Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 2 Mei 2026
Perang Rusia-Ukraina Mulai Ancam 'Gerbang Dunia Bawah'
BERITABALI.COM, DUNIA.
Perang Rusia-Ukraina nyatanya telah membawa ancaman baru bagi ekosistem. Hal ini terlihat dialami oleh Batagay Megaslump, yang tidak dapat diakses peneliti Barat karena sanksi.
Batagay adalah longsoran permafrost terbesar di planet ini, membentang di area seluas 80 hektare. Megaslump, yang dikenal penduduk setempat sebagai 'pintu gerbang ke dunia bawah' Siberia yang mungkin menyimpan rahasia seperti apa kehidupan di Bumi lebih dari 600.000 tahun yang lalu.
Penyebab longsor di Batagay tidak jelas, tetapi para peneliti yakin hal itu kemungkinan dipicu oleh penggundulan hutan dan alat berat. Dengan mengganggu lapisan penyekat vegetasi di permukaan longsoran, panas mampu menembus ke dalam tanah, menyebabkan permafrost yang terkubur mencair.
Karena permafrost khusus ini memiliki kandungan es yang tinggi, memaparkannya ke panas menyebabkan seluruh struktur runtuh. Karena semakin banyak es yang mencair, kawah tersebut dapat tumbuh menjadi apa yang sekarang disebut sebagai megaslump.
Menurut paleoklimatologis di Alfred Wegener Institute di Jerman, Thomas Opel, saat ini penelitian terhadap Batagay terhambat. Hal ini disebabkan oleh terputusnya kerjasama jangka panjang dengan institusi Rusia. Padahal, Batagay terus berevolusi sepanjang waktu dan para ilmuwan masih meneliti dampak evolusi tersebut terhadap sistem iklim bumi.
"Di musim panas, ketika saya pertama kali berada di sana, Anda benar-benar dapat melihat dan mendengarkan perubahan. Ada tetesan air lelehan yang terus-menerus, dan bongkahan besar (tanah beku) akan pecah dari dinding kepala dan jatuh. Jadi Anda bisa saja benar-benar mendengar bagaimana situs ini berubah dari waktu ke waktu," kata Opel kepada Newsweek, Rabu (21/6/2023).
Dengan situasi seperti ini, Opel dan timnya terus menggunakan data dari kunjungan sebelumnya untuk mendapatkan wawasan baru dari tanah kuno tersebut. Kemajuan tersebut ditinjau dalam makalah yang diterbitkan dalam jurnal Permafrost and Periglacial Processes pada 30 Mei.
"Kami dapat melacak suhu masa lalu menggunakan isotop stabil oksigen dan hidrogen dalam es di permafrost, sehingga memberi kami informasi tentang suhu musim dingin yang lalu," kata Opel. "Tapi kita juga bisa melakukan semua jenis paleoekologi."
Ini mencakup semuanya, mulai dari analisis serbuk sari hingga mengungkap sisa-sisa hewan purba. Misalnya, bayi kuda dari zaman es terakhir.
"Rekan-rekan saya juga mulai menganalisis DNA purba yang terkandung dalam sedimen, yang memungkinkan kami tidak hanya merekonstruksi vegetasi pada waktu itu tetapi juga seluruh ekosistem."(sumber: cnbcindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 287 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 267 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang