Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Sabtu, 20 Juni 2026
Janger Badung Angkat Kisah Bima Swarga di PKB
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Penampilan Janger Tradisi Remaja Duta Kabupaten Badung pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 sukses memikat perhatian penonton yang memadati Kalangan Ayodya, Taman Budaya Provinsi Bali, Jumat (19/6/2026) malam.
Pementasan yang dibawakan Sanggar Seni Murti Kanti Swara, Banjar Tegeh, Kelurahan Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara, tersebut mendapat sambutan hangat dan tepuk tangan meriah dari para penonton.
Mengusung garapan bertajuk “Bima Swarga”, pertunjukan janger ini mengangkat perjalanan spiritual tokoh Bima dalam upayanya membebaskan roh kedua orang tuanya, Sang Raja Pandu Dewata dan Dewi Madri, dari penderitaan di alam neraka.
Pelatih Tari dan Lakon, Ni Made Ayu Kesuma Dewi, mengungkapkan bahwa kisah Bima Swarga diangkat dari epos Ramayana.
“Jadi kisah ini menceritakan Bima yang tidak mau menyembah atma ibu dan bapaknya di swargan. Karena Bima tidak mau menyembah, perjalanan ibu dan bapaknya menjadi tertunda. Lalu Bima diberikan siasat agar mau menyembah atma kedua orang tuanya,” jelasnya.
Cerita Bima Swarga diawali dengan kegundahan Dewi Kunti yang dihantui mimpi melihat mendiang suaminya bersama Dewi Madri menjalani siksa penebusan dosa di kawah Cambradimuka. Dalam kesedihannya, Dewi Kunti kemudian menyampaikan mimpi tersebut kepada para putranya.
Mendengar kisah itu, Bima bertekad membebaskan roh kedua orang tuanya dari penderitaan. Dengan kekuatan spiritual yang dimiliki, Bima bersama ibunya dan saudara-saudaranya melakukan perjalanan menuju Nerakaloka.
Dalam perjalanan, mereka dihadang Sanghyang Catursanak yang tampil dalam wujud menyeramkan. Namun setelah dikenali, sosok tersebut justru memberikan petunjuk menuju alam tujuan.
Setibanya di Nerakaloka, Bima menceburkan diri untuk mencari roh Sang Pandu Dewata dan Dewi Madri. Setelah melewati berbagai rintangan, kedua roh leluhur tersebut akhirnya ditemukan. Dewi Kunti bersama para putranya kemudian mempersembahkan sembah bhakti sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur mereka.
Namun, roh Sang Pandu Dewata dan Dewi Madri belum dapat mencapai alam Swargaloka karena diyakini belum seluruh keturunannya memberikan penghormatan. Pada bagian inilah konflik cerita mencapai puncaknya.
Bima yang dikenal teguh pada pendiriannya menyatakan tidak akan menyembah para dewa maupun leluhur, selain kepada Tuhan dalam manifestasi Sanghyang Acintya. Sikap tersebut kemudian mendapat olokan dari kakaknya, Yudistira.
Tanpa disadari, Bima akhirnya mencakupkan kedua tangannya sebagai bentuk penghormatan kepada leluhurnya. Momen tersebut menjadi titik balik yang memungkinkan roh Sang Pandu Dewata dan Dewi Madri terangkat menuju alam Swargaloka.
Melalui kisah “Bima Swarga”, Duta Kabupaten Badung tidak hanya menghadirkan hiburan berkualitas bagi penonton PKB, tetapi juga menyampaikan pesan moral tentang bakti kepada orang tua, penghormatan terhadap leluhur, serta pentingnya menjaga keseimbangan antara keyakinan dan kewajiban sebagai manusia.
Menurut Ayu Kesuma Dewi, proses persiapan pertunjukan berlangsung selama kurang lebih tiga bulan. Berbagai tantangan harus dihadapi, terutama dalam menyatukan jadwal latihan para peserta yang memiliki kesibukan masing-masing.
“Yang paling sulit itu mengatur waktu latihan karena mereka sudah besar-besar dan punya kesibukan masing-masing. Tantangan lainnya adalah menari sambil membawakan vokal, sehingga membutuhkan latihan yang lebih intens,” ungkap Ayu Kesuma Dewi.
Pementasan Janger Tradisi Remaja Duta Kabupaten Badung ini melibatkan 30 penari dan pelakon serta didukung 23 penabuh. Kolaborasi tersebut berhasil menghadirkan sajian seni tradisi yang memukau sekaligus menjadi salah satu penampilan yang mendapat apresiasi tinggi dalam rangkaian PKB XLVIII Tahun 2026.
Editor: Redaksi
Reporter: Diskominfo Badung
Berita Terpopuler
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun