Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 19 September 2026
Kanker Payudara Tak Selalu Faktor Genetik, Ini Penjelasan Dokter
BERITABALI.COM, GIANYAR.
Kanker payudara masih menjadi tantangan serius dalam dunia kesehatan. Upaya penanganan dan pencegahan dinilai tidak cukup hanya berfokus pada penyebab tunggal, melainkan harus diawali dengan pemahaman menyeluruh terhadap berbagai faktor risiko yang memengaruhinya.
Dokter bedah onkologi RS Kasih Ibu Saba, Dr. dr. IB Suryawisesa, SpB(K) Onk, menjelaskan bahwa faktor risiko kanker payudara terbagi ke dalam dua kelompok besar. Pertama, faktor yang tidak dapat dimodifikasi, seperti genetik dan riwayat keluarga. Kedua, faktor yang dapat dimodifikasi, yang berkaitan dengan gaya hidup, pola makan, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, serta paparan zat kimia tertentu.
"Kasus kanker payudara sebagian besar bersifat sporadik—bukan sepenuhnya karena genetik yang diturunkan. Artinya, faktor lingkungan, pola makan, dan gaya hidup memegang peran besar dalam peningkatannya," tegas Dr. Suryawisesa.
Ia menyoroti peran hormon estrogen yang berlebihan sebagai salah satu faktor penting. Estrogen diketahui memiliki kaitan erat dengan pertumbuhan sel, termasuk sel kanker. Paparan estrogen dari luar tubuh atau estrogen eksogen dinilai perlu mendapat perhatian lebih.
Menurutnya, estrogen eksogen dapat berasal dari makanan tertentu, terutama yang diproses untuk mempercepat pertumbuhan. Konsumsi rutin makanan semacam ini berpotensi meningkatkan risiko apabila tidak dikontrol dengan baik.
"Makanan yang cepat panen atau mengandung zat pemicu pertumbuhan cepat, seperti pada beberapa produk ternak, bisa menjadi sumber estrogen eksogen. Jika dikonsumsi setiap hari, ini perlu diwaspadai," jelasnya.
Dr. Suryawisesa juga meluruskan pandangan keliru yang kerap muncul di masyarakat, yakni baru memikirkan pola makan setelah seseorang didiagnosis kanker payudara.
"Jika sudah terjadi kanker, fokusnya adalah penanganan, bukan lagi mencari tahu penyebabnya. Pertanyaan 'apa yang tidak boleh dimakan setelah kanker?' adalah pola pikir terbalik. Kanker sudah terjadi, saat ini adalah waktu untuk pengobatan optimal," ungkapnya.
Ia menambahkan, kasus kanker payudara yang benar-benar diturunkan secara genetik hanya sekitar 3–5 persen. Selebihnya merupakan kasus sporadik yang sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan gaya hidup, sehingga pencegahan primer menjadi kunci utama.
Menutup penjelasannya, Dr. Suryawisesa mendorong adanya langkah pencegahan yang lebih terarah dan berkelanjutan di Indonesia.
"Pencegahan kanker payudara harus menjadi gerakan dunia. Saran saya, perlu dibentuk Tim Khusus Pencegahan yang fokus dan terpadu. Pendekatan jalan-jalan (pencegahan) harus lebih efektif lagi, tidak bisa dilakukan sambil lalu. Ini adalah investasi kesehatan jangka panjang bangsa," pungkasnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
Sopir Truk di Muncan Karangasem Dibakar Hidup-hidup, Diduga Soal Setoran
Dibaca: 7040 Kali
Tiga WNA Australia Ditemukan Tewas di Kontrakan Legian
Dibaca: 5617 Kali
Habib Diciduk di Vila Dalung, 152 Gram Ganja Disita Polisi
Dibaca: 3521 Kali
Bentrok di Mess Buruh Tunas Jaya Sanur di Benoa, Satu Orang Tewas
Dibaca: 2372 Kali
ABOUT BALI
Turis Australia Ditangkap Bawa 37 Paket Ganja di Denpasar
Kronologi Gudang Rongsokan di Jalan Nakula Denpasar Terbakar
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan