Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 27 April 2026
375 Siswa SMP di Buleleng Tak Bisa Calistung, Mayoritas Disabilitas Intelektual
BERITABALI.COM, BULELENG.
Kasus ketidakmampuan ratusan siswa SMP di Kabupaten Buleleng dalam membaca, menulis, dan berhitung (calistung) akhirnya terungkap. Hasil tes kecerdasan yang dilakukan tim psikolog Pradnyagama menunjukkan, sebagian besar dari 375 siswa tersebut mengalami disabilitas intelektual.
Temuan ini disampaikan Pemerintah Kabupaten Buleleng kepada Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI saat berkunjung ke Kantor Gubernur Bali, Kamis (22/5).
Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra menjelaskan, pihaknya telah bekerjasama dengan tim psikolog Pradnyagama untuk mencari tahu penyebab ketidakmampuan calistung ratusan siswa itu. Selain itu, sejumlah mahasiswa Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja juga telah dikerahkan untuk memberikan pendampingan.
Sutjidra menegaskan, kasus ini tidak hanya terjadi di Buleleng. Namun pihaknya sengaja mengekspose agar bisa ditangani bersama oleh pemerintah pusat.
“Kita ketahui sekolah reguler belum punya guru pendamping khusus untuk anak yang mengalami disabilitas intelektual. Jadi ini perlu dicarikan solusi, karena anak-anak ini tersebar di 60 sekolah. Selain itu orangtua juga menolak anaknya dibawa ke SLB karena kesannya untuk anak-anak yang disabilitas fisik," ungkap Plt Kepala Disdikpora Buleleng, Putu Ariadi Pribadi.
Ariadi menjelaskan, dari 375 siswa yang terdata, sebanyak 352 anak telah mengikuti tes pada Rabu (7/4), sementara 23 siswa lainnya akan menyusul.
Hasilnya, sebanyak 85 persen siswa dinyatakan mengalami disabilitas intelektual. Rinciannya: 6 orang memiliki kecerdasan normal, 46 orang di bawah rata-rata (IQ 81-90), 110 orang mengalami disabilitas intelektual ringan (IQ 70-80), 146 orang mengalami disabilitas ringan (IQ 60-69), 44 siswa berada dalam kategori borderline atau gangguan mental (IQ di bawah 60).
Tim psikolog menyarankan agar anak-anak tersebut dipindahkan ke sekolah inklusi yang memiliki layanan pendidikan khusus.
“Kita akan segera komunikasikan dengan Dewan Pendidikan Buleleng dan para kepala sekolah agar mencari solusi bersama. Karena ini tidak bisa dibiarkan begitu saja,” tambah Ariadi.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rat
Berita Terpopuler
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3755 Kali
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1691 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang