Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 16 Juni 2026
Wali Kota Denpasar Nyangging di Metatah Massal Pemecutan Kelod
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, menghadiri sekaligus menjadi panyangging dalam pelaksanaan Metatah Massal yang digelar Pemerintah Desa Pemecutan Kelod, Jumat (5/9/2025) di Pura Dalem Ulunsuan, Banjar Abiantimbul, Denpasar Barat. Acara ini juga turut disaksikan Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa.
Perbekel Desa Pemecutan Kelod, I Wayan Tantra, menjelaskan kegiatan metatah massal ini dilaksanakan untuk melestarikan kearifan lokal sesuai Permendagri Nomor 1 Tahun 2015 tentang Pedoman Asal Usul Desa. Selain itu, tujuan lainnya adalah membantu masyarakat Hindu, khususnya warga kurang mampu, dalam melaksanakan yadnya.
“Metatah massal kali ini diikuti oleh 112 peserta dari 15 banjar yang ada di Desa Pemecutan Kelod. Karena di masing-masing banjar juga memiliki program yadnya di pura, maka kegiatan ini tidak bisa dilakukan setiap tahun. Pelaksanaannya menyasar banjar yang belum memiliki program serupa,” jelasnya.
Lebih lanjut, Tantra berharap agar kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut sehingga semakin banyak masyarakat yang terbantu.
“Harapan kami sebagai pemerintah desa, setiap kegiatan yang dilaksanakan dapat benar-benar menyentuh masyarakat secara luas,” ujarnya.
Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, mengapresiasi sekaligus berterima kasih atas terselenggaranya kegiatan yadnya tersebut.
“Tentu pelaksanaan metatah massal ini sangat bermanfaat, terutama bagi masyarakat yang kurang mampu. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus berkelanjutan sehingga semakin banyak warga yang mendapatkan manfaatnya,” kata Jaya Negara.
Editor: Redaksi
Reporter: Humas Denpasar
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun