Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Jumat, 18 September 2026
Qatar Tersinggung Gegara Netanyahu Sebut Mediator 'Problematik'
BERITABALI.COM, DUNIA.
Qatar merasa tersinggung terhadap Israel setelah sang Perdana Menteri Benjamin Netanyahu ketahuan menyebut Doha sebagai "mediator problematik" meski selama ini telah membantu menengahi konflik Israel-Hamas.
Pernyataan Netanyahu itu terekam dalam rekaman audio yang bocor dan disiarkan media Israel, Channel 12, pada Selasa (23/1).
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al Ansari, tak menyangka pernyataan itu diduga keluar dari Netanyahu.
"Kami terkejut dengan dugaan pernyataan yang diatribusikan kepada Perdana Menteri Israel dalam berbagai pemberitaan media tentang peran mediasi Qatar," kata Al Ansari, dikutip Reuters.
Qatar merupakan mediator dan berperan penting sebagai perantara dalam upaya negosiasi Israel dan Hamas.
Pemerintah Qatar juga menganggap pernyataan Netanyahu "tak bertanggung jawab dan dapat merusak" upaya mediasi dengan Hamas selama ini.
Pernyataan Netanyahu soal Qatar ini muncul saat dia bertemu dengan keluarga sandera.
Dalam rekaman suara yang bocor itu, Netanyahu terdengar membandingkan peran Qatar dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
"Qatar, menurut saya, pada hakikatnya tak berbeda dengan PBB. Pada dasarnya tak ada bedanya dengan Palang Merah, dan dalam beberapa hal bahkan lebih bermasalah," ujar dia, dikutip CBC News.
Lebih lanjut, Netanyahu juga mengaku telah menyampaikan kemarahan dia terhadap Amerika Serikat karena memperbarui pangkalan militer di Qatar.
Ia mengatakan telah meminta AS untuk menekan Qatar dan Hamas.
Perseteruan Israel dan Qatar ini muncul saat pasukan Zionis terus menggempur Palestina.
Di waktu yang sama, Dewan Keamanan PBB tengah menggelar pertemuan untuk membahas situasi yang berkembang di Palestina.
Ribut-ribut ini juga muncul usai Israel disebut mengajukan proposal sebagai tawaran kesepakatan damai. Usulan itu mencakup jeda pertempuran dua bulan hingga mengembalikan seluruh sandera.
Hamas menolak usulan tersebut. Mereka menyatakan ingin pertempuran berakhir sepenuhnya. Kelompok ini juga sempat mengajukan usulan damai, tetapi ditolak Israel.
Usulan Hamas berupa penarikan pasukan Israel dari Palestina dan pengakuan terhadap kelompok ini sebagai pemerintah di Gaza.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5560 Kali
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3487 Kali
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2344 Kali
ABOUT BALI
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan