Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 2 November 2026
Qatar Tersinggung Gegara Netanyahu Sebut Mediator 'Problematik'
BERITABALI.COM, DUNIA.
Qatar merasa tersinggung terhadap Israel setelah sang Perdana Menteri Benjamin Netanyahu ketahuan menyebut Doha sebagai "mediator problematik" meski selama ini telah membantu menengahi konflik Israel-Hamas.
Pernyataan Netanyahu itu terekam dalam rekaman audio yang bocor dan disiarkan media Israel, Channel 12, pada Selasa (23/1).
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al Ansari, tak menyangka pernyataan itu diduga keluar dari Netanyahu.
"Kami terkejut dengan dugaan pernyataan yang diatribusikan kepada Perdana Menteri Israel dalam berbagai pemberitaan media tentang peran mediasi Qatar," kata Al Ansari, dikutip Reuters.
Qatar merupakan mediator dan berperan penting sebagai perantara dalam upaya negosiasi Israel dan Hamas.
Pemerintah Qatar juga menganggap pernyataan Netanyahu "tak bertanggung jawab dan dapat merusak" upaya mediasi dengan Hamas selama ini.
Pernyataan Netanyahu soal Qatar ini muncul saat dia bertemu dengan keluarga sandera.
Dalam rekaman suara yang bocor itu, Netanyahu terdengar membandingkan peran Qatar dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
"Qatar, menurut saya, pada hakikatnya tak berbeda dengan PBB. Pada dasarnya tak ada bedanya dengan Palang Merah, dan dalam beberapa hal bahkan lebih bermasalah," ujar dia, dikutip CBC News.
Lebih lanjut, Netanyahu juga mengaku telah menyampaikan kemarahan dia terhadap Amerika Serikat karena memperbarui pangkalan militer di Qatar.
Ia mengatakan telah meminta AS untuk menekan Qatar dan Hamas.
Perseteruan Israel dan Qatar ini muncul saat pasukan Zionis terus menggempur Palestina.
Di waktu yang sama, Dewan Keamanan PBB tengah menggelar pertemuan untuk membahas situasi yang berkembang di Palestina.
Ribut-ribut ini juga muncul usai Israel disebut mengajukan proposal sebagai tawaran kesepakatan damai. Usulan itu mencakup jeda pertempuran dua bulan hingga mengembalikan seluruh sandera.
Hamas menolak usulan tersebut. Mereka menyatakan ingin pertempuran berakhir sepenuhnya. Kelompok ini juga sempat mengajukan usulan damai, tetapi ditolak Israel.
Usulan Hamas berupa penarikan pasukan Israel dari Palestina dan pengakuan terhadap kelompok ini sebagai pemerintah di Gaza.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Luka Batin, Cinta, dan Kebuntuan Hidup
Dibaca: 387 Kali
BNNK Buleleng Temukan 14 Orang Positif Narkotika
Dibaca: 356 Kali
Kronologi Pria Ditemukan Tewas Tergantung Pohon di Legian
Dibaca: 275 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan