Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 27 Oktober 2026
Tradisi Mbed-Mbedan di Desa Semate, Serunya Duel Emak-Emak vs Bapak-Bapak
BERITABALI.COM, BADUNG.
Sorak-sorai warga menggema di Desa Adat Semate, Kelurahan Abianbase, Kecamatan Mengwi, Badung pada Minggu (30/3/2025).
Tradisi Mbed-Mbedan digelar sehari setelah Nyepi atau saat Ngembak Geni ini menghadirkan pertarungan seru antara emak-emak dan bapak-bapak dalam adu kekuatan menarik tambang.
Layaknya tarik tambang, para peserta berusaha menarik lawan melewati garis batas untuk dinyatakan kalah. Yang membuat suasana semakin meriah adalah ketika kaum emak-emak sukses mengalahkan bapak-bapak dalam duel seru ini.
Gelak tawa dan sorakan penonton semakin menggema saat para pria kewalahan menghadapi kekuatan kaum ibu.
Keseruan semakin memuncak dengan alunan gamelan baleganjur yang dimainkan para pemuda, menambah semarak perayaan.
Sebelum permainan dimulai, warga terlebih dahulu menghaturkan sembah bakti dan sesaji kepada Tuhan. Ketupat jajan bantal berbahan ketan menjadi sajian khas yang disantap bersama setelah ritual selesai.
Sebelum memasuki laga utama, para ibu-ibu terlebih dahulu menarikan tarian rejang sebagai bagian dari ritual sakral. Mbed-Mbedan kemudian dimulai dengan simbolis penarikan tambang antara pemangku pria dan para istri pemangku.
Setelah itu, pertarungan sesungguhnya terjadi antara dua kelompok pria yang berusaha saling menjatuhkan satu sama lain.
Setelah beberapa ronde pertandingan antar kaum pria, giliran emak-emak turun gelanggang melawan bapak-bapak. Tak disangka, kelompok ibu-ibu berhasil menarik lawan mereka hingga terjungkal melewati garis batas. Para bapak pun hanya bisa tertawa dan menyerah di hadapan kekuatan luar biasa para wanita desa.
Tokoh Desa Adat Semate, I Gede Suryadi, menyebutkan bahwa Mbed-Mbedan adalah tradisi yang sudah ada sejak Tahun Saka 1396 atau 1474 Masehi.
"Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan atas berdirinya Desa Adat Semate dan Pura Kahyangan Putih Semate. Meskipun sempat ditiadakan selama puluhan tahun, tradisi ini kembali dihidupkan berkat upaya warga dalam menggali sejarah desa," paparnya.
Berdasarkan catatan sejarah, Mbed-Mbedan juga terkait dengan perselisihan di Kerajaan Waturenggong yang menyebabkan anggota keluarga kerajaan mencari tempat aman. Salah satunya adalah putri raja, Dewa Ayu Laksmi, yang direncanakan untuk dipersunting oleh kaum bujangga waisnawa.
"Kini, Mbed-Mbedan terus menjadi simbol kebersamaan dan warisan budaya yang tetap lestari," tutupnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/aga
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5921 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4640 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2611 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2267 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2216 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan