Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Desa Adat Batur Bangun Cihna Titik Nol, Kenang Sejarah Erupsi 1926

Senin, 4 Mei 2026, 23:12 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/dok Desa Adat Batur/Desa Adat Batur Bangun Cihna Titik Nol, Kenang Sejarah Erupsi 1926.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, BANGLI.

Desa Adat Batur melaksanakan upacara ngruwak sebagai langkah awal pembangunan Cihna (tanda) Titik Nol Batur Let, Senin (4/5/2026). Titik ini merupakan pusat permukiman Desa Adat Batur sebelum ditelan lahar Gunung Batur pada erupsi tahun 1926.

Pembangunan Cihna Batur Let menjadi bagian dari rangkaian peringatan Seratus Tahun Rarud Batur yang akan digelar pada Agustus 2026 mendatang.

Titik Nol Batur Let merujuk kawasan eks Meru Tumpang Solas Pura Ulun Danu Batur di Desa Batur sebelum 1926. Lokasi ini berada di barat daya Gunung Batur, kawasan Kaldera Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.

Sejarah mencatat, letusan besar Gunung Batur pada Agustus 1926 telah menghancurkan permukiman Desa Batur Let, termasuk Pura Ulun Danu Batur serta pusat aktivitas masyarakat. Warga kemudian diungsikan bersama benda-benda sakral sebelum akhirnya menetap di lokasi Desa Adat Batur saat ini.

Pamucuk Desa Adat Batur, Jero Gede Duhuran Batur, menjelaskan bahwa penetapan titik nol ini melalui proses panjang sejak 2017, dengan pendekatan ilmiah dan spiritual.

"Cihna yang berupa palinggih padmasana dan bebaturan itu dibuat untuk mengenang perjalanan leluhur Batur. Tanda tersebut diharapkan dapat menjadi media edukasi tentang perjalanan sejarah Batur yang panjang. Ke depannya, generasi mendatang akan memiliki orientasi yang jelas untuk memahami jejak rekam sejarah mereka sendiri," kata tokoh adat-agama yang juga Pangemong Pura Ulun Danu Batur ini.

Ia menegaskan, pembangunan cihna tidak dimaksudkan untuk membangun kembali struktur pura seperti sebelumnya, melainkan sebagai penanda sejarah.

"Karena sifatnya sebagai cihna, jadi kami tidak membangun kembali palinggih lain, misalnya dalam bentuk gedong atau meru. Ini hanya penanda bahwa leluhur Batur pernah hidup dan membangun peradaban agung di masa lalu, dan seratus tahun lalu akhirnya kaambil (dilihat, red) lahar," kata Jero Gede.

Ketua Panitia Seratus Tahun Rarud Batur, Guru Nengah Santika, menambahkan bahwa lokasi tersebut menjadi saksi bisu peristiwa erupsi besar yang mengubah kehidupan masyarakat Batur.

Puncak peringatan Seratus Tahun Rarud Batur dijadwalkan berlangsung pada 3 Agustus 2026, dengan rangkaian kegiatan pada 2 hingga 8 Agustus 2026 yang mencakup edukasi, pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, serta pemajuan budaya.

"Kami sangat mengharapkan dukungan dan partisipasi dari seluruh masyarakat serta pemerintah daerah maupun pusat agar seluruh rangkaian kegiatan ini berjalan lancar. Mari kita jadikan momen ini sebagai pengingat akan perjuangan para leluhur kita 100 tahun yang lalu," kata dia.

Dukungan juga datang dari Balai KSDA Wilayah II Bali. Kepala Seksi, Danang Wijayanto, menyampaikan apresiasi terhadap upaya pelestarian sejarah dan kawasan suci tersebut.

“Kami dari BKSDA Bali sangat berbahagia sekali bisa menjadi bagian dari memperingati leluhur dari masyarakat dan kami juga berbahagia sekali bahwa kita bersama-sama saling menghormati dan menjaga kesucian tempat ini, dan mudah-mudahan ini menginspirasi masyarakat Batur dan masyarakat Bali sehingga kawasan-kawasan suci tetap terjaga dan tetap lestari," katanya.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/rls



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami