Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 11 Juni 2026
Dalam Nyepi, Alam Berkomunikasi
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Saat Nyepi, yang dirayakan gempita seluruh Bali melalui salah satunya adalah pawai ogoh-ogoh, kadang dilupakan bahwa saat itulah salah satu saat yang tepat kita mendengar pesan alam.
Di hari yang sunyi tanpa suara-suara buatan manusia, mari kita berkomunikasi dengan Alam. Kita sebagai mahluk yang hidup di dalamnya sepatutnya mencoba mendengar apa yang Alam inginkan dan pesankan untuk kita.
Alam memberikan pesan dengan cara yang lembut hingga cara yang keras. Contohnya bencana alam yang terjadi di Indonesia adalah cara alam memberikan pesan apa yang sedang dan yang telah kita manusia lakukan selama ini. Peringatan kepada manusia yang kerap lupa menjaga tempat ia hidup. Alam juga memberikan refleksi kepada kita sebagai manusia, saat alam tidak seimbang hal ini adalah cerminan manusia yang tidak mampu menjaga keseimbangan dalam dirinya.
Dalam tradisi Hindu Bali, terdapat konsep Buana Alit dan Buana Agung. Buana Alit merujuk pada diri manusia sebagai mikrokosmos yakni pikiran, sikap, dan tindakan kita. Buana Agung adalah alam semesta sebagai makrokosmos. Keduanya diyakini saling terhubung dan harus berada dalam keadaan seimbang. Ketika manusia tidak mampu menjaga harmoni dalam dirinya, ketidakseimbangan itu tercermin pada alam.
Jika dikaitkan dengan persoalan lingkungan dan bencana, konsep ini terasa relevan. Krisis lingkungan sering dipahami sebagai masalah sistem besar: kurangnya infrastruktur, lemahnya penegakan hukum, atau minimnya teknologi pengolahan. Semua itu memang faktor penting. Namun, ada dimensi lain yang tak kalah mendasar yakni kebiasaan sehari-hari.
Saluran air yang tersumbat tidak muncul dengan sendirinya. Ia berasal dari keputusan kecil: menggunakan plastik sekali pakai, membuang limbah sembarangan, atau mengabaikan pemilahan sampah di rumah. Ketika perilaku tersebut dilakukan secara kolektif, dampaknya menjadi sistemik. Buana Alit yang abai menghasilkan Buana Agung yang terbebani.
Nyepi, melalui Catur Brata Penyepian, amati geni, amati karya, amati lelungan, dan amati lelanguan yang mengajarkan pengendalian diri. Aktivitas dikurangi, konsumsi ditekan, dan ruang publik menjadi sunyi. Dalam skala sehari, dampaknya mungkin terbatas. Namun secara simbolik, ia menunjukkan bahwa manusia mampu menahan diri demi keseimbangan yang lebih luas.
Pendekatan ini relevan ketika kita menghadapi tantangan perubahan iklim dan meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi. Curah hujan ekstrem memang tidak bisa dicegah, tetapi dampaknya dapat diminimalkan jika lingkungan dikelola dengan bijak dan beban ekologis dikurangi.
Selama ini, wacana lingkungan sering berhenti pada tataran kampanye. Kita didorong untuk lebih peduli, tetapi perubahan perilaku berjalan lambat. Dalam kerangka Buana Alit dan Buana Agung, perubahan besar justru berawal dari disiplin personal yang konsisten dan mengurangi konsumsi berlebihan, memilih produk yang lebih berkelanjutan, dan bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan.
Nyepi tidak menawarkan solusi instan atas krisis lingkungan nasional. Namun, ia mengingatkan bahwa keseimbangan tidak hanya dibangun melalui kebijakan makro, melainkan juga melalui kesadaran mikro. Nyepi adalah waktu di mana kita manusia mendengarkan apa pesan yang disampaikan alam.
Barangkali persoalan terbesar kita bukan ketiadaan aturan, melainkan kurangnya keselarasan antara apa yang kita ketahui dan apa yang kita lakukan. Kekurangan terbesar kita pada lemahnya kemampuan kita mendengar apa yang dikomunikasikan oleh Alam.
Dalam hubungan antara Buana Alit dan Buana Agung, keduanya tidak pernah benar-benar terpisah. Maka dalam Nyepi diharapkan keduanya yang kerap terpisahkan dapat menyatu untuk keseimbangan semesta yang hakiki.
Selamat Nyepi, Mari belajar mendengar Alam.
Penulis
Dr Ni Made Ras Amanda Gelgel
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/opn
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli