Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 26 Oktober 2026
30 Tahun Tragedi Genosida Rwanda: Dunia Gagal Selamatkan Rwanda
BERITABALI.COM, DUNIA.
Rwanda memperingati 30 tahun tragedi genosida pada Minggu (7/4). Presiden Rwanda Paul Kagame menilai, masyarakat internasional telah gagal menyelamatkan Rwanda.
Rwanda memperingati tragedi genosida dalam sebuah upacara di Kigali. Dalam kesempatan ini, Kagame menyampaikan peristiwa ini jadi pelajaran sekaligus bukti kegagalan masyarakat internasional.
"Masyarakat internasional-lah yang mengecewakan kita semua, entah karena penghinaan atau pengecut," kata Kagame pada pada hadirin seperti dilaporkan AFP.
Genosida dimulai ketika terjadi pembunuhan Presiden Hutu Juvenal Habyarimana pada 6 April 1994. Pesawatnya ditembak jatuh di atas Kigali. Peristiwa ini memicu kemarahan ekstremis Hutu dan milisi Interahamwe.
Korban ditembak, dipukuli, atau dibacok hingga tewas akibat propaganda kejam anti-Tutsi. Setidaknya 250 ribu perempuan diperkosa. Pembantaian pun merenggut 800 ribu nyawa yang sebagian besar orang Tutsi juga Hutu moderat.
Setiap tahun, dilaksanakan upacara pada 7 April di mana milisi Hutu melancarkan pembantaian pada 1994. Kagame meletakkan karangan bunga di kuburan massal dan menyalakan api peringatan di Kigali Genocide Memorial.
Di lokasi ini, diyakini lebih dari 250 ribu korban meninggal dikuburkan.
Masyarakat internasional dinilai gagal melakukan intervensi. Hal ini pun diakui Ketua Uni Afrika Moussa Faki Mahamat.
"Mari kita berani mengakuinya dan mengambil tanggung jawab atas hal itu," kata Mahamat di Kigali.
Senada dengan Mahamat, Presiden Prancis Emmanuel Macron berkata dirinya tidak akan mengubah komentarnya bahwa Prancis gagal mengindahkan peringatan akan pembantaian.
Hanya saja, Macron tidak menyampaikan permintaan maaf resmi.
"Kita semua telah meninggalkan ratusan ribu korban di pintu tertutup yang mengerikan ini. Ketika fase pemusnahan total terhadap suku Tutsi dimulai, komunitas internasional mempunyai sarana untuk mengetahui dan bertindak. Prancis, yang bisa menghentikan genosida dengan sekutunya di Barat dan Afrika, tidak mempunyai kemauan," katanya.
Ketika genosida terjadi, Prancis telah lama jadi pendukung rezim Rwanda yang didominasi Hutu sehingga ada ketegangan antara kedua negara selama beberapa dekade.
Sementara Presiden AS Joe Biden berkata dampak pembantaian masih terasa di Rwanda dan di seluruh dunia.
"Kami tidak akan pernah melupakan kengerian yang terjadi selama 100 hari itu, rasa sakit dan kehilangan yang dialami masyarakat Rwanda, atau rasa kemanusiaan yang menyatukan kita semua, yang tidak dapat diatasi oleh kebencian," katanya. (sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5839 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4600 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2565 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2208 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2192 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan