Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




16 Horeka Bali Beralih ke Telur Bebas Kandang Sepanjang 2025

Selasa, 30 Desember 2025, 11:10 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/dok Animals Dont Speak Human/16 Horeka Bali Beralih ke Telur Bebas Kandang Sepanjang 2025.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Industri hotel, restoran, dan kafe (HORECA) di Bali terus memperkuat perannya dalam mendorong praktik pariwisata berkelanjutan. Sepanjang tahun 2025, tercatat sebanyak 16 pelaku HORECA di Bali mulai beralih menggunakan telur cage-free sebagai bagian dari komitmen terhadap kesejahteraan hewan, kualitas pangan, dan tanggung jawab sosial dalam rantai pasok.

Langkah ini sejalan dengan tren global di sektor pariwisata dan perhotelan, di mana konsumen semakin menuntut praktik konsumsi yang lebih etis dan berkelanjutan. Dalam lingkup Asia, kemajuan implementasi perusahaan menuju sistem cage-free mencapai 70,5 persen laporan kemajuan, tidak jauh berbeda dari capaian tahun sebelumnya sebesar 69,8 persen.

Telur cage-free berasal dari sistem peternakan tanpa kandang baterai, sehingga ayam petelur dapat bergerak lebih bebas dan mengekspresikan perilaku alaminya, seperti bertengger dan bertelur di sarang. Transisi ini mencerminkan perubahan pendekatan industri makanan dan minuman, di mana aspek etika dan keberlanjutan kini menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan bisnis.

Langkah penggunaan telur cage-free juga dinilai selaras dengan standar global responsible sourcing dan animal welfare, yang semakin menjadi tolok ukur kredibilitas sebuah merek, khususnya bagi destinasi wisata internasional seperti Bali.

“Bagi Begawan Biji, penggunaan telur cage-free adalah langkah nyata untuk membangun sistem pangan yang lebih etis, transparan, dan berkelanjutan di industri HORECA terutama di Bali,” ujar Chef Andrew, perwakilan salah satu pelaku HORECA di Bali.

Selain aspek etika, pelaku industri menilai penggunaan telur cage-free turut berkontribusi pada peningkatan kualitas bahan pangan dan kepercayaan konsumen. Wisatawan domestik maupun mancanegara kini semakin memperhatikan isu keberlanjutan, termasuk asal-usul bahan makanan yang dikonsumsi.

Peningkatan permintaan telur cage-free dari sektor HORECA juga berdampak pada rantai pasok pangan di Bali. Di satu sisi, kebutuhan terus meningkat seiring bertambahnya pelaku usaha yang berkomitmen bertransisi. Namun di sisi lain, ketersediaan pasokan lokal dari peternak ayam petelur dengan sistem cage-free masih terbatas.

Kondisi ini menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi peternak lokal untuk mengembangkan sistem peternakan yang lebih beretika dan berkelanjutan. Sementara itu, industri pariwisata didorong untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan pemerintah daerah dan organisasi masyarakat sipil.

“Transisi Begawan Biji ke penggunaan telur cage-free didorong oleh komitmen kami terhadap praktik organik dan berkelanjutan, bukan semata sebagai strategi pemasaran. Sebagai bagian dari konsep farm-to-table, kami merasa penting untuk konsisten dari hulu ke hilir. Proses ini kami jalankan secara bertahap dan bertanggung jawab, dengan memastikan kesejahteraan hewan, kesehatan lingkungan, dan kualitas pangan tetap terjaga.,” tambah perwakilan Chef Andrew.

Inisiatif penggunaan telur cage-free di sektor HORECA dinilai sebagai bagian dari transformasi pariwisata Bali menuju model yang lebih beretika dan berkelanjutan. Diharapkan, praktik ini dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia serta mendorong perubahan sistemik dalam industri peternakan nasional.

“Kami melihat transisi menuju komitmen cage-free sebagai langkah strategis yang akan mendefinisikan masa depan industri HORECA. Ini bukan sekadar memenuhi tuntutan pasar, tetapi sebuah transformasi mendasar yang mencerminkan tanggung jawab etis dan keberlanjutan. Animals Don’t Speak Human berkomitmen untuk mendampingi proses ini melalui edukasi, advokasi kebijakan, dan penguatan kolaborasi lintas sektor. Peran kami adalah memastikan transisi berjalan nyata, terukur, dan berkelanjutan, sehingga kesejahteraan hewan menjadi bagian integral dari praktik bisnis yang mendukung pariwisata dan kuliner yang lebih bertanggung jawab,” ujar Fiolita Berandhini, Direktur Animals Don’t Speak Human.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/adv



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami