Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Minggu, 5 Juli 2026
Sanggar Tugek Carangsari Angkat Awal Tradisi Tipat Bantal Desa Kapal di PKB 2026
bbn/dok Diskominfo/Sanggar Tugek Carangsari Angkat Awal Tradisi Tipat Bantal Desa Kapal di PKB 2026.
BERITABALI.COM, DENPASAR.
Sebuah kisah spiritual yang telah hidup ratusan tahun di Desa Adat Kapal kembali hadir di atas panggung megah Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Melalui garapan kolosal "Sanggama Rohani", Sanggar Seni Tugek Carangsari, Banjar Pemijian, Desa Carangsari, Kecamatan Petang, Duta Kabupaten Badung, menghidupkan kembali perjalanan Patih Kebo Iwa yang menjadi cikal bakal lahirnya Tradisi Tipat Bantal.
Pertunjukan yang digelar di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Art Center Provinsi Bali, Jumat (3/7/2026) malam itu sukses memikat ribuan penonton. Perpaduan dramatari, tari tradisi, tabuh, dan tata artistik yang megah membawa penonton menyelami kisah yang sarat nilai spiritual dan filosofi kehidupan masyarakat Bali.
Garapan ini mengisahkan perjalanan Patih Kebo Iwa saat mendapat tugas dari Raja Bumi Banten untuk merestorasi Pura Sada di Desa Kapal. Dalam perjalanan bersama empat pengabih, Kebo Iwa menemukan masyarakat Desa Kapal sedang dilanda wabah penyakit.
Melihat kondisi tersebut, Kebo Iwa melakukan tapa dan meditasi di Pura Sada. Dari perenungannya, ia memperoleh pawisik atau petunjuk spiritual agar masyarakat melaksanakan ritual penyucian roh sebagai jalan memulihkan keseimbangan alam dan kehidupan.
Dari ritual itulah kemudian lahir Tradisi Tipat Bantal yang hingga kini masih dilestarikan masyarakat Desa Adat Kapal setiap Sasih Purnama Kapat. Tradisi tersebut menjadi simbol penyucian diri sekaligus keharmonisan hubungan antarmanusia dan alam semesta.
Tidak sekadar menghadirkan pertunjukan spektakuler, "Sanggama Rohani" juga menjadi ruang edukasi budaya bagi masyarakat. Penonton diajak memahami bahwa di balik tradisi yang diwariskan leluhur, tersimpan nilai-nilai spiritual dan filosofi yang tetap relevan hingga kini.
Baca juga:
Ribuan Warga Kapal Ikut Perang Tipat Bantal
Koreografer sekaligus penata kostum, Gusti Ngurah Gede Oka Wiratmaja, mengatakan penampilan Duta Kabupaten Badung tahun ini terasa sangat istimewa karena mengangkat salah satu tradisi yang masih lestari di Desa Adat Kapal. Sebanyak sekitar 150 seniman terlibat dalam pementasan kolosal tersebut.
"Hari ini sangat spesial karena kami menampilkan sebuah tradisi tentang Siat Tipat Bantal yang ada di Desa Adat Kapal. Tradisi inilah yang kami angkat pada kesempatan kali ini bersama sekitar 150 peserta," ujarnya.
Menurutnya, pemilihan kisah tersebut didorong keinginan memperkenalkan kekayaan budaya Kabupaten Badung kepada masyarakat luas melalui panggung PKB yang menjadi etalase seni dan budaya Bali.
Ia menjelaskan bahwa Tradisi Tipat Bantal tidak hanya menjadi atraksi budaya, tetapi juga mengandung makna filosofis yang mendalam tentang asal mula kehidupan.
"Tipat Bantal merupakan simbol pertemuan purusa dan pradana. Dari pertemuan itu lahir kehidupan baru. Filosofi tersebut kami harapkan juga mampu melahirkan karya-karya baru yang terus menjaga dan mengembangkan tradisi Bali," jelasnya.
Melalui kisah perjalanan Kebo Iwa dalam "Sanggama Rohani", Sanggar Seni Tugek Carangsari berhasil menunjukkan bahwa warisan budaya bukan sekadar cerita masa lalu. Nilai spiritual, kebersamaan, dan penghormatan terhadap tradisi yang diwariskan leluhur terus hidup dan menjadi identitas masyarakat Badung serta Bali hingga sekarang.
Editor: Redaksi
Reporter: Diskominfo Badung
Berita Terpopuler
Pemuda di Kintamani Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun
Dibaca: 3530 Kali
Risiko terhadap Momentum Digital Indonesia
Dibaca: 1126 Kali
Peserta JKN Tembus 282,7 Juta, BPJS Kesehatan Catat Kinerja Positif
Dibaca: 530 Kali
CBR Tabrak Truk di Sibetan, Pemotor Tewas di Tempat
Dibaca: 501 Kali
ABOUT BALI
Tradisi Mepatung di Bangli, Penampahan Galungan yang Pererat Persaudaraan
Video Langka Calonarang dan Janger Pegok 1937 Ditemukan di Jerman
Tradisi Wadak di Mengani Tetap Lestari, Desa Batasi Satu Godel Setahun