Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Selasa, 28 April 2026
Duka Kehilangan Seorang Ayah yang Mengubah Jiwa Remaja
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Seorang remaja perempuan berusia 13 tahun, NKD, datang dengan keluhan merasa rindu yang sangat mendalam terhadap ayahnya. Perasaan ini mulai dirasakan sejak ayahnya meninggal dunia secara mendadak pada bulan November 2025.
Menurut penuturannya, sang ayah sempat dirawat di rumah sakit dalam waktu yang sangat singkat, sekitar 30 menit, sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia. Peristiwa tersebut terjadi begitu cepat dan tidak terduga sehingga meninggalkan kesan yang sangat berat secara emosional.
Sejak kejadian tersebut, ia sering merasakan kesedihan yang mendalam. Ia mengaku menjadi lebih mudah menangis, terutama ketika mengingat ayahnya atau ketika melihat hal-hal yang mengingatkannya pada sosok ayah. Sebelum meninggal, ayah merupakan figur yang paling dekat dalam kehidupannya. Hubungan yang terjalin terasa sangat hangat dan penuh kedekatan emosional, sehingga kehilangan tersebut dirasakan sangat menyakitkan dan sulit untuk diterima.
Dalam kehidupan sehari-hari, mulai dirasakan dampak pada berbagai aktivitas, terutama dalam proses belajar. Ia mengeluhkan kesulitan berkonsentrasi saat berada di sekolah maupun ketika mengerjakan tugas di rumah. Pikiran mengenai ayahnya sering muncul secara tiba-tiba dan membuatnya kembali merasakan kesedihan. Ia juga mengungkapkan adanya perasaan cemburu dan sedih ketika melihat teman-temannya yang masih memiliki ayah dan dapat berinteraksi dengan ayah mereka. Situasi tersebut seringkali memunculkan kembali perasaan kehilangan yang mendalam.
Secara emosional, ia merasa dirinya menjadi lebih sensitif dibandingkan sebelumnya. Ia mudah tersentuh dan sering menangis ketika melihat atau mendengar sesuatu yang berkaitan dengan figur ayah. Selain itu, pernah muncul perasaan ingin menjadi seperti ayahnya atau merasakan apa yang ayahnya rasakan.
Dalam beberapa kesempatan, emosi yang dirasakan dilampiaskan dengan mencubit kulit sendiri hingga terasa nyeri sebagai cara menyalurkan kesedihan dan ketegangan emosional. Tindakan tersebut tidak disertai dengan keinginan untuk mengakhiri hidup. Kesedihan yang dirasakan masih berlangsung hingga saat ini dan terasa cukup menetap sejak peristiwa kehilangan tersebut.
Kehilangan ayah timbulkan perubahan emosional
Kehilangan ayah dapat menimbulkan perubahan emosional yang sangat besar karena duka bukan sekadar perasaan sedih akibat perpisahan, melainkan sebuah guncangan yang menyentuh berbagai aspek mendasar dalam kehidupan psikologis seorang anak.
Kehilangan figur yang sangat bermakna dapat menggoyahkan sistem kelekatan, rasa aman, ritme kehidupan sehari-hari, bahkan struktur identitas diri yang sedang berkembang. Dalam teori attachment, figur lekat yang utama atau sangat bermakna berfungsi sebagai secure base, yaitu sumber rasa aman yang memungkinkan anak dan remaja menjelajahi dunia dengan keyakinan bahwa mereka memiliki tempat untuk kembali secara emosional.
Ketika figur tersebut hilang secara mendadak, yang terguncang bukan hanya kenangan tentang sosok yang dicintai, tetapi juga fondasi psikologis yang selama ini menopang kestabilan emosi. Karena ayah merupakan figur yang paling dekat bagi NKD, kehilangan ini secara alami dirasakan sangat menyakitkan, intens, dan berulang.
Selain itu, kematian yang terjadi secara tiba-tiba sering kali memperberat proses duka, karena individu tidak memiliki kesempatan psikologis untuk mempersiapkan diri, mengucapkan perpisahan, atau secara bertahap memahami bahwa kehilangan tersebut benar-benar terjadi. Oleh karena itu, kematian mendadak sering disebut sebagai salah satu faktor risiko yang dapat membuat proses berduka menjadi lebih kompleks dan lebih sulit diolah secara emosional.
Dari sudut pandang perkembangan, usia 13 tahun merupakan masa awal remaja, sebuah periode penting yang ditandai dengan perubahan biologis, psikologis, dan sosial yang sangat cepat. Remaja berada pada tahap pembentukan identitas diri, di mana individu mulai membangun pemahaman tentang siapa dirinya, nilai apa yang ia pegang, serta bagaimana posisinya dalam keluarga dan masyarakat.
Pada fase ini, kebutuhan akan dukungan emosional dari figur orang tua tetap sangat kuat, meskipun remaja mulai menunjukkan kemandirian yang lebih besar. Namun kemampuan regulasi emosi pada usia ini masih dalam proses pematangan, sehingga ketika terjadi peristiwa kehilangan yang besar seperti kematian orang tua, remaja dapat merasakan emosi yang sangat intens dan kadang terasa membanjiri.
Perubahan emosional, kognitif, dan sosial berlangsung secara bersamaan, sehingga sistem pengelolaan emosi menjadi sangat peka terhadap stresor yang signifikan. Dalam situasi seperti ini, kehilangan figur orang tua tidak hanya menimbulkan kesedihan, tetapi juga dapat mengganggu keseimbangan emosional yang sedang berkembang.
Secara kognitif, remaja mulai memiliki kemampuan berpikir yang lebih abstrak dibandingkan anak-anak yang lebih kecil. Mereka sudah mampu memahami bahwa kematian bersifat permanen dan tidak dapat diubah. Namun kemampuan memahami secara intelektual tidak selalu diikuti dengan kemampuan menerima secara emosional. Justru karena remaja mulai mampu memikirkan masa depan, relasi sosial, serta makna hidup secara lebih mendalam, pengalaman kehilangan dapat memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat eksistensial.
Pertanyaan seperti “mengapa ayah harus pergi?”, “mengapa hal ini terjadi pada saya?”, atau “bagaimana kehidupan saya ke depan tanpa ayah?” merupakan refleksi dari proses batin yang sedang berusaha mencari makna atas peristiwa kehilangan tersebut. Dalam banyak kasus, anak dan remaja yang berduka membawa berbagai pertanyaan yang tidak hanya berkaitan dengan emosi, tetapi juga dengan pemahaman biologis, sosial, dan spiritual mengenai kematian. Mereka membutuhkan ruang yang aman untuk mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan tersebut serta memperoleh penjelasan yang jujur, empatik, dan sesuai dengan tahap perkembangan mereka.
Perubahan emosional yang dialami NKD juga menjadi lebih nyata karena proses berduka mulai memengaruhi fungsi sehari-harinya. Kesulitan berkonsentrasi di sekolah, munculnya pikiran tentang ayah secara tiba-tiba, serta perasaan sedih ketika melihat teman-temannya masih dapat berinteraksi dengan ayah mereka merupakan bentuk manifestasi duka kehilangan orang tua yang sering ditemukan pada anak dan remaja.
Kondisi ini menunjukkan bahwa duka tidak hanya hadir sebagai pengalaman emosional internal, tetapi juga berdampak pada kemampuan individu untuk menjalankan aktivitas sosial dan akademik. Selain itu, pengalaman kehilangan tersebut juga dapat meningkatkan kerentanan terhadap gejala depresi dan kecemasan, terutama pada periode awal setelah peristiwa kematian terjadi.
Dalam konteks ini, respons emosional NKD tidak dapat dipahami sebagai sesuatu yang berlebihan. Sebaliknya, respons tersebut merupakan ekspresi yang sangat manusiawi dari seorang remaja yang sedang berusaha memahami, merasakan, dan perlahan-lahan menata kembali kehidupannya setelah kehilangan figur yang sangat dicintainya.
Duka sebagai upaya memperbaiki kehilangan
Dari sudut pandang psikodinamika, pengalaman duka yang dialami oleh NKD dapat dipahami sebagai benturan antara dua kenyataan batin yang berlangsung secara bersamaan. Di satu sisi, secara kognitif ia memahami bahwa ayahnya telah meninggal dunia dan tidak akan kembali secara fisik. Namun di sisi lain, sistem emosional yang selama ini terikat kuat pada figur ayah masih terus mencari kehadiran sosok tersebut sebagai figur kelekatan.
Ketegangan antara pemahaman rasional dan kebutuhan emosional ini sering menimbulkan pengalaman batin yang kompleks, seperti kerinduan yang sangat kuat, tangisan yang muncul secara tiba-tiba, pikiran intrusif tentang sosok ayah, serta sensitivitas yang tinggi terhadap berbagai simbol atau situasi yang mengingatkannya pada figur ayah. Dalam bahasa yang lebih humanis, sebagian dari diri NKD masih belum sepenuhnya siap untuk hidup di dunia yang tidak lagi menghadirkan ayahnya secara nyata. Kondisi ini merupakan bagian dari proses kerja duka, di mana psikis secara perlahan berusaha menyesuaikan diri dengan realitas kehilangan yang sangat menyakitkan.
Dinamika psikologis juga dapat terlihat dari adanya unsur identifikasi dengan figur yang hilang. Ketika NKD mengungkapkan keinginan untuk menjadi seperti ayahnya atau merasakan apa yang ayah rasakan, pernyataan tersebut tidak selalu berarti adanya dorongan menuju kematian. Sebaliknya, ungkapan tersebut dapat dipahami sebagai usaha psikis untuk mempertahankan kedekatan emosional dengan figur ayah yang telah tiada.
Dalam banyak proses duka pada anak dan remaja, individu berusaha menjaga hubungan batin dengan orang yang meninggal melalui berbagai cara, seperti mengenang kebiasaan, meniru sifat atau nilai yang dimiliki oleh almarhum, membayangkan percakapan, atau membangun fantasi kedekatan emosional.
Mekanisme ini sering kali bersifat adaptif apabila difasilitasi secara aman dan simbolik, karena membantu individu mengintegrasikan kenangan dengan realitas kehidupan yang terus berjalan. Namun demikian, ketika proses ini disertai dengan rasa bersalah yang mendalam, perasaan putus asa, atau perilaku menyakiti diri, maka kondisi tersebut memerlukan perhatian klinis yang lebih cermat agar tidak berkembang menjadi bentuk distress psikologis yang lebih berat.
Perilaku mencubit diri sendiri yang dilakukan oleh NKD tampaknya lebih mencerminkan upaya untuk melepaskan ketegangan emosional daripada adanya niat untuk mengakhiri hidup. Dalam beberapa kasus, perilaku menyakiti diri secara ringan dapat muncul sebagai bentuk regulasi afek yang maladaptif, di mana individu mencoba mengalihkan rasa sakit emosional ke sensasi fisik yang lebih dapat dikendalikan.
Meskipun demikian, dari perspektif psikiatri klinis, perilaku ini tetap perlu dipandang sebagai tanda peringatan. Anak dan remaja yang mengalami kehilangan orang tua memiliki risiko yang lebih tinggi untuk melakukan perilaku melukai diri secara sengaja. Oleh karena itu, setiap bentuk self-injury pada anak yang sedang berduka perlu dipahami sebagai sinyal adanya distress emosional yang signifikan, meskipun individu tersebut secara eksplisit menyatakan tidak memiliki keinginan untuk bunuh diri.
Pengalaman duka juga perlu dipahami dalam konteks psikososial yang lebih luas. Tidak ada anak yang benar-benar berduka sendirian bahkan ketika ia menangis dalam kesendirian, ia tetap berada di dalam jaringan relasi keluarga, sekolah, dan masyarakat. Respons duka pada anak dan remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti konteks kematian, tingkat kedekatan dengan orang yang meninggal, waktu yang telah berlalu sejak kehilangan, latar belakang budaya, pengalaman hidup sebelumnya, serta kualitas dukungan sosial yang tersedia di sekitarnya.
Anak yang berduka dapat mengalami berbagai perubahan, seperti gangguan tidur dan pola makan, meningkatnya kecemasan, gejala depresi, penurunan kehadiran di sekolah, hingga perilaku menyakiti diri. Namun sebagian besar anak tetap memiliki potensi untuk beradaptasi secara sehat apabila mereka berada dalam lingkungan yang responsif, suportif, dan mampu memahami pengalaman emosional mereka.
Dalam konteks NKD, lingkungan sekolah menjadi salah satu arena penting yang memengaruhi proses adaptasi psikologisnya. Kesulitan berkonsentrasi yang ia alami tidak semata-mata merupakan masalah akademik, melainkan juga merupakan tanda bahwa sistem adaptasi psikologisnya sedang bekerja keras untuk menyesuaikan diri dengan kehilangan yang dialaminya. Sekolah yang kurang memahami dinamika duka dan menafsirkan perilaku anak berduka secara keliru, misalnya dengan melabelinya sebagai malas, kurang disiplin, terlalu sensitif, atau tidak fokus.
Padahal yang dibutuhkan oleh anak dalam situasi seperti ini bukanlah hukuman atau tekanan akademik yang lebih besar, melainkan dukungan yang bersifat suportif. Dukungan tersebut dapat berupa guru yang memahami situasi emosional anak, fleksibilitas sementara dalam tuntutan belajar, ketersediaan layanan konseling, serta kehadiran figur dewasa yang konsisten dan dapat dipercaya. Pendekatan seperti ini sejalan dengan rekomendasi WHO yang menekankan bahwa layanan kesehatan mental bagi anak dan remaja sebaiknya dirancang pada tingkat komunitas dan melibatkan berbagai sektor, termasuk pendidikan.
Di dalam keluarga, peran pengasuh yang masih ada menjadi sangat menentukan dalam proses penyesuaian anak terhadap kehilangan. Kualitas dukungan dari pengasuh yang masih ada merupakan salah satu faktor yang paling kuat dalam memengaruhi luaran psikologis anak setelah kehilangan orang tua. Anak membutuhkan orang dewasa yang mampu hadir secara emosional, memberikan penjelasan yang jujur mengenai kematian, memvalidasi berbagai emosi yang muncul, menjaga rutinitas kehidupan sehari-hari, serta tidak menuntut anak untuk segera menjadi kuat.
Pengalaman duka tidak pernah sepenuhnya bersifat individual. Cara seseorang mengekspresikan kesedihan, memahami kematian, dan menjalani proses berkabung sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya, tradisi, dan keyakinan spiritual yang hidup dalam komunitasnya. Dalam banyak masyarakat, termasuk di Indonesia dan Bali, kematian sering kali dimaknai melalui berbagai upacara, serta dukungan komunitas yang kuat.
Aspek budaya ini dapat menjadi sumber kekuatan psikologis bagi anak yang berduka apabila ia dilibatkan secara aman dan bermakna dalam proses tersebut. Namun di sisi lain, tekanan sosial yang menuntut anak untuk segera tampak tabah atau kuat juga dapat menjadi beban emosional apabila pengalaman kesedihan anak tidak diberi ruang untuk diakui.
Selain dimensi psikologis dan sosial, duka juga memiliki dasar neurobiologis yang nyata. Duka bukan hanya pengalaman emosional yang abstrak, tetapi juga melibatkan perubahan pada sistem kerja otak dan tubuh. Pengalaman kehilangan dapat memengaruhi berbagai sistem saraf yang berkaitan dengan keterikatan emosional, pemrosesan memori, sistem penghargaan, serta respons terhadap stres.
Dalam konteks kehilangan figur lekat, sistem saraf seseorang masih mengharapkan kehadiran orang yang dicintai, sementara realitas sensorik menunjukkan bahwa figur tersebut tidak lagi ada. Ketegangan antara harapan emosional dan realitas tersebut dapat memunculkan berbagai pengalaman yang khas dalam duka, seperti kerinduan yang intens, pikiran intrusif, kesulitan berkonsentrasi, serta lonjakan emosi ketika seseorang melihat atau mendengar sesuatu yang mengingatkan pada almarhum.
Keterlibatan berbagai struktur otak seperti amigdala yang berperan dalam pemrosesan emosi, hippocampus yang terkait dengan memori, serta sistem regulasi stres yang memengaruhi respons fisiologis terhadap kehilangan menjadi sistem yang sangat memengaruhi proses kehilangan tersebut.
Pada remaja, kerentanan terhadap dampak neurobiologis dari duka dapat menjadi lebih besar karena sistem regulasi emosi dan kontrol kognitif masih berada dalam tahap perkembangan. Ketika gelombang kesedihan dan kerinduan muncul secara mendadak, tubuh dapat merespons dengan berbagai reaksi fisik seperti ketegangan otot, rasa sesak di dada, gangguan tidur, kelelahan, serta kesulitan memusatkan perhatian.
Oleh karena itu, kesulitan konsentrasi yang dialami oleh NKD tidak dapat dipahami sebagai kurangnya motivasi atau usaha, melainkan sebagai refleksi dari kerja sistem emosional dan neurobiologis yang sedang berusaha mengolah pengalaman kehilangan yang sangat mendalam. Kondisi ini menunjukkan bahwa intervensi yang efektif bagi anak yang sedang berduka perlu mencakup pendekatan yang komprehensif, yaitu dengan memvalidasi emosi yang dialami, membantu menata kembali rutinitas kehidupan sehari-hari, menjaga kualitas tidur dan aktivitas fisik, serta menyediakan ruang yang aman bagi anak untuk mengekspresikan cerita dan kenangan tentang orang yang telah ia kehilangan.
Membangun ekosistem yang melindungi anak berduka
Kasus NKD mengingatkan kita bahwa ketika seorang anak kehilangan orang tua, yang terluka bukan hanya seorang individu, tetapi juga ekosistem yang menopang tumbuh kembangnya. Karena itu, perlindungan anak berduka harus menjadi tanggung jawab bersama.
Bagi keluarga, tugas pertama bukan menghapus kesedihan anak, melainkan menemani kesedihan itu dengan aman. Anak perlu mendengar bahwa menangis itu boleh, rindu itu wajar, marah dan bingung juga manusiawi.
Ia perlu dibantu menamai emosinya, menjaga rutinitas hariannya, mempertahankan hubungan dengan kenangan baik tentang ayah, dan menemukan cara-cara aman untuk menyalurkan rasa kehilangan. Keluarga juga perlu peka terhadap tanda bahaya apabila tejadi penarikan diri yang berat, gangguan fungsi yang memburuk, self-harm, ucapan ingin menyusul yang meninggal, atau hilangnya minat hidup. Dalam kasus NKD, perilaku mencubit diri harus menjadi alasan untuk melakukan asesmen keselamatan secara berkala, walau saat ini belum ada niat bunuh diri yang diungkapkan.
Bagi sekolah, anak berduka tidak boleh dibiarkan sendirian di balik seragamnya. Sekolah idealnya memiliki prosedur respons sederhana: guru wali kelas diberi tahu, beban tugas sementara disesuaikan, absensi dipahami dalam konteks, dan layanan Bimbingan dan Konseling harus proaktif menjangkau anak. Anak berduka juga membutuhkan satu atau dua orang dewasa di sekolah yang benar-benar hadir, bukan hanya administratif.
Bagi pemerintah, kasus seperti NKD seharusnya mendorong penguatan layanan kesehatan jiwa anak dan remaja berbasis komunitas. WHO dan UNICEF menekankan pentingnya desain layanan yang terintegrasi di tingkat komunitas dan lintas sektor baik dari kesehatan, pendidikan, perlindungan sosial, dan keluarga. Anak berduka tidak semuanya memerlukan psikiater, tetapi semua memerlukan sistem yang peka, mudah diakses, dan tidak menstigma. Puskesmas, sekolah, kader, pekerja sosial, serta layanan konseling remaja perlu dipersiapkan untuk mengenali duka yang adaptif, duka yang berisiko, dan kapan harus merujuk.
Bagi masyarakat, pelajaran terbesarnya adalah jangan memaksa anak menjadi dewasa sebelum waktunya. Kalimat seperti yang kuat ya, jangan menangis terus, atau sudah ikhlaskan saja sering diucapkan dengan niat baik, tetapi kadang justru menutup pintu emosi anak. Komunitas yang sehat adalah komunitas yang memberi ruang bagi anak untuk berduka tanpa dipermalukan, tanpa diisolasi, dan tanpa distigma. Dukungan yang sensitif budaya juga penting: ritual, doa, kenangan kolektif, dan jejaring sosial dapat menjadi penyangga yang sangat menolong bila dijalankan dengan kelembutan dan memperhatikan kebutuhan anak.
Pada akhirnya, duka NKD bukan hanya kisah kehilangan seorang ayah. Ini adalah kisah seorang anak yang sedang berusaha menata ulang dunianya. Tugas kita bukan menyuruhnya cepat selesai berduka, melainkan berjalan di sampingnya sampai ia mampu membawa kenangan ayahnya dengan cara yang lebih tenang, lebih aman, dan tetap penuh cinta. Kesembuhan bukan berarti melupakan tetapi kesembuhan adalah ketika seorang anak dapat terus bertumbuh, meski hatinya pernah patah. (Oleh: Prof Dr dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/tim
Berita Terpopuler
5 Pelaku Pembakaran ABK Benoa Ditangkap, Ini Motifnya
Dibaca: 3805 Kali
Koster Ungkap Rencana Akses Baru ke Besakih dari Klungkung-Bangli
Dibaca: 1747 Kali
ABOUT BALI
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik
Menyambut Energi Baru Imlek Lewat Ritual Rupang