasem
Dibaca: 1566 Kali
Sterilisasi Pelabuhan Gilimanuk Mulai 5 Agustus
Dibaca: 1014 Kali
Pengedar Narkoba di Denpasar Ditangkap, 5 Senpi Disita
Dibaca: 952 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun