Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 25 Juli 2026
GENTA dari Jembrana Membunyikan Alarm Stunting Lebih Dini
BERITABALI.COM, NASIONAL.
Pagi belum benar-benar kering, embun masih menempel di halaman, tapi posyandu kecil di pelosok Jembrana sudah ramai. Ibu-ibu berdiri mengantre, balita digendong bergantian. Di meja, seorang kader menulis angka berat badan ke KMS (Kartu Menuju Sehat), pelan-pelan, pakai pena dengan tinta yang tinggal sisa. Di sudut ruangan ada timbangan antropometri, bantuan baru, dacin yang dulu lama menggantung di kusen pintu kini cuma jadi kenangan. Suasananya hangat, tulus, semua bekerja sepenuh hati.
Tetap saja ada yang terasa mengganjal. Begitu penimbangan selesai, angka-angka itu berhenti di kertas. Nanti direkap, diketik ulang kalau sempat, dikirim bertahap ke puskesmas, lalu entah kapan sampai ke meja yang bisa mengambil keputusan. Kadang baru terbaca saat keadaan di lapangan sudah bergerak lagi.
Di situ saya merasa, sebagai orang Jembrana yang besar di antara sawah dan pantai, masih ada pekerjaan rumah yang belum dibereskan. Masalahnya bukan niat, bukan juga kerja keras para kader yang luar biasa itu, melainkan jalur data yang lambat. Justru pada celah itulah kecerdasan buatan bisa ikut membantu, bukan menggusur peran manusia, tapi membuat langkah kita melawan stunting jadi lebih cepat.
Prevalensi Menurun, Tapi Belum Berakhir
Bayangkan, dari setiap lima anak di Indonesia, satu anak tidak bertumbuh seperti seharusnya. Bukan perkara keturunan, melainkan akibat kurang gizi yang menahun. Kita sering mengucap “Indonesia Emas 2045” dengan nada optimistis, tetapi ada sisi yang jarang terdengar, jutaan anak sedang ditarik mundur dari peluang terbaiknya, bahkan sebelum sempat punya ruang untuk bermimpi.
Angka-angka dari Kementerian Kesehatan RI memperjelas keadaan itu. Pada 2024, prevalensi stunting nasional masih sekitar 19,8 persen, lalu dipatok turun ke 18,8 persen pada 2025. Dengan kata lain, risikonya masih menghantui hampir satu dari lima anak. Setahun sebelumnya pun angkanya masih di atas 21 persen, ada penurunan, ya, tetapi lajunya belum secepat yang dibutuhkan.
Kalau bicara daerah, Bali kerap dijadikan rujukan keberhasilan karena prevalensinya kurang lebih 8,7 persen, terendah di Indonesia. Meski begitu, angka ini juga membawa pesan yang tidak nyaman, bahkan di tempat yang dianggap paling baik sekalipun, urusan stunting belum benar-benar berakhir.
Di titik itu, kisah dari Jembrana terasa relevan, sebuah sudut kecil yang berupaya memberi jawaban atas masalah yang jauh lebih besar.
Ada banyak tangan yang bekerja di balik pencapaian itu, kader posyandu, gerakan bapak/bunda asuh anak stunting, sampai kampanye gemar makan ikan yang dekat dengan identitas daerah pesisir seperti Jembrana.
Tapi angka bagus punya sisi yang sering tak terasa, ia banyak bersumber dari survei berkala. Survei nasional datang pada waktu tertentu, sementara kondisi anak-anak berubah dari bulan ke bulan, tepat saat penimbangan rutin dilakukan. Akhirnya, keputusan kerap diambil dengan melihat data kemarin, bukan membaca keadaan hari ini.
Di titik ini saya menangkap tantangan besar dalam penanganan stunting ke depan. Kita selama ini seperti berlomba mempercepat intervensi gizi, tapi urusan kecepatan informasi sering belum mendapat porsi yang sama. Padahal mutu keputusan nyaris selalu bertumpu pada data yang hadir tepat waktu. Begitu informasi mundur, bahkan cuma beberapa minggu, kesempatan terbaik untuk mencegah gagal tumbuh bisa ikut lenyap tanpa terasa. Bagi saya, arah penanganan stunting ke depan tidak semata ditentukan oleh banyaknya program yang dijalankan, melainkan oleh seberapa gesit negara mampu menangkap “suara” pertumbuhan setiap anak.
Belum lagi data gizi masih tersebar di beberapa aplikasi yang belum sungguh-sungguh nyambung satu sama lain, sehingga pelaporan real-time yang rapi dan berjenjang belum sepenuhnya jalan. Seorang anak bisa mulai menunjukkan tanda gagal tumbuh sekarang, namun sinyalnya baru “kedengaran” setelah ia benar-benar jatuh pada kondisi stunting. Dan stunting itu mahal kalau telat, ia menggerus masa depan pada seribu hari pertama kehidupan, periode yang tidak bisa diulang.
Di tingkat nasional, program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi simbol komitmen negara dalam membangun generasi sehat. Ia bukan sekadar program bantuan pangan, melainkan investasi jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia. Di Bali, MBG pertama kali hadir di Kelurahan Lelateng, Jembrana (Nusabali, 2025).
Tetapi seperti banyak kebijakan besar lainnya, dampaknya akan jauh lebih terasa ketika bertemu dengan gerakan kecil yang bekerja dekat dengan masyarakat. Di Jembrana, upaya itu menemukan bentuknya yang lebih dekat dan konkret.
GENTA, Lonceng yang Membunyikan Peringatan Lebih Cepat
Saya membayangkan sebuah sistem informasi gizi yang bertumpu pada AI (Artificial Intelligence), namanya GENTA (Gizi Emas Nusantara Terpantau AI). Nama itu sengaja saya ambil dari genta, lonceng kecil yang dibunyikan pemangku dalam upacara di Bali. Genta bukan sekadar bunyi, ia tanda, ia panggilan untuk sadar dan hadir. Itu juga yang saya harapkan dari AI dalam urusan stunting, berbunyi saat kurva pertumbuhan mulai melandai, sebelum semuanya terlanjur.
Alurnya bisa tetap sederhana di depan, namun lebih pintar di belakang. Kader posyandu tetap jadi ujung tombak, tidak berubah. Yang berbeda, hasil timbang berat badan, ukur tinggi, lingkar lengan, dan indikator lain langsung dimasukkan lewat aplikasi ringan di ponsel. Jadi bukan lagi menulis di kertas dulu, lalu menunggu rekap ulang.
Begitu data tercatat, tugas kader sebenarnya belum langsung tuntas, karena sejak saat itu AI pelan-pelan ikut bekerja di balik layar. Hanya dalam beberapa detik, sistem menelusuri pola pertumbuhan, menyandingkannya dengan acuan nasional, lalu mengirim tanda saat seorang anak mulai mengarah ke zona risiko. Keputusan di lapangan tetap berada di tangan kader, hanya saja sekarang mereka menanganinya dengan informasi yang datang lebih cepat dan terasa lebih presisi. Sistem ini ikut memeriksa sekaligus merapikan isian, menyaring entri yang dobel, mengurangi salah ketik, lalu memetakan pertumbuhan anak sesuai standar dan membaca ke mana arah kurvanya bergerak. Kalau grafiknya mulai mengarah pada tanda gagal tumbuh, akan muncul penanda risiko, lengkap dengan saran langkah lanjut yang bisa langsung dipakai kader maupun tenaga kesehatan di setempat.
Pemandangan seperti ini akrab di posyandu desa, seorang ibu bisa pulang lebih lega saat tahu anaknya masih berada di jalur pertumbuhan yang sehat. Dampaknya jelas, kader tak lagi berhenti di urusan mencatat, mereka punya pegangan untuk bertindak lebih cepat saat bantuan memang dibutuhkan.
Nilai penting GENTA ada pada koneksinya. Data itu mengalir ke SATUSEHAT, platform kesehatan nasional yang memang dibuat untuk menyatukan banyak aplikasi dalam satu lingkungan data. Dari sana, lahir dasbor berjenjang yang benar-benar hidup. Kepala desa dapat melihat kondisi anak-anak di wilayahnya hari ini. Bupati bisa memantau kecamatan se-Jembrana secara real-time. Kementerian Kesehatan pun dapat membaca peta stunting Indonesia bukan hanya dari estimasi survei, tapi dari catatan yang terus diperbarui. Pola ini bisa dipakai di setiap kabupaten, dari Sabang sampai Merauke, dari desa kecil sampai pusat.
Saya tidak melihat GENTA sebagai aplikasi baru yang berdiri sendiri. Dampaknya justru akan lebih terasa bila GENTA hadir sebagai lapisan kecerdasan yang menempel pada ekosistem kesehatan digital milik pemerintah yang sudah berjalan. Dengan cara itu, daerah tidak dipaksa membangun semuanya dari awal, mereka tinggal memperkuat sistem yang ada lewat analisis prediktif, peringatan dini, serta rekomendasi intervensi yang bertumpu pada data. Pola seperti ini juga terasa lebih masuk akal untuk digulirkan pelan-pelan hingga akhirnya bisa diterapkan luas di seluruh Indonesia.
Manfaatnya terasa di tiap tingkat. Di desa, GENTA berperan sebagai alarm dini agar intervensi tidak menunggu stunting terjadi. Di kabupaten, ia menunjukkan desa mana yang butuh perhatian ekstra, sehingga anggaran dan program tidak lagi dibagi rata tanpa arah, tapi dipusatkan ke titik yang benar-benar memerlukan. Di tingkat nasional, pemerintah memperoleh hal yang selama ini sulit, angka stunting yang aktual, saat itu juga, untuk keputusan yang cepat dan tepat sasaran.
Teknologi yang Menapak Tanah
Gagasan secanggih apa pun akan mudah rontok kalau tidak membumi. Karena itu GENTA harus dibangun dengan kaki yang menapak tanah. Tidak semua desa punya sinyal stabil, maka aplikasi mesti bisa berjalan luring dan baru menyinkronkan data saat jaringan kembali ada.
Kader posyandu adalah pahlawan, bukan petugas teknologi informasi. Antarmukanya harus dibuat sesederhana mungkin, seperti mengirim pesan singkat, dan pendampingannya perlu sabar. Lalu ada hal yang tidak boleh ditawar, data kesehatan anak itu sensitif, jadi keamanan dan perlindungan privasi bukan sekadar tambahan, ia harus jadi dasar.
Yang paling penting, AI di sini bukan pengganti nurani. GENTA hanya memberi bunyi peringatan. Yang tetap turun mengetuk pintu, menimbang ulang, memastikan si kecil benar-benar mendapat asupan gizi. Bali punya semangat menyama braya, rasa bersaudara dan saling menjaga. Teknologi yang baik semestinya memperkuat ikatan itu, bukan menggantinya dengan layar yang dingin.
Dari Posyandu Kecil Menuju Indonesia Tangguh
Ada sesuatu yang terasa puitis ketika membayangkan lonceng digital berdentang serempak dari ribuan posyandu. Setiap bunyi berarti satu anak dipantau lebih dini, satu keluarga tidak dibiarkan sendirian, satu langkah kecil menuju generasi yang tumbuh tegak.
Stunting bukan cuma perkara tinggi badan. Ia ikut menentukan seberapa jauh anak bisa belajar, bekerja, dan menggantungkan harapan di masa depan. Menurunkannya berarti menabung untuk Indonesia Emas 2045.
Jembrana memang hanya satu titik kecil di peta. Tapi sering kali, ide besar lahir dari titik kecil yang serius memperhatikan hal paling dasar. Di usia Republik yang ke-81, saya percaya ukuran kekuatan bangsa bukan pada yang paling megah, melainkan pada seberapa cepat kita merawat yang paling dini, anak-anak di posyandu desa yang namanya jarang disebut. Kalau kita bisa mendengar mereka lebih cepat, lewat genta yang berbunyi tepat waktu, maka “masyarakat sehat, Indonesia kuat” tidak berhenti sebagai slogan. Menurunkan stunting bukan hanya soal angka, tapi soal memastikan setiap anak Indonesia punya kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar, dan bermimpi.
I Putu Agus Swastika
#MasyarakatSehatIndonesiaKuat #LombaKesehatanKomdigi2026 #HUT81RI
Editor: Founder
Reporter: bbn/gus
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3828 Kali
Penembakan di Klub Malam Canggu, Dua Orang Terluka, Pelaku Diburu
Dibaca: 1492 Kali
Positif Ekstasi, Kanit Reskrim Polsek Kuta Ditahan Propam Polda Bali
Dibaca: 1473 Kali
Menhub Setuju Bandara Letkol Wisnu Dikembangkan di Bali Utara
Dibaca: 1424 Kali
Risiko terhadap Momentum Digital Indonesia
Dibaca: 1320 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun