Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 30 Juli 2026
Menteri LH: 60 Persen Warga Bali Sudah Pilah Sampah
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Perubahan budaya dan pola pikir masyarakat Bali dalam pengelolaan sampah dinilai menunjukkan kemajuan signifikan. Hal tersebut disampaikan Menteri Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq, saat meninjau TPST Kesiman Kertalangu, Jumat (17/4/2026).
“Lebih dari 60 persen masyarakat Bali di Denpasar dan Badung sudah memilah sampah. Langkah ini tidak gampang,” jelas Menteri Hanif.
Ia menyebut capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen di Bali, mulai dari pemerintah daerah hingga unsur desa adat.
“Semangat ini harus kita jaga dengan baik karena pemilahan sudah mencapai 65% bahkan mendekati 70 %. Maka saya kira Pemerintah Provinsi Bali wajib mengenakan tindak pidana ringan (tipiring) kepada masyarakat yang tidak memilah sampah,” imbuhnya.
Menurutnya, kebijakan pemilahan sampah berbasis sumber harus ditegakkan secara konsisten. Ia menilai tidak adil bagi masyarakat yang telah disiplin memilah sampah jika tidak ada sanksi bagi pelanggar.
Selain itu, Menteri Lingkungan Hidup juga menegaskan bahwa rencana pembangunan Pengelolaan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) tetap membutuhkan sampah berkualitas, yakni yang telah dipilah sejak dari sumbernya.
“Waste to Energy memerlukan sampah berkualitas, maksudnya sampah yang terpilah dan dapat mereduksi nilai kalornya dan kapasitas mesinnya. Jadi sampah itu benar-benar jenis tertentu,” jelasnya.
Dalam praktiknya, PSEL memang mampu mengolah sampah campuran. Namun, kualitas dan dampak pengolahan sangat dipengaruhi oleh kondisi sampah yang masuk ke dalam sistem.
Sampah yang telah dipilah—seperti organik, anorganik, dan residu—memiliki nilai kalor yang lebih stabil serta kandungan air yang lebih rendah. Hal ini membuat proses pembakaran menjadi lebih efisien, menghasilkan energi listrik yang optimal, sekaligus menekan potensi emisi berbahaya.
Sebaliknya, sampah yang tidak dipilah cenderung memiliki kadar air tinggi, terutama dari sampah organik. Kondisi ini dapat menurunkan efisiensi pembakaran, meningkatkan beban operasional, serta membutuhkan pengolahan emisi yang lebih kompleks.
Dari sisi pembiayaan, pengelolaan sampah terpilah juga dinilai lebih efisien. Hal ini berpotensi menekan kebutuhan subsidi maupun biaya pengolahan (tipping fee) yang bersumber dari APBN maupun APBD.
Editor: Redaksi
Reporter: Humas Bali
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3896 Kali
Anggota DPRD Gianyar Wayan Gede Sudarta Meninggal di Malaysia
Dibaca: 2965 Kali
Guru SD di Singaraja Dilaporkan atas Dugaan Pencabulan Siswi
Dibaca: 2053 Kali
Klinik Polres Jembrana Raih FKTP Terbaik I di Bidokkes Award 2026
Dibaca: 2026 Kali
Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pelecehan Siswi SD di Payangan
Dibaca: 1812 Kali
ABOUT BALI
Riset BRIN Ungkap Alasan Masyarakat Bali Mulai Memilih Krematorium untuk Ngaben
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun