Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 29 Juni 2026
Pemuda Kintamani Sulap Kulit Kopi Jadi Teh, Kripik hingga Brownies
BERITABALI.COM, BANGLI.
Dengan semangat berkreativitas dan berinovasi, seorang pemudi asal Banjar Luahan, Desa Belantih, Kintamani, Bangli, berhasil mengubah limbah kulit kopi menjadi berbagai olahan pangan.
Inovasi ini mampu menyulap barang yang awalnya tidak berguna menjadi produk bernilai ekonomis.
Banjar Luahan, Desa Belantih, Kintamani memang dikenal sebagai sentra kopi Kintamani. Selain menghasilkan biji kopi siap jual, di wilayah ini juga terdapat limbah kulit kopi yang selama ini hanya dibuang begitu saja, sehingga berpotensi mencemari lingkungan.
Berbekal tekad kuat untuk terus berkreativitas, Ni Made Bintang Handayani aktif mencari informasi mengenai pemanfaatan kulit kopi. Dari hasil inovasinya, ia sukses mengolah kulit kopi atau yang dikenal dengan sebutan cascara menjadi berbagai produk pangan seperti teh, kripik, dan brownies.
Kini, bersama kelompok wanita tani dan para pemuda di Banjar Luahan, produksi olahan pangan dari kulit kopi ini rutin dilakukan. Sekali produksi, mereka mampu mengolah 5 kilogram kulit kopi menjadi 50 kantong teh cascara, 4 kilogram brownies cascara, dan 3 kilogram kripik cascara suna cekuh.
Produk olahan kulit kopi ini sudah dipasarkan melalui toko, warung, dan platform online. Selain itu, kualitas dan keamanannya juga telah teruji secara laboratorium oleh pihak terkait.
"Namun demikian berbagai kendala masih dialami dalam proses produksi, utamanya saat proses pengeringan kulit kopi. Diharapkan pihak terkait agar bisa mendukung kreativitas generasi muda, sehingga bisa terus berkembang yang berimbas pada semangat generasi muda untuk terus berinovasi dan berkarya," ujar Ni Made Bintang Handayani.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/bgl
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun