Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Senin, 26 Oktober 2026
Jawa-Bali Catat Angka Tertinggi Kehamilan Tak Diinginkan di Indonesia
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Wilayah Jawa-Bali tercatat menjadi penyumbang tertinggi kasus kehamilan tidak diinginkan (KTD) di Indonesia. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Pusat Riset Kependudukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sebanyak 59,9 persen dari total KTD nasional berasal dari kawasan ini.
Peneliti BRIN, Yuly Astuti, menjelaskan bahwa fenomena kehamilan tidak diinginkan dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti usia ibu, status pekerjaan, tingkat pendidikan, jumlah anak, penggunaan alat kontrasepsi (KB), hingga akses informasi terkait KB.
“Faktor yang berpengaruh antara lain usia ibu, status pekerjaan, tingkat pendidikan, jumlah anak, penggunaan KB, akses informasi KB, tempat tinggal, dan kepemilikan asuransi kesehatan,” ujar Yuly dalam Workshop Penulisan Buku “Indonesian Family Planning Perspective from the 2021 Family Enumeration Survey” di BRIN Gatot Subroto, Jakarta, Senin (27/10).
Dari hasil survei, tercatat 10,7 persen kehamilan di Indonesia merupakan kehamilan yang tidak diinginkan. Namun, ketimpangan terlihat cukup signifikan antara wilayah Jawa-Bali dan luar Jawa-Bali, dengan wilayah Jawa-Bali menjadi penyumbang tertinggi.
Melihat kondisi tersebut, tim peneliti BRIN memberikan tiga rekomendasi strategis untuk menekan angka KTD di Indonesia.
“Rekomendasi kami yaitu perluasan akses dan kualitas informasi KB, peningkatan penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP), dan sosialisasi KB yang sensitif budaya,” kata Yuly.
Ia menegaskan, kehamilan yang tidak diinginkan seringkali berisiko tinggi terhadap kesehatan ibu dan anak. Kondisi ini dapat memicu komplikasi kehamilan, persalinan berisiko, bayi berat lahir rendah, bahkan kematian ibu dan bayi.
“Dengan masih tingginya angka KTD, upaya bersama dari pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat dinilai mendesak untuk menekan angka kehamilan tidak diinginkan dan meningkatkan kesehatan reproduksi perempuan Indonesia,” pungkasnya.
Temuan ini sekaligus menjadi peringatan penting bagi daerah-daerah di Jawa-Bali, termasuk Bali, untuk memperkuat edukasi keluarga berencana serta memastikan layanan kesehatan reproduksi dapat diakses secara merata oleh semua lapisan masyarakat. (sumber: Humas BRIN)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/rls
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5835 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4600 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2564 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2208 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2192 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan