Akun
guest@beritabali.com

Beritabali ID:


Langganan
logo
Beritabali Premium Aktif

Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium




Les Kelanguan Duta Badung Hipnotis Penonton PKB 2026

Jumat, 10 Juli 2026, 21:34 WITA Follow
Beritabali.com

bbn/dok Diskominfo Badung/Les Kelanguan Duta Badung Hipnotis Penonton PKB 2026.

IKUTI BERITABALI.COM DI GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Duta Kabupaten Badung berhasil mencuri perhatian ribuan penonton saat tampil dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Provinsi Bali (Art Center) Denpasar, Selasa (7/7/2026) sore. Penampilan Sanggar Tari Rare Cili Kedonganan melalui garapan Barong Landung bertajuk "Les Kelanguan" mendapat sambutan hangat berkat perpaduan seni pertunjukan, tradisi, dan nilai-nilai spiritual yang sarat makna.

Sanggar Tari Rare Cili yang berasal dari Lingkungan Ketapang, Kelurahan Kedonganan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, menampilkan karya yang tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat Bali maupun wisatawan yang hadir menyaksikan rangkaian PKB.

Pementasan diawali dengan tabuh petegak bebarongan berjudul "Jala Maasin" yang mengangkat filosofi air sebagai sumber kehidupan. Garapan ini menggambarkan perjalanan air dari pegunungan menuju laut hingga bertemunya air tawar dan air asin yang menghasilkan air payau sebagai simbol keseimbangan dan keharmonisan alam.

Dalam ajaran Hindu, perpaduan tersebut memiliki nilai sakral karena menjadi bagian penting dalam pelaksanaan berbagai upacara yadnya. Pesan itu menjadi pembuka yang mengantar penonton memasuki cerita utama "Les Kelanguan".

Garapan utama mengangkat tradisi Mebuug Buugan, ritual khas masyarakat Desa Adat Kedonganan yang dilaksanakan setiap Manis Nyepi. Tradisi bermain lumpur tersebut dimaknai sebagai perjalanan spiritual manusia menuju Atma Kerthi Jiwa Sidha Parisudha.

Cerita diawali dari keceriaan anak-anak yang bermain lumpur merah di kawasan pesisir sebagai lambang sifat dasar manusia yang masih dipenuhi berbagai kekotoran batin. Alur kemudian berkembang menjadi konflik yang menggambarkan pertarungan ego dan gejolak dalam diri manusia.

Perjalanan spiritual semakin kuat ketika hadir sosok dukuh yang menanamkan nilai-nilai dharma sebagai pedoman hidup. Tahap penyucian kemudian digambarkan melalui prosesi Sesuhunan yang lunga ngintar sebagai respons terhadap mrana desa di kawasan pesisir barat.

Kemunculan tokoh Legong, Telek, hingga manifestasi sakral Ida Jro Wayan dan Ida Jro Luh dalam wujud Barong Landung mempertegas pesan bahwa manusia akan mencapai keseimbangan hidup apabila mampu menyucikan pikiran, perkataan, dan perbuatan hingga mencapai jiwa yang Sidha Parisudha.

Koordinator Nglawang Barong Landung Duta Kabupaten Badung, Agus Suanjaya, menjelaskan bahwa konsep "Les Kelanguan" lahir dari inspirasi kawasan hutan mangrove di pesisir timur Kedonganan. Garapan tersebut sekaligus menjadi sarana memperkenalkan tradisi-tradisi yang masih hidup di Desa Adat Kedonganan kepada masyarakat luas.

“Kami mengangkat tradisi yang ada di Desa Adat Kedonganan, terutama Mebuug Buugan yang dilaksanakan setiap Manis Nyepi. Tradisi itu kami hadirkan ke dalam konsep garapan agar masyarakat semakin mengenal warisan budaya yang kami miliki. Harapan kami, desa adat maupun duta kabupaten lainnya juga terdorong mengangkat tradisi yang dimiliki daerahnya masing-masing,” ujar Agus Suanjaya.

Ia mengungkapkan proses kreatif pertunjukan dimulai sejak 11 Februari 2026 dan berlangsung selama sekitar empat setengah bulan. Sebanyak 108 seniman terlibat dalam proses latihan hingga akhirnya dipercaya mewakili Kabupaten Badung pada panggung PKB XLVIII Tahun 2026.

Sementara itu, penari pemeran tokoh kakek, Agus Suwira, mengaku bangga dapat menjadi bagian dari perhelatan seni budaya terbesar di Pulau Dewata tersebut.

“Pesta Kesenian Bali memberikan pengalaman yang sangat berkesan. Semoga kegiatan ini terus berkembang sehingga seni dan budaya Bali tetap lestari dan semakin dicintai oleh generasi muda,” kata Agus Suwira.

Dalam pementasan tersebut, Agus Suwira memerankan sosok kakek yang menjadi panutan keluarga dengan memberikan tuntunan kepada cucu-cucunya agar tumbuh menjadi pribadi berbudi pekerti luhur, mampu menjaga nilai-nilai budaya, serta menjadi kebanggaan masyarakat.

Tokoh nenek yang diperankan Gung Gita turut memperkuat alur cerita sebagai simbol kasih sayang, kebijaksanaan, dan keteladanan dalam keluarga. Kehadiran kedua tokoh tersebut menjadi representasi pentingnya peran orang tua dalam menanamkan nilai-nilai dharma, menjaga keharmonisan kehidupan, sekaligus mewariskan tradisi kepada generasi penerus.

Penampilan Duta Kabupaten Badung ditutup dengan tepuk tangan panjang dari penonton yang memenuhi Kalangan Angsoka. Garapan "Les Kelanguan" berhasil menghadirkan pertunjukan yang memadukan estetika seni, pesan moral, nilai spiritual, serta kekayaan tradisi Desa Adat Kedonganan sebagai identitas budaya Bali yang terus hidup dan diwariskan lintas generasi.

Beritabali.com

Berlangganan BeritaBali
untuk membaca cerita lengkapnya

Lanjutkan

Editor: Redaksi

Reporter: Diskominfo Badung



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami