Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Buku Seabad Relokasi Batur Rekam Resiliensi Warga Pascaletusan Gunung Batur

Minggu, 26 Juli 2026, 12:13 WITA Follow
Beritabali.com

beritabali/ist/Buku Seabad Relokasi Batur Rekam Resiliensi Warga Pascaletusan Gunung Batur.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Buku Seabad Relokasi Batur menjadi bahan diskusi dalam Program Beranda Pustaka pada Festival Seni Bali Jani (FSBJ) 2026 yang berlangsung di Taman Budaya Bali, Denpasar, Jumat (24/7/2026). Buku yang disusun secara swadaya oleh komunitas Lingkar Studi Batur ini dinilai menjadi upaya penting dalam merawat ingatan kolektif masyarakat Batur sekaligus membuka ruang kajian sejarah dan budaya yang lebih luas.

Dosen Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa, Heri Purwanto, yang hadir sebagai pembedah buku, mengatakan terdapat tiga benang merah utama yang diangkat dalam buku tersebut, yakni resiliensi masyarakat Batur melalui aspek kebertahanan, adaptasi, dan kekhawatiran terhadap masa depan kawasan Batur.

Menurutnya, kebertahanan menggambarkan bagaimana masyarakat Batur mampu bertahan setelah proses relokasi akibat letusan Gunung Batur. Sementara adaptasi memperlihatkan proses masyarakat membangun kembali kehidupan sosial dan budaya di ruang yang baru.

Adapun aspek kekhawatiran, lanjutnya, tercermin dari berbagai tulisan yang mengulas tantangan masa depan Batur, mulai dari ancaman degradasi lingkungan, pemanfaatan ruang, hingga potensi hilangnya nilai-nilai budaya dan warisan leluhur.

"Dalam penyajian tema-tema ini, editor sangat baik meramunya, sehingga wacana dari para penulis yang berasal dari kalangan lokal, nasional, dan internasional itu bisa terhubung," katanya.

Heri menilai buku yang menghimpun berbagai perspektif tersebut memberikan gambaran mengenai upaya masyarakat Batur, khususnya generasi muda, dalam menjaga memori sejarah dan identitas budaya.

"Buku ini mengajak kita menyelami lorong waktu sejarah dengan memahami kebudayaan Batur dari masa lalu, membaca keadaan saat ini, dan berefleksi untuk masa depan," sebutnya.

Ia juga menyebut buku tersebut menjadi salah satu catatan historiografi penting mengenai peristiwa Rarud Batur, yaitu pengungsian masyarakat akibat letusan Gunung Batur pada tahun 1926.

"Buku ini bisa jadi catatan historiografi yang penting untuk memahami peristiwa itu," katanya.

Meski demikian, Heri memberikan sejumlah catatan kritis terhadap isi buku. Menurutnya, pembahasan mengenai aspek teologi masyarakat Batur masih belum tergali secara mendalam.

"Buku ini tak menyentuh aspek teologis, padahal kita tahu masyarakat Batur dengan agama itu sangat erat. Mereka percaya atas Gunung Batur. Gunung Batur tidak bisa dipisahkan, Dewi Danuh, hubungan masyrakat dan danau. Ini yang belum tampak pada buku ini," kata dia.

Ia berharap kajian akademik mengenai teologi Batur dapat dikembangkan pada masa mendatang. Menurutnya, konsep pemujaan gunung dan dewa-dewa lokal di Batur memiliki keterkaitan dengan konsep teologi Nusantara pada masa lampau, seperti Grama Dewata, Kula Dewata, hingga Parwata Rajadewa.

"Teologi Nusantara dahulu memang mengenal istilah dewa-dewa lokal baik sebagai Grama Dewata yang melingkupi dewa tingkat desa, Kula Dewata yang berkaitan dengan garis keturunan, serta Parwata Rajadewa yang berkaitan dengan pemujaan terhadap gunung. Contohnya di Jawa, misalnya di Gunung Lawu dikenal sebagai Hyang Girinata atau yang kini disebut Hyang Lawu atau Sunan Lawu. Di [Gunung] Kelud ada Hyang Acalapati, yang terurai dalam Negarakretagama. Di Gunung Penanggungan atau arkaisnya disebut Pawitra dikenal dewa Sri Parwatarajadewa. Saya kira di Batur pun kemudian muncul, misalnya yang juga ditulis dalam buku sebagai Ida Ratu Madue Gumi dan Dewi Danuh," katanya.

Sementara itu, penyunting buku, Jero Penyarikan Duuran Batur I K. Eriadi Ariana, menjelaskan bahwa Seabad Relokasi Batur merupakan karya kolaboratif yang menghimpun 32 tulisan dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat Batur, desa-desa yang memiliki keterkaitan dengan Batur, akademisi nasional, hingga peneliti dari luar negeri.

Menurutnya, buku tersebut sejak awal dirancang sebagai ruang dokumentasi dan refleksi atas 100 tahun peristiwa Rarud Batur yang menjadi bagian penting dalam sejarah masyarakat Batur.

"Awalnya memang diupayakan sebagai ruang mencatat Batur, dengan berefleksi pada peristiwa 100 tahun Rarud Batur itu. Setelah tulisan terkumpul, kami pun kaget ketika banyak data yang muncul. Data-data yang dikumpulkan oleh penulis yang tidak saja dari Batur, tetapi juga beberapa desa yang terkait Batur, para intelektual nasional, hingga peneliti dari luar negeri. Semoga kehadiran buku ini dapat memberikan inspirasi untuk kajian Batur selanjutnya," katanya.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/rls



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami