Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Kamis, 7 Mei 2026
TPA Suwung Buka Tutup, Dewan Soroti Ketidaktegasan
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Polemik penutupan TPA Suwung kembali mencuat setelah kebijakan pemerintah dinilai tidak konsisten. Buka tutup operasional TPA Suwung yang terus berubah dinilai menimbulkan kebingungan di masyarakat.
Pemerintah disebut terkesan tarik ulur tanpa ketegasan dalam menentukan waktu penutupan. Kebijakan yang berubah-ubah ini berdampak langsung pada perilaku warga, mulai dari membakar sampah hingga memanfaatkan lahan kosong untuk pembuangan.
Terakhir, per 1 April diputuskan bahwa sampah organik dilarang masuk ke TPA Suwung. Namun, kebijakan itu kembali berubah dengan diperbolehkannya pembuangan sampah organik dua kali dalam seminggu hingga Juni 2026.
Anggota Komisi III DPRD Kota Denpasar, Agus Wirajaya menilai kondisi tersebut berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
"Dari dulu dibilang tutup tapi mundur, dibilang tutup tapi lagi mundur', keadaan ini yang akan jadi masalah nanti. Perlu ketegasan dan kesadaran semua pihak kalau menurut saya untuk hal itu," kata Agus Wirajaya, Rabu (22/4/2026).
Ia menilai, kebijakan yang berubah-ubah memang memberi ruang bagi masyarakat untuk beradaptasi, terutama bagi warga yang masih kesulitan mengelola sampah secara mandiri akibat keterbatasan fasilitas. Namun, jika pola tarik ulur ini terus berlanjut, maka justru akan membuka celah dan memperburuk situasi.
"Masyarakat juga akan dapat celah, swakelola pun akan merasa 'oh masih bisa ini'. Justru memang harus konsisten dan disiplin untuk itu," imbuhnya.
Menurutnya, tekanan penutupan TPA Suwung memiliki sisi positif dan negatif. Di satu sisi, pemerintah terdorong mempercepat penyediaan infrastruktur pengolahan sampah seperti mesin di TPST dan TPS3R serta sosialisasi penggunaan komposter bag bagi masyarakat.
Namun di sisi lain, tanpa konsistensi kebijakan, upaya tersebut tidak akan optimal dalam menyelesaikan persoalan sampah yang kompleks.
Agus Wirajaya menegaskan bahwa penanganan sampah tidak akan berhasil tanpa kesadaran dan partisipasi aktif seluruh pihak, baik pemerintah maupun masyarakat.
"Termasuk kami yang anggota dewan sebagai pemerintah dan juga sebagai masyarakat, secara pribadi kami dirumah juga wajib untuk memilah sampah dari sumbernya. Untuk swakelola juga punya tanggung jawab melakukan pengolahan, tidak cuma hanya mengambil dan membuang sampah," paparnya.
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/maw
Berita Terpopuler
Remaja di Karangasem Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Jati
Dibaca: 683 Kali
Isu Duet dengan AWK di Pilgub 2030, Ini Respons De Gadjah
Dibaca: 633 Kali
Pemerintah Dorong KEK Kura Kura Bali Jadi Pusat Keuangan Global
Dibaca: 470 Kali
Polisi Bongkar Praktik LC di Bawah Umur di Kafe Gianyar
Dibaca: 454 Kali
ABOUT BALI
Wali Panguangan, Tradisi Sakral Syukuran Panen di Desa Mengani Bangli
Perang Tipat Sayan, Tradisi Syukur Petani Jaga Kesuburan Sawah
Sakralnya Bale Gajah Pura Besakih, Tak Sembarangan Orang Bisa Naik